Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Novita, Orang Utan 4 Tahun di Kalteng, Kehilangan Empat Jari Kaki Akibat Karhutla

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Novita, Orang Utan 4 Tahun di Kalteng, Kehilangan Empat Jari Kaki Akibat Karhutla
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Empat ruas jari kaki Novita, seekor orang utan berusia sekitar empat tahun, tak terselamatkan dari kobaran api yang mengepung hutan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
  • Meskipun berhasil dievakuasi oleh tim gabungan, Novita kini menjalani perawatan intensif dengan luka bakar serius pada kedua tangan dan kakinya.
  • Pemulihan Novita berlangsung di Pusat Rehabilitasi Orang Utan BOS Nyaru Menteng di tengah kondisi jaringan yang mengalami kematian akibat luka bakar.

Empat ruas jari kaki Novita, seekor orang utan berusia sekitar empat tahun, tak terselamatkan dari kobaran api yang mengepung hutan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Satwa yang ditemukan di atas pohon di wilayah Katune, Kelurahan Banturung, Kecamatan Bukit Batu, ini harus kehilangan bagian tubuhnya sebagai tanda bertahan hidup dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan tersebut. Meskipun berhasil dievakuasi oleh tim gabungan, Novita kini menjalani perawatan intensif dengan luka bakar serius pada kedua tangan dan kakinya.

Pemulihan Novita berlangsung di Pusat Rehabilitasi Orang Utan BOS Nyaru Menteng di tengah kondisi jaringan yang mengalami kematian akibat luka bakar. Tim medis mencatat perkembangan pada luka sang satwa, namun empat ruas jari kakinya dipastikan tidak dapat diselamatkan lagi. Menurut dokumentasi BOS Nyaru Menteng, Novita diduga melakukan self-mutilation atau melukai diri sendiri saat terjebak api di atas pohon sebagai upaya bertahan hidup. Perilaku ini, meski tragis, menunjukkan insting bertahan hidup yang kuat pada satwa muda tersebut di tengah kepungan asap dan api.

Novita ditemukan pada Sabtu, 26 September, setelah seorang saksi mata melaporkan keadaannya sehari sebelumnya pada 25 September. Satwa berberat sekitar 17 kilogram itu diselamatkan oleh tim Kementerian Kehutanan, BKSDA Kalimantan Tengah, BOSF Nyaru Menteng, dan TNI. "Di tengah kepungan api dan asap, satu individu orang utan kecil bertahan sendirian di atas pohon. Usianya baru sekitar 4 tahun, dengan berat sekitar 17 kilogram," ungkap pernyataan BKSDA Kalteng di Instagram resmi mereka pada Selasa, 28 September. "Dalam kondisi terluka, ia masih berusaha bertahan hingga membuat sarang di atas pohon," tambah keterangan tersebut, menggambarkan kegigihan satwa yang tidak bisa meminta tolong secara verbal.

Dampak karhutla di Kalteng tidak hanya menelan korban individu seperti Novita, tetapi juga mengancam populasi orang utan yang sedang direhabilitasi. Sebanyak 47 orangutan di Pusat Rehabilitasi BOS Nyaru Menteng dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat memburuknya kualitas udara. Koordinator Dokter Yayasan BOS Nyaru Menteng, drh Agus Fahroni, menyatakan pada Jumat, 9 Oktober, bahwa kondisi puluhan satwa itu masih tergolong ringan dan dapat ditangani. "Sekitar 47 orang utan memang teridentifikasi mengalami ISPA. Namun sejauh ini kondisinya masih relatif ringan dan dapat ditangani oleh tim medis kami," ujar Agus. "Kebutuhan air minum harus benar-benar tercukupi karena sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan mereka ketika terpapar asap dalam jangka waktu tertentu."

Untuk membantu pemulihan, tim medis memberikan obat herbal dan vitamin serta memastikan kecukupan cairan bagi satwa yang terpapar asap. Paparan karhutla menjadi ancaman serius bagi kesehatan pernapasan orangutan, khususnya yang masih dalam masa rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Kasus Novita dan puluhan satwa ISPA ini menggarisbawahi betapa rentannya populasi satwa liar terhadap bencana lingkungan yang memicu krisis kesehatan massal di kawasan rehabilitasi.

Analisis Redaksi

Kehilangan empat jari pada Novita bukan sekadar insiden medis, melainkan bukti konkret bagaimana karhutla mengubah perilaku dasar satwa liar. Tindakan self-mutilasi yang diduga dilakukan Novita adalah respons ekstrem terhadap stres akut dan ancaman kematian, menunjukkan bahwa api tidak hanya membakar habitat, tetapi juga merusak psikologis dan fisik satwa secara langsung. Ini menjadi peringatan keras bahwa dampak karhutla melampaui aspek lingkungan menjadi krisis kemanusiaan dan kelayakan hidup satwa.

Temuan 47 orangutan dengan ISPA di pusat rehabilitasi menunjukkan ada korelasi kuat antara kualitas udara dan kesehatan satwa yang sedang dipulihkan sebelum dilepasliarkan. Jika satwa tidak sehat akibat paparan asap, proses rehabilitasi mereka terganggu dan menurunkan kesiapan mereka untuk bertahan hidup di alam liar. Langkah logis berikutnya adalah memperkuat regulasi dan penegakan hukum terhadap pembakaran hutan, serta meningkatkan kapasitas medis di pusat rehabilitasi untuk merespons dampak kualitas udara secara lebih cepat dan efektif.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ