Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pramono Tunda Putusan Ganjil-Genap, Tunggu Selesainya Pembangunan Jalur MRT ke Kota Tua

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pramono Tunda Putusan Ganjil-Genap, Tunggu Selesainya Pembangunan Jalur MRT ke Kota Tua
BAGIKAN:

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa keputusan akhir terkait penerapan sistem ganjil-genap di ibu kota akan ditunda hingga seluruh jalur Moda Raya Terpadu (MRT) menuju Kota Tua selesai dibangun. Pramono Anung menyatakan hal ini di Balai Kota Jakarta, Senin (12/10), dengan argumentasi bahwa saat ini infrastruktur transit massal belum sepenuhnya siap untuk menopang perubahan kebijakan lalu lintas secara drastis.

"Tentunya kalau saya jawab sekarang, saya tidak melihat kenyataan yang ada," kata Pramono. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih dalam tahap menyelesaikan pembangunan jalur MRT yang direncanakan membentang dari Pondok Labu di Jakarta Selatan hingga Kota Tua di Jakarta Barat pada tahun 2029. Target operasional yang lebih dekat, yaitu jalur MRT Lebak Bulus ke kawasan Harmoni dan Monas, diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2027.

Pramono menjelaskan bahwa dampak pembangunan MRT saat ini telah membebani kapasitas jalan, khususnya di ruas-ruas kritis seperti Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk di Jakarta Pusat. "Begitu saya cabut kebijakan ini, ternyata belum selesai sampai dengan Kota Tua, pasti lalu lintas ataupun transportasinya juga terganggu," ujar Pramono. Oleh karena itu, usulan penambahan atau perubahan ganjil-genap ditahan sampai situasi di lapangan kondusif.

Kondisi lalu lintas di sejumlah ruas tersebut memang telah berubah secara signifikan akibat galian dan penyempitan jalan. Pemprov DKI Jakarta kini tengah mengkaji ulang apakah penerapan ganjil-genap perlu dilanjut, dihentikan, atau dialihkan. "Karena memang beberapa ruas sekarang ini terdampak, misalnya seperti Jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan sebagainya. Sedang kita kaji untuk segera diputuskan," tambah Pramono.

Kebijakan ini menjadi krusial bagi warga yang mengandalkan kendaraan pribadi di jalur-jalur strategis. Penundaan keputusan ganjil-genap mengindikasikan bahwa pemerintah pusat daerah prioritaskan integrasi transit massal sebelum membatasi akses kendaraan roda empat. Dengan target 2027 untuk segmen Harmoni-Monas, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi kemacetan kronis di koridor barat dan selatan Jakarta hingga MRT beroperasi penuh.

Analisis Redaksi

Kesabaran eksekutif DKI Jakarta dalam menunda eksekusi kebijakan ganjil-genap mencerminkan pendekatan berbasis data dan kondisi riil, bukan sekadar respons reaktif terhadap keluhan publik. Dengan fakta bahwa jalur MRT utara-barat belum terintegrasi penuh hingga Kota Tua pada 2029, memaksakan pembatasan kendaraan kini justru berisiko memperburuk kelancaran logistik dan mobilitas warga di koridor Gajah Mada-Hayam Wuruk. Keputusan ini menunjukkan bahwa prioritas pemerintah ada pada penyelesaian infrastruktur transit sebagai solusi jangka panjang.

Yang perlu diwaspadai adalah potensi stagnasi kebijakan yang dapat membuat publik kehilangan kepercayaan jika "kajian" berjalan terlalu lama tanpa titik terang. Masyarakat perlu memantau perkembangan jalur Lebak Bulus-Harmoni yang ditargetkan 2027. Jika proyek ini terlambat, tekanan untuk menerapkan ganjil-genap tanpa dukungan transit yang memadai akan kembali menguat, menciptakan dilema kebijakan di mana pembatasan kendaraan harus berjalan tanpa pengganti transportasi massal yang andal. Langkah logis berikutnya adalah transparansi progres pembangunan MRT sebagai tolok ukur keberlakuan ulang aturan lalu lintas tersebut.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸