Ryan Giggs Soroti Budaya Pelukan Pemain Modern yang Dinilai Aneh

Olahraga
Eka SaputraEka Saputra
Sumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Ryan Giggs Soroti Budaya Pelukan Pemain Modern yang Dinilai Aneh
BAGIKAN:

Ryan Giggs menyoroti perubahan perilaku pesepakbola modern yang dinilai aneh oleh legenda Manchester United tersebut. Dalam konferensi pers di Jakarta pada Jumat (9/10), mantan winger asal Wales itu mengungkapkan keheranannya melihat para pemain saling berpelukan sebelum pertandingan dimulai, sebuah gestur yang jarang terjadi di eranya.

"Saya merasa heran ketika menonton pertandingan dan melihat para pemain saling berpelukan sebelum laga dimulai," ujar Giggs. Ia menjelaskan bahwa selama kariernya aktif, interaksi pra-pertandingan biasanya terbatas pada sapaan singkat. Kecuali jika bertemu teman lama atau rekan setim sebelumnya, sentuhan fisik intim seperti pelukan bukanlah norma bagi generasi pemain dahulu.

Giggs menekankan adanya pergeseran kultur antara pesepakbola lawas dan masa kini. Pada masanya, rivalitas di lapangan sangat kental namun tetap dibingkai oleh rasa hormat profesional. "Dahulu, kami tidak menyukai satu sama lain tetapi tetap saling menghormati karena tahu bahwa kami menghadapi pemain dan tim yang bagus," katanya. Suasana kompetitif itulah yang justru membentuk identitas mereka sebagai atlet sejati.

Setelah peluit akhir berbunyi, ritual pasca-laga pun berbeda jauh dengan tren saat ini. Giggs menceritakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya cukup berjabat tangan dan mengucapkan selamat atas pertandingan yang bagus, lalu segera pergi. Mereka tidak memiliki keinginan untuk mengenal lebih dekat lawan mainnya. Sikap dingin namun sportif ini dianggap wajar dalam dinamika sepak bola Inggris era 90-an hingga awal 2000-an.

Perubahan pandangan Giggs baru terjadi setelah ia resmi gantung sepatu pada Juli 2014. Selama satu dekade terakhir, ia mulai menyadari pentingnya membangun relasi personal dengan mantan rival. Kesadaran ini muncul saat ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial bersama tokoh-tokoh seperti Gilberto Silva dan Robert Pires. "Barulah saya berpikir, ternyata mereka orang-orang yang hebat dan menyenangkan. Kami bisa duduk bersama dan minum kopi," tuturnya mengenali sisi humanis dari persaingan yang dulu ketat.

Analisis Redaksi

Fenomena pelukan pra-pertandingan yang disorot Giggs mencerminkan evolusi branding personal di dunia sepak bola modern. Di tengah tekanan media sosial dan sponsor, citra ramah dan kolaboratif menjadi aset berharga bagi pemain muda. Namun, kritik Giggs mengingatkan kita akan nilai-nilai fundamental kompetisi: ketegangan yang jujur dan penghormatan melalui aksi di lapangan, bukan sekadar basa-basi kamera. Hilangnya batas tegas antara rivalitas dan persahabatan mungkin membuat permainan tampak lebih manusiawi, tetapi juga berpotensi mengaburkan intensitas perjuangan yang menjadi nyawa sepak bola.

Langkah selanjutnya bagi pengamat dan pelaku industri adalah menyeimbangkan aspek komersial dengan esensi sportivitas. Jika budaya 'akrab' terus mendominasi tanpa didasari rekonsiliasi tulus pasca-kompetisi, maka ucapan selamat di akhir laga hanya akan menjadi formalitas kosong. Publik perlu waspada terhadap potensi hipokrisi di mana kedekatan semu menutupi kurangnya apresiasi terhadap kualitas lawan. Sepak bola membutuhkan keseimbangan antara emosi panas saat bertanding dan kedewasaan emosional setelahnya, sebagaimana dicontohkan oleh generasi Giggs yang menjaga jarak demi fokus penuh pada performa.

Meow! Tanya Nesi!
😸