Kekhawatiran Perombakan Besar Warnai Internal Pemerintahan Trump Jelang Pemilu Sela AS
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Dua minggu menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat pada 3 November mendatang, internal pemerintahan Presiden Donald Trump diliputi kekhawatiran akan perombakan personel besar-besaran jika Partai Republik kehilangan mayoritas di Kongres. Mengutip CNN pada Rabu (21/10/2026), sejumlah pejabat dan penasihat meyakini bahwa kekalahan telak dalam pemilu sela tersebut dapat memicu aksi saling tuding serta pergantian posisi di berbagai elemen pemerintahan.
Menurut keterangan para pejabat yang mengetahui dinamika tersebut, Gedung Putih saat ini menjadi pusat pertikaian dan kebocoran informasi internal. Beberapa sekutu dekat presiden bahkan menggambarkan situasi perebutan kekuasaan yang terjadi sebagai kondisi yang sangat brutal dibandingkan era modern sebelumnya. Ketegangan ini turut menyeret nama-nama ajudan terdekat Trump seperti kepala staf Susie Wiles, serta penasihat politik James Blair dan Chris LaCivita, yang menghadapi liputan negatif dari saingan internal mereka.
Perselisihan di lingkaran dalam Trump telah beberapa kali muncul ke ranah publik dalam dua pekan terakhir. Presiden baru saja memecat Kimberly Guilfoyle, duta besar AS untuk Yunani, setelah terungkap ia meminta uang senilai US$ 100.000 dari seorang donatur Partai Republik untuk melunasi tagihan kartu kreditnya. Selain itu, Trump memerintahkan penyelidikan atas perselisihan antara Alina Habba Mildon dan Ric Grenell terkait dugaan salah alokasi dana jutaan dolar yang seharusnya ditujukan bagi Kennedy Center. Sekretaris pers Katie Zacharia juga diberhentikan hanya lima hari setelah menjabat karena rentetan kesalahan langkah.
Susie Wiles sendiri tengah menjadi sorotan tajam menyusul rumor pengunduran dirinya. Ia dilaporkan tidak hadir saat Trump menawarkan jabatan sekretaris pers kepada Zacharia. Wiles juga baru melewati masa perawatan kanker dan masa jabatannya mendekati batas dua tahun, periode ketika banyak ajudan top biasanya memilih mundur. Namun, seorang pejabat senior administrasi menegaskan bahwa Trump tidak berencana mengganti Wiles.
Nasib para menteri kabinet juga menjadi spekulasi luas pascapemilu. Menteri Pertahanan Pete Hegseth disebut-sebut berpotensi menjadi target awal investigasi kongres jika Partai Demokrat mengambil alih kendali. Sementara itu, Menteri Energi Chris Wright dispekulasikan mungkin meninggalkan jabatan untuk kembali ke sektor energi. Juru Bicara Pentagon Sean Parnell dan perwakilan Departemen Energi langsung membantah rumor kepergian kedua pejabat tersebut.
Kekhawatiran serupa dialami Jay Bhattacharya, kepala Institut Kesehatan Nasional (NIH). Menurut sekutunya, ia berisiko tinggi dipecat setelah berselisih dengan kepala anggaran Gedung Putih Russ Vought mengenai kontrol pengeluaran hibah agensinya.
Juru Bicara Gedung Putih Davis Ingle menepis seluruh spekulasi mengenai kekacauan internal tersebut. Ia menyatakan bahwa fokus utama presiden adalah mempertahankan mayoritas Partai Republik di Kongres melalui kampanye keliling negeri. Di sisi lain, Trump secara tertutup mengakui tantangan berat yang dihadapi partainya, meskipun tim kampanyenya masih meyakini peluang untuk mempertahankan kursi di Senat. Trump mengeluhkan tren historis kekalahan partai penguasa dalam pemilu sela dan menekankan pentingnya partisipasi pemilih setianya agar Partai Republik bisa meraih kemenangan.


