BPGMN Kembangkan Prediksi Karhutla 3 Hari Dini Fokus di Lahan Gambut

Lingkungan
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

BPGMN Kembangkan Prediksi Karhutla 3 Hari Dini Fokus di Lahan Gambut
BAGIKAN:

Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) tengah menginisiasi pengembangan teknologi prediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mampu memberikan peringatan dini hingga tiga hari sebelum kejadian. Inisiatif strategis ini dirancang untuk mendeteksi potensi api di lahan gambut secara lebih akurat, sehingga upaya mitigasi dapat dilakukan jauh sebelum bara membesar menjadi ancaman fatal bagi ekologi dan masyarakat. Wakil Kepala BPGMN, Sriyanto, menegaskan pentingnya lompatan dari sekadar pemantauan kondisi lapangan menjadi kemampuan proyeksionis berbasis data ilmiah yang terintegrasi.

"Kalau bisa, tiga hari sebelumnya. Saya yakin teknologi yang bisa memprediksi terjadinya kebakaran di seluruh Indonesia tiga hari sebelumnya belum ada. Namun, setidaknya teknologi yang sudah dikembangkan oleh teman-teman itu bisa kita manfaatkan," ujar Sriyanto di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (15/10). Pernyataan ini mengindikasikan adanya kerincisan teknis yang dibutuhkan, di mana sistem pemantauan yang telah dibangun oleh berbagai pihak, termasuk kepolisian daerah, akan diolah menjadi model peramalan yang presisi. Indikator krusial yang dipantau adalah tinggi muka air gambut; jika permukaan air turun di bawah 40 sentimeter, protokol penanganan risiko kebakaran harus segera diaktifkan.

Masalah akar penyebab kekeringan gambut, menurut Kepala BPGMN Setyawan Pudyatmoko, terletak pada perubahan kondisi alami lahan dari basah menjadi kering akibat intervensi infrastruktur kanal. "Kita tahu sumber kekeringan itu adalah kanal. Gambut itu memiliki kubah. Sering kali kubah yang menjadi tempat penimbunan air dibuat kanal, padahal itu adalah menara airnya. Sehingga, ketika musim kemarau seperti saat ini, air dari kubah sudah habis," jelas Setyawan dalam kesempatan yang sama. Kondisi ini membuat kawasan gambut sangat rentan terhadap api saat musim kemarau, sehingga diperlukan upaya fisik berupa pemetaan kanal dan pembangunan sekat untuk menahan pengeluaran air secara alami.

Untuk memperkokoh langkah pencegahan, BPGMN juga merancang strategi adaptasi sosial-ekonomi dengan melibatkan masyarakat dalam tata kelola kawasan gambut melalui budidaya komoditas yang tidak bergantung pada pasokan air besar. Beberapa tanaman yang diidentifikasi potensial antara lain sagu, jelutung, dan nanas. Pendekatan ini bertujuan agar pencegahan karhutla tidak justru mematikan penghidupan warga setempat. Selain itu, pemodelan ilmiah akan digunakan untuk memperkirakan lokasi dan waktu kekeringan, didukung oleh kolaborasi lintas disiplin ahli dari bidang hidrologi, revegetasi, hingga ekonomi sosial untuk memastikan respons yang komprehensif.

Dampak dari rencana ini bagi publik cukup signifikan, terutama dalam aspek perlindungan nyawa dan aset. Dengan kemampuan memproyeksikan potensi kebakaran, pemerintah daerah dapat menyiapkan skema evakuasi yang lebih terstruktur, menentukan titik-titik aman, dan mengaktifkan mekanisme perlindungan sebelum asap pekat atau kobaran api mencapai pemukiman. Mitigasi awal ini diharapkan dapat mengurangi biaya sosial dan kesehatan yang selama ini menjadi beban utama akibat kabut asap. Efektivitas sistem ini akan bergantung pada ketepatan data hidrologis dan kecepatan respons lapangan yang didukung oleh pemetaan sekat kanal di seluruh wilayah rawan.

Analisis Redaksi

Langkah BPGMN menggeser paradigma penanganan karhutla dari reaktif menjadi prediktif adalah sebuah koreksi struktural yang sangat penting. Selama bertahun-tahun, respons terhadap kebakaran gambut selalu bersifat "pemadaman" setelah api berkobar, yang seringkali terlambat dan tidak efektif. Namun, prediksi tiga hari sebelumnya membuka jendela krusial untuk intervensi berbasis data. Peringatan dini ini memungkinkan pergeseran sumber daya dari posko pemadaman menjadi posko pencegahan, seperti penyediaan pasokan air atau penghijauan ulang yang tepat waktu.

Yang perlu diwaspadai adalah kaitan teknis antara infrastruktur kanal dan model prediksi. Setyawan telah mengidentifikasi bahwa pembangunan kanal di area kubah gambut adalah faktor pemicu utama kekeringan. Jika prediksi ini dikaitkan dengan peta kanal, maka mitigasi tidak hanya soal memadamkan api, tetapi juga soal menghentikan aliran air keluar secara paksa melalui sekat kanal. Keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada pemetaan detail kanal di seluruh Indonesia, sebuah tugas logistik yang masif. Jika peta ini tidak akurat, prediksi tiga hari sebelumnya bisa menjadi sia-sia karena intervensi fisik di lapangan belum siap.

Secara logis, langkah selanjutnya harus melibatkan integrasi data dari pemodelan ilmiah dengan skema ekonomi lokal. Pelibatan komoditas seperti sagu dan nanas menunjukkan bahwa pemerintah mencoba menyeimbangkan ekologi dan mata pencaharian. Namun, tanpa pengawasan ketat terhadap kelompok ahli dan implementasi di lapangan, ada risiko proyek ini berhenti di tahap perencanaan teknis semata. Kunci keberhasilannya terletak pada satu hal: apakah prediksi tiga hari sebelumnya dapat dioperasionalkan menjadi perintah evakuasi dan intervensi lapangan yang nyata, bukan sekadar data di layar pemantauan.

Meow! Tanya Nesi!
😸