Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

DKI Kembangkan Empat Zona Tematik: Pasar Baru ala Korea hingga Kota Tua Nuansa Eropa

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

DKI Kembangkan Empat Zona Tematik: Pasar Baru ala Korea hingga Kota Tua Nuansa Eropa
BAGIKAN:

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengumumkan rencana ambisius menata kawasan perbelanjaan Pasar Baru, Jakarta Pusat, menjadi pusat kuliner 24 jam bertipus Korea Selatan pada 2027, menyusul percepatan revitalisasi Blok M Hub. Keputusan strategis ini diutarakan Pramono di Balai Kota Jakarta pada Senin (12/10), menegaskan bahwa penataan akan dimulai begitu proyek Blok M Hub rampung, dengan target menciptakan atmosfer malam yang hidup serupa Myeongdong di Seoul. Pasar Baru diproyeksikan menjadi magnet wisata kuliner yang beroperasi tanpa henti, berbeda dengan karakter Blok M yang sedikit bernuansa Jepang. "Kalau Blok M sudah selesai, harapannya adalah di tahun 2027 kita akan start dengan Pasar Baru. Di Pasar Baru bayangan saya adalah menjadi tempat kuliner 24 jam malam kayak Myeongdong. Jadi Pasar Baru tipikalnya Korea," kata Pramono.

Rencana penataan tidak berhenti di dua titik tersebut. Pramono memetakan eksekusi selanjutnya ke kawasan Glodok dan Kota Tua. Untuk Glodok, konsepnya akan menonjolkan identitas Pecinan sebagai pusat kuliner khas Tiongkok, sementara Kota Tua ditargetkan menjadi kawasan middle-up dengan nuansa Eropa untuk menyasar wisatawan mancanegara. "Baru kemudian nanti kita akan ke Glodok, Kota Tua, Glodok Pecinan. Udahlah kalau Glodok, Pecinan enggak perlu dijelaskan, pasti Pecinan makanannya. Kota Tua akan kita buat untuk middle-up. Artinya mudah-mudahan turis yang datang dari Eropa. Sehingga dengan demikian suasananya pun akan suasana yang lebih mendekati agak Eropa-eropaan," ungkap Pramono. Strategi ini bertujuan menciptakan koridor tematik yang jelas bagi pengunjung.

Keterhubungan antar wilayah tematik ini akan didukung oleh pengembangan MRT Jakarta. Rute MRT dirancang untuk melintasi empat zona: Jepang (Blok M), Korea (Pasar Baru), China (Glodok), dan Eropa (Kota Tua). Pramono yakin integrasi moda transport dan tematika ini akan mengubah wajah ibu kota secara signifikan. "Saya yakin pasti akan membuat Jakarta juga berbeda," ujar Pramono. Keberadaan stasiun MRT di empat titik tersebut akan menjadi simpul utama pergerakan wisatawan, bukan sekadar penumpang harian.

Sebagai fondasi awal, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta (Perseroda) menargetkan revitalisasi total kawasan Blok M rampung pada 2029. Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan bahwa pembangunan kawasan mixed-use di Blok M-ASEAN akan dilakukan secara bertahap dengan target selesai pada 2030. Proyek ini mencakup lima transformasi utama: revitalisasi terminal modern, pengembangan kawasan multifungsi, peningkatan aksesibilitas antarmoda, penciptaan destinasi komersial baru, dan pengembangan ruang terbuka hijau. Kondisi bangunan Blok M yang telah berusia 34 tahun menjadi alasan kuat mengapa intervensi total ini diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan nilai ekonomi kawasan.

Dampak langsung dari skenario ini adalah restrukturisasi ekonomi informal dan formal di Jakarta Pusat dan Selatan. Transformasi Blok M menjadi kawasan transit modern dan terintegrasi akan menuntut penyesuaian bagi pedagang dan pelaku usaha di sekitar terminal. Meskipun belum ada detail teknis tentang skema relokasi atau subsidi bagi pedagang, arah kebijakan menuju kawasan "middle-up" dan tematik mengindikasikan pergeseran kelas konsumen yang dilayani. Publik perlu mengantisipasi perubahan pola lalu lintas dan jam operasi kawasan yang akan bergeser mengikuti ritme wisata 24 jam di koridor tematik baru tersebut.

Analisis Redaksi

Maketra empat zona tematik (Jepang, Korea, China, Eropa) bukan sekadar rencana estetika, melainkan upaya sistematis membangun identitas urban Jakarta di level global. Dengan mengaitkan tiap kawasan dengan budaya spesifik, pemerintah provinsi mencoba memecah dominasi Sudirman-Thamrin sebagai satu-satunya pusat gravitasi ekonomi. Namun, risiko utama terletak pada eksekusi. Jarak antar titik yang dilintasi MRT memang pendek secara geografis, namun kompleksitas regulasi perizinan dan penataan lahan di Glodok dan Kota Tua jauh lebih tinggi dibandingkan Blok M. Kesuksesan proyek ini sangat bergantung pada konsistensi anggaran dan koordinasi antar dinas, bukan hanya pada desain arsitektural MRT.

Perlu diwaspadai implikasi sosial-ekonomi dari penciptaan kawasan "middle-up" dan wisata 24 jam. Ketika Kota Tua dan Glodok ditargetkan untuk turis Eropa dengan suasana Eropa, ada potensi pengusiran paksa (gentrifikasi) terhadap pedagang tradisional dan penghuni sekitar yang mengandalkan daya beli lokal. Narasi "Jakarta berbeda" dari Pramono Anung harus diimbangi dengan data dampak sosial, seperti alih fungsi hunian dan kenaikan harga sewa. Tanpa mekanisme perlindungan bagi pelaku UMKM lama, transformasi ini berpotensi menciptakan enclave eksklusif yang terputus dari denyut kehidupan asli Jakarta, sehingga keberhasilan revitalisasi tidak dapat diukur semata dari kunjungan turis.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸