Pentagon Siapkan Opsi Serangan Tiga Hari ke Iran, Trump Tunggu Pemilu Paruh Waktu
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Pentagon dilaporkan telah menyusun rencana serangan militer intensif selama tiga hari terhadap Iran, namun Presiden Donald Trump menegaskan tidak akan melancarkan aksi tersebut sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November. Langkah strategis ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan bilateral, sementara diskusi diplomatik antara Washington dan Teheran disebut masih berjalan produktif.
The New York Times memberitakan pada Kamis (8/10) bahwa militer Amerika Serikat telah menyiapkan sejumlah opsi penargetan yang mencakup persenjataan rudal dan drone Iran, fasilitas energi, serta berbagai instalasi militer lainnya. Laporan ini mengutip pernyataan anonim dari beberapa pejabat tinggi AS yang terlibat dalam perencanaan kontingensi tersebut.
Dinamika internal pemerintahan terlihat jelas ketika para pejabat senior keamanan nasional, yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, membahas skenario serangan itu dalam pertemuan tertutup di Camp David pada Jumat (2/10). Sumber yang mengetahui detail pembahasan menyebutkan bahwa fokus utama operasi adalah kampanye singkat namun sangat intensif, dirancang untuk melumpuhkan kapasitas balasan musuh dalam jendela waktu sempit.
Target prioritas meliputi aset-aset milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), khususnya sistem rudal dan drone yang sebagian besar telah dibangun kembali sejak fase awal konflik sebelumnya. Selain menghancurkan daya tembak, opsi lain yang dipertimbangkan termasuk menyerang pos komando, markas besar IRGC, dan infrastruktur energi vital yang menopang ekonomi serta operasional militer Teheran.
Sementara itu, Axios melaporkan bahwa Pentagon telah memerintahkan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk merampungkan seluruh persiapan teknis jika keputusan politik akhirnya mengarah pada dimulainya kembali operasi tempur besar-besaran. Perintah tersebut bersifat kondisional dan tidak menetapkan tanggal pasti eksekusi, mengingat Trump sendiri belum mengambil keputusan final mengenai kelanjutan atau penghentian eskalasi militer.
Analisis Redaksi
Ketidakpastian jadwal serangan hingga pasca-pemilu menunjukkan kalkulasi politik domestik yang kental. Bagi seorang presiden yang menghadapi ujian elektoral, memulai perang baru tanpa konsensus publik yang kuat merupakan risiko politik yang jarang diambil. Penundaan hingga setelah 3 November bisa dibaca sebagai upaya menghindari tuduhan memanfaatkan sentimen nasionalisme untuk mendongkrak suara pemilih, sekaligus memberi ruang bagi jalur diplomasi yang diklaim "produktif" oleh Trump melalui Truth Social.
Namun, pengerahan tiga kapal induk ke Timur Tengah dalam beberapa pekan mendatang mengirimkan sinyal deterrence yang ambigu. Di satu sisi, kehadiran armada raksasa ini memperkuat posisi tawar Washington dalam negosiasi; di sisi lain, ia meningkatkan probabilitas insiden tak terduga yang dapat memicu konfrontasi fisik secara otomatis. Publik harus waspada terhadap pola "siap-siap" yang sering kali menjadi preludium bagi perubahan kebijakan mendadak, terutama mengingat rekam jejak Trump yang kerap menolak usulan serangan keras namun tetap meminta opsi militer selalu tersedia di meja kerjanya.
