Menlhut Jumhur Inginkan Kurasi Bantuan Asing, Ratusan Petugas Sudah Dikerahkan

Tim Nasional Karhutla menolak sembarangan menerima bantuan asing karena pengerahan personel dalam negeri yang masif telah menggeser kebutuhan logistik. Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan pemerintah akan mengkurasi tawaran dari negara lain untuk memastikan kecocokan teknis di lapangan.
"Jadi signifikan atau tidak, daripada nanti salah-salah ini ya, lebih baik kita kurasi dulu biar pas," ungkap Jumhur di Jakarta, Selasa (13/10). Ia menyinggung bantuan pengerahan 50 petugas yang ditawarkan suatu negara. "Karena ada yang mengatakan memberi bantuan sampai 50 orang, ya kita udah puluhan ribu mengerahkan, tapi kita terima kasih ada keinginan membantu," ujarnya.
Tawaran bantuan asing tak hanya berupa personel. Jumhur menyebut adanya tawaran bantuan dalam bentuk water bombing. Namun, ia menyatakan bahwa operasi water bombing telah dikerahkan secara mandiri oleh Indonesia. "Kalau misalnya membantu apa, bantu water bombing, ya sekarang kita sudah berapa banyak mengerahkan itu juga gitu," kata Jumhur.
Pernyataan ini merespons tawaran resmi dari negara tetangga, Malaysia. Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi menyatakan pihaknya telah menawarkan bantuan untuk mengatasi karhutla Sumatera dan Kalimantan melalui sejumlah jalur diplomatik. Hal ini ia sampaikan dalam konferensi pers usai meluncurkan Bulan Kesiapsiagaan Nasional di Pusat Konvensi Ipoh, Minggu (11/10).
Zahid menyebut telah menawarkan bantuan ketika bertemu Presiden RI Prabowo Subianto dan perwakilan Wakil Presiden beberapa waktu lalu. Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Nasional Malaysia (Nadma) dan Kementerian Luar Negeri Malaysia juga telah mengirimkan surat kepada pihak terkait di Indonesia. Bantuan yang ditawarkan Malaysia dilaporkan berupa satu pesawat pemadam kebakaran, tiga helikopter, serta 52 petugas dan personel. Namun, tawaran tersebut hingga sekarang masih menunggu respons pemerintah Indonesia.
"Kami berpandangan positif bahwa mungkin mereka tidak membutuhkan bantuan kami. Kami tetap optimistis dan berasumsi yang terbaik," kata Zahid. Sikap ini sejalan dengan komitmen nasional untuk menyelesaikan penanggulangan bencana secara mandiri. Pemerintah juga terus melakukan koor-dinas di tingkat daerah untuk memaksimalkan sumber daya yang ada.
Analisis Redaksi
Penolakan halus Indonesia terhadap bantuan asing bukan sekadar soal egoisme nasionalis, melainkan kalkulasi operasional yang ketat. Dengan puluhan ribu personel sudah terakomodasi di lapangan, masuknya 52 petugas asing berpotensi menimbulkan inefisiensi logistik dan kebingungan komando di garis depan. Kurasi ketat diperlukan untuk memastikan bahwa setiap bantuan benar-benar mengisi celah yang spesifik, bukan sekadar formalitas diplomatik.
Dari sisi hubungan internasional, langkah ini juga mengirim pesan strategis. Indonesia menunjukkan bahwa kapasitas nasional dalam menangani krisis lingkungan sudah mapan dan terintegrasi. Menolak tawaran yang dianggap redundan justru memperkuat posisi tawar Indonesia dalam diplomasi lingkungan regional. Langkah logis selanjutnya adalah memetakan ulang titik-titik rawan yang tidak terlayani oleh helikopter dalam negeri, sehingga jika bantuan asing benar-benar dibutuhkan, koordinasinya bisa presisi dan tidak berbenturan dengan operasi yang sudah berjalan.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Momen Canggung Raja Charles di Antigua: Kehujanan dan Mencari Payung di Parade Kemerdekaan

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik
