Bulog Proyeksi Serapan Beras Tembus 130 Persen di Akhir 2026

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Bulog Proyeksi Serapan Beras Tembus 130 Persen di Akhir 2026
BAGIKAN:

Perum Bulog memproyeksikan penyerapan beras dalam negeri dapat melampaui target pemerintah hingga mencapai 130 persen menjelang akhir tahun. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan capaian serapan saat ini bahkan sudah menembus angka 102 persen atau lebih dari 4 juta ton, jauh sebelum periode penutupan anggaran tiba.

"Kenapa saya sampaikan bisa terjadi? Karena sekarang serapan Bulog itu sudah tercapai 100 persen, yaitu lebih dari 4 juta ton, yaitu sekitar 102 persen di hari ini," ujar Rizal saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (8/10). Ia menegaskan bahwa estimasi tersebut akan terus bergerak naik seiring berjalannya waktu menuju Desember.

Rizal menjelaskan keberhasilan serapan yang masif ini tidak lepas dari keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian. Salah satu instrumen kunci adalah kepastian kebijakan dan penetapan harga pembelian gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini menjadi fondasi utama bagi stabilitas pasar domestik.

Ia menekankan bahwa kebijakan harga tersebut memastikan seluruh gabah petani terserap dengan baik oleh Bulog. "Sehingga tidak ada lagi harga-harga di pasaran di seluruh sawah seluruh Indonesia ini yang harganya dijual di bawah Rp6.500. Jadi, semuanya minimal Rp6.500 dan itu dibeli oleh Bulog," tegas Rizal. Mekanisme ini menutup celah spekulasi harga yang merugikan produsen kecil.

Dengan realisasi yang melampaui ekspektasi awal, Bulog optimis target swasembada pangan berkelanjutan dapat terus dipertahankan. Hal ini dinilai krusial untuk memperkokoh stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan nasional ke depan, terutama di tengah dinamika global yang sering kali mempengaruhi rantai pasok komoditas strategis.

"Oleh karena itu, kemungkinan besar swasembada pangan berkelanjutan itu sangat mungkin terjadi tahun 2026 ini. Itu adalah mungkin kado terbaik 2 tahun pemerintahan Bapak Presiden," tandasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pencapaian administratif sekaligus simbolik dari program prioritas negara di bidang agraria.

Analisis Redaksi

Pencapaian serapan 102 persen pada Oktober merupakan anomali positif yang jarang terjadi dalam sejarah tata niaga pangan nasional. Biasanya, lonjakan serapan baru terlihat signifikan mendekati musim panen raya utama di awal tahun. Fakta bahwa volume telah melebihi target tahunan tiga bulan sebelumnya menunjukkan efektivitas intervensi harga GKP Rp6.500/kg yang diterapkan secara konsisten. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti bahwa insentif fiskal langsung kepada petani mampu mengubah perilaku pasar secara drastis.

Namun, proyeksi tembus 130 persen di akhir tahun harus dibaca dengan cermat. Kelebihan stok yang ekstrem dapat menimbulkan beban biaya penyimpanan dan risiko degradasi kualitas jika manajemen gudang tidak siap. Langkah selanjutnya yang logis bagi pemerintah adalah mempercepat distribusi melalui operasi pasar atau ekspor terbatas untuk menjaga keseimbangan harga di hilir. Tanpa strategi pelepasan stok yang matang, surplus ini justru bisa menekan harga jual di tingkat penggilingan padi pada musim berikutnya, menciptakan paradoks bagi kesejahteraan petani jangka panjang.

Meow! Tanya Nesi!
😸