Candi Borobudur Dipugar Ulang Setelah 115 Tahun, Renovasi Target Rampung 24 Oktober

Puncak Candi Borobudur atau Mahastupa resmi memasuki tahap pemugaran kedua dalam sejarah konservasi modernnya, menandai intervensi pertama sejak era kolonial 115 tahun lalu. Proyek ini diinisiasi Kementerian Kebudayaan untuk mengembalikan kekuatan struktural bagian puncak yang mengalami degradasi serius akibat faktor waktu dan material bekas pemugaran lama. Pemberitaan ini relevan dengan upaya global dalam menjaga warisan dunia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar estetika, melainkan darurat teknis. Di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, pada Rabu (14/10) malam, ia menjelaskan bahwa pemugaran terakhir dilakukan oleh Theodoor van Erp antara 1907 hingga 1911. "Jadi ini adalah pemugaran yang kedua untuk Mahastupa setelah dilakukan pemugaran di era kolonial dulu," ujar Fadli. Pernyataan ini mengonfirmasi bahwa struktur candi telah dibiarkan tanpa intervensi besar selama lebih dari satu abad.
Hasil kajian lapangan menemukan masalah krusial: pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada struktur batuan penyusun. Lebih memprihatinkan, penggunaan semen pada pemugaran lama meninggalkan endapan kapur yang memicu proses penggaraman. Kondisi ini menyebabkan batu melunak dan mengancam keutuhan bangunan cagar budaya. Fenomena serupa terlihat pada relief candi yang tampak memutih akibat akumulasi garam.
Pemerintah menerapkan protokol konservasi ketat dengan teknologi laser untuk membersihkan endapan garam dari pori-pori batu. Proses ini dilakukan secara manual dan sangat hati-hati agar tidak merusak material asli. "Sekarang sedang kita treatment di atas dengan menggunakan laser, sangat manual," kata Fadli. Target penyelesaian pekerjaan yang telah berjalan dua minggu ini ditetapkan pada 24 Oktober mendatang. Setelah puncak aman, fokus akan beralih ke perawatan relief, yang diprediksi baru dimulai awal tahun depan.
Isu pemasangan chattra di puncak Mahastupa secara eksplisit tidak termasuk dalam cakupan pemugaran saat ini. Fadli mengakui adanya aspirasi dari umat Buddha, namun keputusanfinal masih dalam proses kajian. Pemerintah tengah melakukan heritage impact assessment bersama UNESCO. "Nanti kita akan diskusi lagi karena masih ada proses yang sedang kita lakukan dengan UNESCO ya, heritage impact assessment-nya sedang di dalam proses. Tapi kita sudah laporkan semua perkembangannya," pungkas Fadli.
Analisis Redaksi
Pemugaran ini menandai pergeseran paradigma konservasi dari sekadar 'menahan runtuhan' menjadi 'restorasi struktural berbasis sains'. Temuan tentang kegagalan material semen era kolonial merupakan pelajaran berharga bagi proyek restorasi lainnya di Indonesia. Keterlambatan 115 tahun tanpa intervensi besar memungkinkan degradasi kumulatif yang kini menuntut teknologi presisi tinggi seperti laser cleaning. Ini menunjukkan bahwa pemeliharaan berkala lebih krusial daripada pemugaran reaktif skala besar.
Aspek diplomatik dengan UNESCO menjadi penentu kecepatan penyelesaian. Sambil menunggu hasil heritage impact assessment terkait pemasangan chattra, fokus teknis tetap pada stabilisasi struktur. Potensi risiko terbesar saat ini adalah beban angin dan getaran seismik pada struktur yang masih dalam kondisi lemah sebelum selesai diperkuat. Publik perlu memahami bahwa 'rampung' pada 24 Oktober merujuk pada tahap konservasi puncak, bukan finalisasi total candi yang masih menyisakan kerja pada relief.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ditlantas Polda Metro Buka Dua Gerai SIM Keliling di Jakarta pada Minggu

Polda Metro Siagakan Lima Kantong Parkir Besar untuk Jaga Ketertiban Apel Akbar Palestina di Monas

Kapolda Metro Tekankan Penataan Lingkungan sebagai Kunci Akar Permasalahan Narkoba di Kampung Muara Bahari
