Bupati Serang dan Situbondo Sinergi Kuatkan UMKM di Jalur Anyer-Panarukan
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah meluncurkan program Anyer-Panarukan 3R: Road, Route, Roots sebagai strategi konkret untuk menggerakkan roda ekonomi lokal. Inisiatif ini tidak sekadar mempercantik infrastruktur jalan raya pos bersejarah tersebut, melainkan dirancang khusus untuk memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berada di sepanjang jalur vital penghubung ujung barat hingga timur Pulau Jawa.
Dalam sesi talkshow pasca-peluncuran pada Minggu (11/10), Ratu menegaskan bahwa konsep "Route" menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi baru. Ia berharap transformasi fungsi jalan dari sekadar akses transportasi menjadi koridor komersial mampu memicu pertumbuhan berbagai sektor potensial. "Kita ingin menjadikan Jalan Raya Pos ini sebagai pergerakan ekonomi. Kita bisa menumbuhkan UMKM, kita bisa menumbuhkan kuliner," ujar Ratu dengan penuh keyakinan.
Selain aspek perdagangan dan kuliner, Ratu juga melihat peluang besar dalam pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan spiritualitas. Menurutnya, nilai historis Jalan Raya Pos peninggalan Daendels dapat dikemas menjadi daya tarik wisata religi maupun wisata sejarah. Pendekatan ini diyakini akan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan bagi masyarakat setempat, tanpa menghilangkan identitas kultural kawasan.
Respons positif datang dari sesama kepala daerah, yakni Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo. Rio menekankan bahwa jalur Anyer-Panarukan membawa tanggung jawab sosial yang sangat besar karena merupakan tumpuan hidup ribuan warga. Banyak pedagang informal dan formal yang menggantungkan nafkah mereka di pinggir jalan nasional ini. Oleh karena itu, intervensi pemerintah diperlukan agar aktivitas bisnis mereka tetap relevan dan kompetitif.
Tantangan utama yang dihadapi adalah persaingan ketat dengan keberadaan Tol Trans-Jawa yang telah mengubah pola mobilitas masyarakat. Meskipun demikian, Rio optimistis arus lalu lintas non-tol tidak akan sepenuhnya hilang, terutama bagi kendaraan pribadi atau angkutan umum tertentu. "Meskipun sudah ada tol sekarang, tapi saya yakin banyak pengguna jalan yang, apalagi Situbondo itu orang mau ke Bali pasti lewat jalan Anyer-Panarukan," jelas Rio. Ia mengajak semua pihak mempersiapkan diri menghadapi dinamika ini agar pertumbuhan ekonomi bisnis tetap terjaga.
Analisis Redaksi
Kolaborasi antara dua bupati dari ujung barat dan timur Jawa ini menunjukkan kesadaran kolektif bahwa infrastruktur saja tidak cukup tanpa adanya pemberdayaan manusia di dalamnya. Program 3R bukan hanya proyek fisik, melainkan upaya rebranding wilayah agar memiliki nilai tambah ekonomis. Keberhasilan inisiatif ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan turunan, seperti kemudahan perizinan bagi UMKM dan perbaikan estetika ruang publik di sepanjang rute. Jika gagal mengelola dampak negatif urbanisasi liar akibat ramainya kembali jalur ini, potensi konflik sosial justru bisa meningkat.
Masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan komodifikasi berlebihan atas situs sejarah. Pelestarian cagar budaya harus berjalan paralel dengan eksploitasi ekonomi. Langkah logis selanjutnya adalah pembentukan tim pemantau independen dari unsur akademisi dan komunitas lokal untuk memastikan bahwa keuntungan ekonomi benar-benar mengalir ke kantong rakyat kecil, bukan hanya dinikmati oleh investor besar atau jaringan bisnis elit. Tanpa pengawasan ketat, narasi penguatan ekonomi kerakyatan hanya akan menjadi jargon politik semata.
