⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Wapres Gibran Beri Ruang Di Istana Buat Komunitas Disabilitas, Angkie Minta Ubah Narasi Belas Kasihan

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Wapres Gibran Beri Ruang Di Istana Buat Komunitas Disabilitas, Angkie Minta Ubah Narasi Belas Kasihan
BAGIKAN:

Audiensi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan Komunitas Aku Menari di Istana Wakil Presiden menjadi titik balik penting bagi wacana inklusivitas di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Gibran secara langsung menawarkan auditorium di lingkungan istana sebagai tempat latihan bagi komunitas anak-anak penyandang disabilitas ini. Penawaran tersebut bukan sekadar gestur simpati, melainkan bentuk dukungan konkret terhadap kegiatan seni yang memberi ruang ekspresi bagi mereka. Hal ini direspons oleh aktivis isu disabilitas Angkie Yudistia dengan ajakan tegas untuk mengubah paradigma publik dari belas kasihan menjadi penghormatan terhadap kemampuan.

<"strong>Perubahan paradigma inilah yang menjadi sorotan utama. "Sudah saatnya kita mengubah cara pandang, dari belas kasihan menuju penghormatan, dari keterbatasan menuju kesempatan, dan dari sekadar penerima manfaat menjadi subjek pembangunan yang berdaya," kata Angkie mengutip Antara, Kamis (15/10). Pernyataan ini lahir sebagai respons langsung atas audiensi yang terjadi. Angkie menekankan bahwa anak-anak penyandang disabilitas tidak hadir untuk dikasihani, melainkan untuk menunjukkan bahwa kemampuan tidak pernah bisa diukur hanya dari kondisi fisik maupun ragam disabilitas seseorang.

Di balik simpati Wapres, ada urgensi untuk memperluas partisipasi di tingkat daerah. Angkie berharap pertemuan di Istana itu menjadi awal dari semakin luasnya ruang partisipasi bagi komunitas disabilitas di berbagai daerah. Menurut Angkie, kesempatan untuk berkarya dan berpartisipasi perlu terus diperluas agar penyandang disabilitas dapat menunjukkan potensi serta berkontribusi dalam pembangunan. Ia menilai penyandang disabilitas memiliki kreativitas, talenta, aspirasi, serta kemampuan untuk memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat. Ini bukan sekadar soal akses, tetapi soal pengakuan akan kapabilitas.

Peran seni dalam konteks ini bukan sekadar hobi, melainkan alat untuk pelestarian budaya dan pemberdayaan. Angkie menegaskan bahwa anak-anak penyandang disabilitas dapat berperan dalam pelestarian budaya melalui karya seni yang mereka hasilkan. "Mereka bukan sekadar bagian dari cerita tentang inklusi. Mereka adalah pencipta karya, penjaga budaya, sekaligus bagian dari masa depan Indonesia," kata dia. Pernyataan ini menggeser posisi mereka dari objek kebijakan menjadi aktor aktif dalam pembentukan identitas bangsa.

Audiensi ini menandai pergeseran diskursus dalam kebijakan publik di bawah kepemimpinan Wapres. Dengan menyediakan ruang fisik di auditorium Istana, negara sedang mengirim sinyal bahwa seni disabilitas adalah aset kultural yang layak didanai dan didukung. Sinyal ini diharapkan memicu efek domino ke pemerintah daerah untuk tidak lagi memandang disabilitas semata sebagai isu sosial yang membutuhkan belas kasihan, melainkan sebagai modal sumber daya manusia yang perlu didorong potensinya.

Analisis Redaksi

Tawaran Wapres Gibran untuk menyediakan auditorium Istana bukan hanya gesture kelembagaan, melainkan validasi tertinggi terhadap seni inklusif. Ketika negara memberikan ruang resmi di pusat kekuasaan, implikasinya adalah legitimasi bagi komunitas-komunitas serupa di daerah. Namun, tantangan sesungguhnya bukan pada ketersediaan ruang, melainkan pada kesiapan ekosistem seni dan pendidikan untuk tidak lagi memperlakukan disabilitas sebagai subjek belas kasihan. Tanpa perubahan struktural di daerah, auditorium Istana bisa menjadi oase yang terisolasi.

Pergeseran narasi dari "penerima manfaat" ke "subjek pembangunan" yang digaungkan Angkie Yudistia memerlukan aksi nyata di tingkat akar rumput. Artinya, perlu ada mekanisme yang memastikan anak-anak disabilitas tidak hanya bisa berkarya di panggung besar, tetapi juga memiliki akses untuk menghidupi karya tersebut. Jika tidak, risiko yang muncul adalah elitisasi seni disabilitas, di mana hanya mereka yang terhubung dengan elit yang mendapat panggung, sementara mayoritas masih terjebak dalam stigma keterbatasan.

Langkah selanjutnya yang perlu diwaspadai adalah konsistensi kebijakan. Apakah tawaran ruang ini akan diikuti dengan kurikulum pendidikan seni yang inklusif atau program hibah yang transparan? Tanpa dukungan sistemik, niat baik Wapres bisa tereduksi menjadi sekadar acara seremonial. Publik perlu terus mengawasi bagaimana alokasi sumber daya ini diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup dan pengakuan sosial bagi penyandang disabilitas secara luas.

Meow! Tanya Nesi!
😸