Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Risiko Selat Hormuz Belum Hilang, Biaya Ekspor Minyak Melonjak 16 Kali Lipat

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Risiko Selat Hormuz Belum Hilang, Biaya Ekspor Minyak Melonjak 16 Kali Lipat
BAGIKAN:

Selat Hormuz kembali beroperasi penuh, namun harga bahan bakar minyak di berbagai negara tetap melambung tinggi. Kondisi ini terjadi karena risiko keamanan maritim yang belum sepenuhnya reda membuat biaya pengangkutan minyak dari Teluk Persia meroket secara drastis.

Di Amerika Serikat, rata-rata harga bensin nasional mencapai US$4,36 per galon atau setara Rp20.607 per liter dengan kurs Rp17.891. Data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) mencatat bahwa harga tersebut merupakan rekor tertinggi untuk periode yang sama dalam setahun terakhir, sebagaimana dilaporkan CNN pada Jumat (9/10).

Gangguan pasokan akibat konflik Iran telah berevolusi menjadi krisis energi global yang dampaknya menyentuh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pengemudi pribadi, sopir truk logistik, hingga petani. Meskipun jalur pelayaran utama sudah terbuka, ancaman nyata masih membayangi armada dagang yang melintas.

UK Maritime Trade Operations melaporkan insiden proyektil mengenai kapal dagang dalam beberapa hari terakhir, termasuk setidaknya dua tanker minyak mentah. Ketegangan ini tercermin jelas dalam lonjakan tarif sewa Very Large Crude Carrier (VLCC). Menurut data Clarksons, biaya sewa VLCC rute Teluk Persia ke China kini menembus US$1,6 juta (Rp28,6 miliar) per hari, dibandingkan tahun lalu yang hanya berkisar US$65 ribu (Rp1,16 miliar) per hari.

Beban tambahan juga datang dari premi asuransi yang membengkak. Mengutip laporan The Wall Street Journal dan CNN, produsen minyak kini harus membayar US$30 juta hingga US$40 juta (Rp536,7 miliar–Rp715,6 miliar) untuk sekali perjalanan pulang-pergi melalui Selat Hormuz. Tom Kloza, chief energy adviser Gulf Oil, menegaskan bahwa biaya mengeluarkan minyak dari Teluk Persia kini sekitar US$33 (Rp590,4 ribu) per barel, jauh lebih tinggi dibanding angka historis sebesar US$2 (Rp35.782) per barel.

Kloza menilai situasi saat ini menyesatkan karena volume ekspor terlihat normal padahal beban biayanya luar biasa besar. Disparitas ini memperlebar jurang antara harga fisik dan pasar keuangan. S&P Global Platts mencatat harga Dated Brent untuk pengiriman segera berada di level US$135,74 (Rp2,43 juta) per barel pada Kamis (8/10), sementara Brent futures hanya di kisaran US$100 (Rp1,79 juta) per barel. Harga fisik inilah yang akhirnya menentukan bandrol di stasiun pengisian bahan bakar umum.

Tekanan terhadap pasar energi tidak hanya berasal dari Hormuz. Serangan Houthi di Selat Bab al-Mandeb serta serangan drone Ukraina yang menghancurkan kilang-kilang Rusia semakin mempersempit ruang gerak distribusi global. Rusia sebagai eksportir diesel utama dunia terpaksa membatasi ekspor demi mengamankan stok domestik, langkah serupa juga diambil oleh China. Di sisi lain, kapasitas kilang AS sudah bekerja maksimal bahkan sebagian mengurangi output untuk perawatan rutin, sehingga penyusutan stok minyak komersial dan cadangan darurat dunia terus mendorong naiknya premi harga.

Analisis Redaksi

Fenomena ini mengungkap kerentanan struktural dalam rantai pasok energi global yang selama ini dianggap stabil. Pembukaan kembali Selat Hormuz hanyalah solusi parsial jika tidak dibarengi dengan jaminan keamanan fisik bagi awak kapal dan aset industri. Lonjakan biaya logistik dan asuransi sebesar belasan kali lipat membuktikan bahwa pasar energi kini diperdagangkan berdasarkan persepsi risiko ekstrem, bukan sekadar neraca penawaran dan permintaan konvensional. Konsumen akhir menanggung beban ini karena mekanisme transmisi harga dari hulu ke hilir bersifat inelastis jangka pendek; ketika biaya akuisisi naik, harga jual otomatis menyesuaikan tanpa jeda signifikan.

Masyarakat perlu mewaspadai potensi inflasi lanjutan yang bersumber dari sektor transportasi dan pertanian akibat mahalnya solar dan avtur. Langkah pemerintah atau otoritas moneter biasanya akan merespons tekanan harga komoditas ini dengan kebijakan suku bunga ketat, yang berimplikasi pada perlambatan pertumbuhan ekonomi makro. Kemungkinan selanjutnya adalah diversifikasi rute pasokan yang lebih mahal namun aman, atau intervensi strategis pelepasan cadangan minyak bumi nasional jika tren kenaikan harga fisik Brent bertahan di atas US$130 per barel dalam jangka menengah. Tanpa deeskalasi geopolitik yang nyata, volatilitas harga BBM akan menjadi norma baru bagi konsumen global.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸