Karhutla Melanda Lima Kawasan Gunung di Jatim, Tim Gabungan Padamkan Api Secara Manual

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghanguskan lima kawasan gunung di Jawa Timur sejak Jumat (16/10) malam hingga Sabtu (17/10) pagi. Titik api menyebar luas dari area Gunung Bromo, Gunung Sigiran, lereng Gunung Arjuno, kawasan Arjuno-Welirang, hingga Tamankursi di Kabupaten Situbondo. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno mengonfirmasi personel gabungan langsung diterjunkan ke seluruh titik lokasi untuk memadamkan kobaran api yang belum sepenuhnya padam.
Api bergerak cepat melintasi batas administrasi kabupaten. Berdasarkan data BPBD, per Jumat malam kebakaran di kawasan Gunung Bromo saja sudah menghanguskan tiga titik yang membentang di dua kabupaten berbeda. Titik api membakar area Bukit Kembang di Desa Pucuk Sari dan kawasan Gunung Ringgit di Desa Sapihkerep, Kabupaten Probolinggo. Sebaran api di Bromo juga mencapai Blok Kesiman area Lemah Pasar, Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. "Personel BPBD Provinsi Jatim bersama tim gabungan melanjutkan giat pemantauan api di sekitar lokasi," ujar Satriyo, Sabtu (17/10).
Medan pegunungan memaksa petugas bekerja ekstra keras tanpa bantuan alat berat. "Tim gabungan terus memantau perkembangan titik api dan melakukan pemadaman secara manual di area pegunungan yang masih dapat dijangkau oleh jalur darat," kata Satriyo menjelaskan taktik lapangan mereka. Keterbatasan akses ini membuat kecepatan pergerakan personel sangat bergantung pada kondisi fisik dan penguasaan jalur pendakian di masing-masing wilayah.
Di Kabupaten Mojokerto, kebakaran melanda kawasan Gunung Sigiran yang terletak di RKW 06, Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang. Petugas Tahura bersama BPBD Mojokerto dan Provinsi mengambil langkah pencegahan dan pemadaman langsung. "Tim gabungan di Mojokerto saat ini berupaya mencegah api merambat lebih luas dengan bergotong royong melakukan pembuatan ilaran dan sekat bakar," ucap Satriyo. Taktik sekat bakar menjadi pilihan logis ketika sumber air terbatas di ketinggian.
Kondisi serupa terjadi di lereng Gunung Arjuno wilayah Kabupaten Malang. Titik api terpantau berkobar hebat di area Puncak Budug Asu, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari. Tim gabungan dan personel BPBD Kabupaten Situbondo langsung bergerak menembus jalur pendakian untuk memadamkan api di area tersebut. "Personel BPBD Provinsi Jatim bersama Personil BPBD Kabupaten melakukan assessment dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Tim Gabungan melakukan giat pemadaman api di lokasi," tegasnya.
Sebaran karhutla tidak berhenti di situ. Api juga dilaporkan ditemukan di area Gunung Ringgit, di kawasan Arjuno-Welirang, yang masuk wilayah Kabupaten Pasuruan. Satriyo menyebut Tim Reaksi Cepat BPBD Jawa Timur telah dikerahkan menembus kawasan hutan. "BPBD Provinsi Jatim memberangkatkan personel TRC guna melakukan percepatan penanganan hutan dan lahan dan melakukan assessment serta berkoordinasi dengan pihak terkait," ucapnya. Selain deretan gunung tersebut, kebakaran lahan turut menghanguskan area Tamankursi di Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo. Penanganan di wilayah konservasi ini membutuhkan koordinasi lintas instansi secara khusus. "Personel BPBD Provinsi Jawa Timur bersama tim BPBD Situbondo telah turun melakukan asesmen dan berkoordinasi erat dengan pihak BKSDA untuk memantau kondisi kebakaran di lokasi tersebut," ucap Satriyo menutup keterangannya.
Analisis Redaksi
Penyebaran titik api di lima kawasan gunung secara bersamaan dalam rentang waktu kurang dari 24 jam menunjukkan anomali cuaca kering yang ekstrem di Jawa Timur. Fakta bahwa pemadaman harus dilakukan secara manual karena keterbatasan jalur darat memperlihatkan kerentanan infrastruktur mitigasi bencana kita di kawasan konservasi pegunungan. Pembuatan ilaran dan sekat bakar di Mojokerto adalah taktik bertahan, bukan strategi ofensif mematikan api secara tuntas.
Pelibatan berbagai satuan mulai dari BPBD provinsi, BPBD kabupaten, petugas Tahura, TRC, hingga BKSDA mengindikasikan kompleksitas tata kelola hutan di Jawa Timur. Setiap kawasan memiliki otoritas pengelola berbeda. Tanpa komando tunggal yang solid di lapangan, potensi tumpang tindih kewenangan atau justru kekosongan penanganan di titik-titik rawan sangat terbuka lebar. Koordinasi yang disebut Satriyo harus benar-benar teruji di tengah kepulan asap, bukan sekadar prosedur administratif.
Langkah selanjutnya yang logis adalah evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan peralatan pemadaman udara jika api terus merambat ke zona yang tak terjangkau jalur darat. Publik di kaki gunung perlu mewaspadai penurunan kualitas udara dan ancaman longsor susulan akibat hilangnya vegetasi penahan tanah pasca-kebakaran. Musim kemarau panjang menuntut respons lebih agresif dari pemerintah daerah sebelum karhutla ini berubah menjadi krisis ekologis permanen.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ditlantas Polda Metro Buka Dua Gerai SIM Keliling di Jakarta pada Minggu

Polda Metro Siagakan Lima Kantong Parkir Besar untuk Jaga Ketertiban Apel Akbar Palestina di Monas

Kapolda Metro Tekankan Penataan Lingkungan sebagai Kunci Akar Permasalahan Narkoba di Kampung Muara Bahari
