Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Jejak Kuno Spirulina: Dari Kue Aztec hingga Standar Nutrisi Antariksa

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara Nusantara
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Jejak Kuno Spirulina: Dari Kue Aztec hingga Standar Nutrisi Antariksa
BAGIKAN:

Mikroalga bersel tunggal berwarna hijau-biru ini telah melampaui label superfood modern untuk mengungkap peran krusialnya sebagai sumber pangan utama peradaban kuno. Spirulina, yang secara biologis diklasifikasikan sebagai sianobakteri genus Arthrospira (khususnya Arthrospira platensis dan Arthrospira maxima), bukan sekadar produk suplemen kontemporer, melainkan organisme dengan jejak evolusi yang telah dimanfaatkan manusia sejak abad ke-16.

Adaptasi Alkalin dan Warisan Pangan Kuno

Kemampuan spirulina berkembang biak secara masif di danau tropis dan subtropis dengan kadar garam tinggi serta pH alkalin menjadikannya unik secara ekologis. Lingkungan yang haram bagi sebagian besar mikroorganisme lain ini justru menjadi habitat ideal bagi spirulina, sebuah fakta yang tercatat dalam dua catatan sejarah pangan yang berbeda. Di Meksiko, masyarakat Aztek memanen spirulina dari Danau Texcoco untuk diolah menjadi Tecuitlatl, yaitu kue hijau kekuningan yang menjadi asupan protein vital bagi prajurit. Sementara itu, di Afrika Tengah, suku Kanembu di wilayah Danau Chad mengeringkan mikroalga ini di atas pasir hingga keras, menghasilkan makanan bernama Dihé yang dikonsumsi bersama sup atau sayuran.

  • Pemanfaatan sejarah tercatat di peradaban Aztek (abad ke-16) dan suku Kanembu di Danau Chad.
  • Identifikasi komposisi nutrisi modern dipicu oleh penelitian ahli botani Prancis, Jean Leonard, pada 1960-an.

Validasi Modern dan Potensi Luar Angkasa

Pergeseran persepsi spirulina dari pangan lokal menjadi komoditas global ditandai oleh temuan ilmiah pada dekade 1960-an. Penelitian Jean Leonard mengungkap kandungan protein tinggi yang mencapai 60–70% dari berat kering, serta kehadiran asam amino esensial, zat besi, beta-karoten, dan antioksidan fikosianin. Temuan ini memicu intervensi internasional pada 1970-an, di mana FAO dan WHO mempromosikan budidaya spirulina sebagai solusi strategis untuk mengatasi kelaparan dan malnutrisi global.

Pengakuan atas potensi nutrisi spirulina berlanjut hingga ke sektor teknologi antariksa. Menurut sitasi dari ResearchGate dan sumber terkait, NASA dan European Space Agency (ESA) telah mengevaluasi spirulina sebagai tanaman potensial untuk ditanam di stasiun luar angkasa, dengan tujuan mendukung kebutuhan nutrisi para astronaut dalam misi jangka panjang.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸