Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BNPB Jelaskan Fenomena Lubang Api Bawah Tanah di Palangkaraya: Bahaya Tersembunyi

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

BNPB Jelaskan Fenomena Lubang Api Bawah Tanah di Palangkaraya: Bahaya Tersembunyi
BAGIKAN:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa fenomena lubang api bawah tanah yang viral di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, merupakan bentuk ground fire atau api bawah permukaan yang berbahaya.

Video yang beredar luas di media sosial menunjukkan lanskap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengerikan. Tampak lubang api menganga berwarna merah menyala di tengah lahan yang terbakar, berdampingan dengan petugas yang berjuang memadamkan bara api di permukaan.

"Fenomena lubang api bawah tanah pada kebakaran lahan gambut di Kalimantan merupakan bentuk ground fire atau api bawah permukaan," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, saat dihubungi pada Kamis (15/10). Penjelasan teknis dari ahli kebencanaan ini memberikan kejelasan atas anomali visual yang menakutkan tersebut.

Berton menerangkan bahwa lahan gambut yang terbakar tersusun atas tumpukan material organik tebal yang kaya akan gas metana. Ketika kebakaran terjadi, area permukaan mungkin tampak sudah padam, namun bara api di bawah tanah masih menyala dalam suhu tinggi. "Saat lapisan organik di dalam tanah habis terbakar, struktur tanah di atasnya melesak dan membentuk rongga atau lubang yang mengeluarkan asap serta pijar api," ucap dia.

Yang membuat situasi ini kompleks adalah sifatnya yang tersembunyi. "Sifatnya yang tersembunyi dan minim radiasi panas tinggi di permukaan membuat api bawah tanah ini sulit terdeteksi oleh citra satelit pemantau hotspot biasa," sambung Berton. Artinya, pemantauan konvensional bisa saja gagal menangkap keberadaan kebakaran aktif di kedalaman gambut.

Untuk mengatasi hal ini, upaya pemadaman dilakukan lewat pembasahan total (ground soaking) dengan teknik penyuntikan air (water injection) menembus kedalaman gambut menggunakan pipa bertekanan tinggi. Bila memungkinkan, langkah ini dikombinasikan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG dan TNI untuk memicu hujan buatan di titik-titik yang sulit dijangkau satgas darat. Selain itu, pengerjaan sumur bor serta penutupan sekat kanal juga terus dioptimalkan guna menjaga tinggi muka air tanah tetap basah. "Membatasi akses masyarakat ke lokasi terdampak jadi penting karena struktur tanah yang tersisa sangat rapuh dan rawan ambles, sehingga berisiko membuat warga terperosok ke dalam rongga bara panas," ujarnya.

Analisis Redaksi

Fenomena ground fire ini menyoroti keterbatasan teknologi pemantauan satelit dalam mendeteksi kebakaran gambut yang telah masuk ke fase bawah permukaan. Kesulitan deteksi ini menuntut pendekatan respons yang lebih granular dan berbasis data lapangan, bukan sekadar mengandalkan citra hotspot yang hanya menangkap panas permukaan. Strategi water injection dan OMC menjadi kunci, namun efektivitasnya sangat bergantung pada koordinasi antar-agensi dan aksesibilitas medan yang sering kali dilanda kabut asap tebal.

Risiko keselamatan manusia menjadi isu krusial di sini. Struktur tanah gambut yang telah terbakar tidak lagi memiliki integritas mekanis yang kuat. Lubang-lubang api yang terbentuk bukan hanya sumber panas, tetapi juga jebakan mematikan bagi siapa pun yang melintas di atasnya. Larangan keras bagi masyarakat untuk mendekati zona merah bukan sekadar protokoler, melainkan upaya preventif untuk mencegah korban jiwa akibat tanah ambles ke dalam rongga bara. Masyarakat perlu diberikan edukasi visual yang jelas mengenai tanda-tanda tanah rapuh pasca-karhutla.

Langkah selanjutnya harus berfokus pada monitor-ing pasca-pemadaman. Memastikan api benar-benar mati di kedalaman gambut memerlukan verifikasi berulang menggunakan sensor termal tanah atau metode manual yang hati-hati. Tanpa kepastian total bahwa bara telah padam, potensi api menyala kembali (re-ignition) saat musim kemarau berikutnya tetap mengancam. Ini adalah peringatan keras bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan infrastruktur hidran dan sumur bor di wilayah rawan gambut.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸