Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Fadli Zon Tegaskan Warisan Syekh Yusuf Bukti Kontribusi Nusantara di Peringatan 4 Abad

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: CNN Selebriti
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Fadli Zon Tegaskan Warisan Syekh Yusuf Bukti Kontribusi Nusantara di Peringatan 4 Abad
BAGIKAN:

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa warisan intelektual, spiritual, dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari (1626-1699) merupakan bukti penting kontribusi Nusantara terhadap peradaban dunia. Penegasan ini disampaikan dalam peringatan 400 tahun kelahiran sang ulama besar di Indonesia House Amsterdam (IHA), Belanda, Jumat (09/10).

Acara tersebut tidak sekadar seremonial biasa, melainkan tercatat resmi dalam komemorasi tokoh dan peristiwa bersejarah UNESCO periode 2026-2027. Melalui rangkaian pameran, diskusi panel ahli, serta pemutaran film bagi publik di Belanda, Kementerian Kebudayaan mengangkat kembali perjalanan hidup Syekh Yusuf. Ia dikenal sebagai ulama besar, pemikir sufi, sekaligus pejuang antikolonial yang menghubungkan sejarah Indonesia, Belanda, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan.

Fadli Zon menyoroti peran strategis Nusantara sebagai pusat pertukaran pengetahuan dan peradaban sejak berabad-abad lalu. "Perjalanan Syekh Yusuf dari Gowa menuju berbagai pusat keilmuan di dunia Islam, hingga pengasingannya akibat perlawanan terhadap VOC, mencerminkan bagaimana gagasan dan nilai-nilai kemanusiaan dapat melampaui batas wilayah, kekuasaan, dan zaman," ujar Menbud. Jejak pemikiran ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan telah menghubungkan masyarakat lintas bangsa jauh sebelum terbentuknya hubungan diplomatik modern.

Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1626, Syekh Yusuf menempuh perjalanan intelektual melalui Nusantara, India, hingga Timur Tengah. Selain aktif sebagai pemikir, ia terlibat dalam perlawanan terhadap ekspansi VOC di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah ditangkap pada 1683, ia diasingkan ke Ceylon (kini Sri Lanka) pada 1684, lalu dipindahkan pemerintah kolonial Belanda ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.

"Pengasingan tidak membungkam beliau. Sebaliknya, gagasan dan ajarannya terus hidup serta memberikan pengaruh bagi masyarakat lintas generasi," ucap Fadli Zon. Penyelenggaraan peringatan di Belanda memiliki makna historis tersendiri mengingat kaitan erat antara jejak Syekh Yusuf dengan masa kelam kolonialisme Belanda di Nusantara. Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya membuka dialog untuk memperdalam kajian sejarah dan membangun pemahaman bersama antara kedua negara.

Analisis Redaksi

Pemilihan lokasi IHA di Amsterdam bukan tanpa alasan. Ini adalah langkah diplomasi budaya yang cerdas untuk membalikkan narasi sejarah. Selama ini, kolonialisme sering dikisahkan dari sudut pandang penjajah; kini Indonesia mengambil inisiatif menampilkan sisi lain: seorang tahanan politik yang justru menjadi simbol keteguhan spiritual dan intelektual global. Dengan masuknya agenda ini dalam kalender UNESCO, legitimasi internasional atas peran Nusantara semakin kuat, menyudutkan argumen bahwa sejarah Asia hanya bersifat lokal atau pasif.

Rencana pendirian Rumah Budaya Indonesia dan Museum Syekh Yusuf di Cape Town juga patut dicermati. Komunitas Cape Malay yang berjumlah sekitar 2,7 juta orang menurut Menteri Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie, adalah aset diaspora yang sangat signifikan. Jika museum ini terwujud, ia akan menjadi jembatan emosional dan edukatif yang permanen, mengubah memori kolektif tentang 'pengasingan' menjadi cerita tentang 'penyebaran peradaban'. Langkah selanjutnya bergantung pada konsistensi anggaran dan eksekusi teknis agar proyek ambisius ini tidak berhenti wacana semata.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸