2.026 Warga Pecahkan Rekor Minum 'Kopi Terbalik', MURI Anugerahkan Penghargaan di Meulaboh

Museum Rekor Indonesia (MURI) resmi menganugerahkan rekor dunia atas sajian Kopi Khop, atau yang dikenal sebagai kopi terbalik, yang dinikmati secara serentak oleh 2.026 warga di Lapangan Teuku Umar, Meulaboh. Peristiwa ini terjadi dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Meulaboh ke-438. Ajang ini tidak hanya sekadar perayaan tahunan, melainkan menjadi panggung global bagi identitas kuliner daerah yang kini diakui secara internasional.
"Pencapaian rekor 2.026 warga minum kopi khop ini apresiasi terhadap karya dan karsa masyarakat dalam mengangkat potensi lokal," ujar Direktur Operasional MURI, Awan Rahargo, dalam keterangan yang dikutip Antara pada Senin (12/10). Awan menegaskan bahwa jumlah peminum tersebut tercatat sebagai yang terbanyak, bukan hanya di tingkat lokal Kota Meulaboh dan Provinsi Aceh, tetapi juga di kancah nasional hingga internasional.
Keberhasilan ini bertumpu pada status legal Kopi Khop Aceh Barat yang telah didaftarkan di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sejak tahun 2024. Awan menjelaskan bahwa metode penyajian kopi dengan posisi cangkir terbalik ini bersifat unik dan tidak ditemukan di negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura. Oleh karena keunikan tersebut, perhelatan ini secara resmi dinobatkan sebagai The World Record Rekor Dunia MURI.
Menyikapi anugerah tersebut, Bupati Aceh Barat Tarmizi menyatakan bahwa momentum bersejarah ini akan dijadikan sebagai sarana promosi kopi khop kepada masyarakat Indonesia hingga mancanegara. "Kita bukan hanya sekadar ingin mendapatkan rekor MURI, tetapi yang jauh lebih penting adalah memperkenalkan kopi khop kepada Indonesia dan dunia, sehingga orang penasaran ingin datang ke Aceh Barat," katanya. Tarmizi memproyeksikan bahwa peningkatan popularitas ini akan mendorong kunjungan wisatawan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya para pelaku usaha warung kopi.
Secara teknis, Kopi Khop merupakan salah satu kuliner khas Kabupaten Aceh Barat yang memiliki cara penyajian berbeda dari kopi pada umumnya. Minuman ini disajikan dalam gelas yang diletakkan terbalik di atas piring kecil. Cara meminumnya menjadi daya tarik tersendiri; kopi dinikmati dengan menyeruput cairan yang keluar melalui celah antara bibir gelas dan piring, biasanya menggunakan sedotan. "Kopi khop ini sudah memperoleh sertifikat HAKI dan menjadi ikon serta identitas Kota Meulaboh; kalau berkunjung ke Meulaboh, rasanya belum sah kalau belum minum kopi khop," tambah Tarmizi.
Analisis Redaksi
Agen pemersatu dalam konteks ini bukanlah sekadar seremoni, melainkan strategi branding destinasi wisata berbasis budaya. Dengan mengunci status kopi khop sebagai properti intelektual yang terlindungi (HAKI) dan memvalidasinya melalui rekor MURI, Pemkab Aceh Barat sedang membangun "product differentiation" yang kuat. Hal ini penting karena di pasar wisata kuliner global, keunikan yang dapat didemonstrasikan secara massal—seperti 2.026 peminum serentak—adalah magnet yang lebih efektif daripada sekadar narasi sejarah.
Yang perlu diwaspadai adalah transisi dari sensasi sesaat menjadi daya tarik berkelanjutan. Jika infrastruktur pariwisata, seperti aksesibilitas destinasi dan standar kualitas di warung-warung kopi, tidak mampu menopang lonjakan permintaan pasca-rekor, maka momentum ini berisiko cepat memudar. Dampak ekonomi bagi masyarakat lokal hanya akan terwujud jika terdapat kesiapan rantai pasok bahan baku dan kompetensi penghidangan yang konsisten, bukan sekadar mengandalkan seremoni ulang tahun kota.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ditlantas Polda Metro Buka Dua Gerai SIM Keliling di Jakarta pada Minggu

Polda Metro Siagakan Lima Kantong Parkir Besar untuk Jaga Ketertiban Apel Akbar Palestina di Monas

Kapolda Metro Tekankan Penataan Lingkungan sebagai Kunci Akar Permasalahan Narkoba di Kampung Muara Bahari
