Populasi 40 Badak Sumatra Terancam Punah, Satu-satunya Badak Asia Bernaga Dua

Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) kini menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi dengan estimasi populasi liar hanya sekitar 40 individu, menurut World Wide Fund for Nature (WWF). Spesies berstatus Critically Endangered dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) ini memiliki keunikan biologis yang membedakannya dari kerabatnya di Asia, yaitu sebagai satu-satunya badak di benua tersebut yang memiliki dua cula.
Ciri Fisik dan Biologi yang Diferensiasi
Kedua cula badak Sumatra tersusun dari keratin, protein yang sama dengan rambut manusia, dan dapat tumbuh sepanjang umur hewan tersebut. Cula depan umumnya lebih panjang daripada cula belakang yang sering hanya berupa tonjolan kecil, sementara badak Jawa dan badak India hanya memiliki satu cula. Secara morfologis, badak Sumatra adalah spesies badak terkecil di antara lima spesies yang masih ada, dengan tinggi bahu 1 hingga 1,5 meter dan bobot 600 hingga 950 kilogram. Spesies ini juga dikenal sebagai hairy rhinoceros karena ditumbuhi rambut kasar berwarna cokelat kemerahan yang lebih lebat saat muda dan menjadi jarang seiring penuaan, berbeda dengan badak lainnya yang memiliki kulit tebal berlipatan.
- Masa kehamilan berlangsung 15 hingga 16 bulan dengan kelahiran satu anak, menyebabkan reproduksi yang lambat.
- Sifat soliter atau hidup menyendiri membuat pencarian pasangan sulit, terutama karena habitat tersebar di hutan terpisah.
- Di samping mencari makan, badak Sumatra membutuhkan akses ke lumpur untuk berkubang serta sumber mineral alami (salt lick) untuk menjaga kesehatan tubuh.
Distribusi Populasi dan Upaya Konservasi
Dahulu tersebar di Asia Selatan dan Tenggara, populasi saat ini terfokus di hutan Pulau Sumatra dan Kalimantan. WWF mengaitkan menurunnya populasi dengan penyusutan habitat, perburuan ilegal yang dipicu permintaan pasar gelap untuk cula keratin, serta kesulitan perkembangbiakan. Konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan pepohonan, tetapi juga ketersediaan air, tempat berkubang, dan mineral. Langkah pencegahan kepunahan mencakup perlindungan hutan, patroli antiperburuan, pemantauan populasi, dan program perkembangbiakan terkelola. Secara evolusioner, badak Sumatra memiliki kedekatan dengan badak berbulu purba (woolly rhinoceros), menjadikannya subjek penting untuk memahami sejarah mamalia. Kehadirannya juga berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem hutan tropis beserta biodiversitas yang bergantung padanya.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ditlantas Polda Metro Buka Dua Gerai SIM Keliling di Jakarta pada Minggu

Polda Metro Siagakan Lima Kantong Parkir Besar untuk Jaga Ketertiban Apel Akbar Palestina di Monas

Kapolda Metro Tekankan Penataan Lingkungan sebagai Kunci Akar Permasalahan Narkoba di Kampung Muara Bahari
