Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

BDS Yordania Desak Pembatalan Konser Andrea Bocelli di Petra

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

BDS Yordania Desak Pembatalan Konser Andrea Bocelli di Petra
BAGIKAN:

Gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) Yordania secara resmi menyerukan boikot terhadap konser penyanyi tenor Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan berlangsung di situs bersejarah Petra pada 27 November mendatang. Seruan ini muncul menyusul rekam jejak dukungan publik Bocelli terhadap Israel, termasuk penampilannya di hadapan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan keterlibatannya dalam penggalangan dana militer. Organisasi tersebut menuntut pembatalan pertunjukan serta meminta masyarakat tidak membeli tiket sebagai bentuk protes terhadap normalisasi hubungan budaya dengan negara pendudukan.

Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Rabu (7/10), BDS Yordania menegaskan bahwa kehadiran Bocelli di Petra sangat tidak dapat diterima mengingat status ikonik situs tersebut bagi dunia Arab. "Kami menyerukan kepada Anda untuk memboikot konser Andrea Bocelli karena dukungannya yang telah lama diberikan secara terbuka kepada musuh Israel... Jangan beli tiket! Tuntut... pembatalan konser ini," bunyi pernyataan tersebut. Mereka menambahkan bahwa menjadikan Petra sebagai panggung bagi seorang seniman yang pernah menggalang dana untuk tentara pendudukan merupakan penghinaan terhadap simbol identitas regional.

Kontroversi ini berakar dari dua insiden signifikan dalam perjalanan karier Bocelli. Pertama, ia tampil langsung di Stadion Tel Aviv pada tahun 2022 di hadapan Benjamin Netanyahu, sebuah langkah yang saat itu menuai kecaman keras dari aktivis pro-Palestina namun tetap dilanjutkannya. Kedua, pelantun lagu klasik tersebut tercatat berpartisipasi dalam acara penggalangan dana untuk mendukung militer Israel di Los Angeles pada tahun 2010. Fakta-fakta historis ini menjadi dasar argumen moral yang digunakan oleh kelompok BDS untuk menolak legitimasi artistik Bocelli di tanah Yordania.

Sementara itu, pihak penyelenggara lokal memilih jalur berbeda dengan mempertahankan gelaran musik tersebut. Souha Bawab, Direktur Eksekutif asosiasi penyelenggara, memandang kedatangan Bocelli sebagai momentum strategis bagi sektor pariwisata Yordania. Ia menilai pertunjukan kelas dunia ini adalah kesempatan emas untuk menampilkan wajah modern Yordania kepada komunitas internasional, sekaligus memperkuat reputasi negara tersebut sebagai destinasi yang berhasil memadukan warisan sejarah kuno dengan pengalaman budaya kontemporer.

Petra sendiri bukan sekadar lokasi pertunjukan biasa; situs ini merupakan Warisan Dunia UNESCO yang menjadi tulang punggung industri wisata mancanegara di Yordania. Terkenal dengan arsitektur kuil megah yang dipahat langsung pada dinding batu berwarna merah muda, Petra memiliki nilai sentimental dan ekonomis yang tinggi. Benturan antara nilai-nilai politik solidarisitas Palestina yang diusung BDS dan kepentingan ekonomi-pariwisata yang diperjuangkan penyelenggara menciptakan dinamika kompleks yang sulit diselesaikan tanpa kompromi substansial.

Analisis Redaksi

Perdebatan seputar konser Andrea Bocelli di Petra menyingkap ketegangan struktural antara diplomasi budaya dan solidaritas politik di Timur Tengah. Bagi gerakan BDS, seni tidak berdiri netral ketika pelaku budayanya terlibat aktif dalam mesin propaganda atau logistik militer negara lawan. Penolakan mereka bukan semata-mata soal selera musik, melainkan upaya menjaga integritas naratif perlawanan terhadap pendudukan. Jika Petra dibiarkan menjadi panggung bagi figur yang dianggap bersimpati pada tindakan militer Israel, hal itu berpotensi mereduksi makna simbolik situs tersebut sebagai monumen perjuangan bangsa-bangsa tertindas.

Di sisi lain, pendekatan pragmatis penyelenggara yang menekankan dampak pariwisata mencerminkan dilema klasik negara-negara berkembang: menyeimbangkan kebutuhan ekonomi mendesak dengan prinsip etika global. Namun, mengandalkan citra positif melalui tokoh yang kontroversial justru berisiko memicu sentimen negatif jangka panjang dari audiens internasional yang semakin sadar akan isu HAM. Langkah selanjutnya yang paling rasional bukanlah pembatalan sepihak atau pemaksaan penjualan tiket, melainkan dialog transparan mengenai batas-batas ekspresi artistik versus tanggung jawab sosial, agar Petra tidak terjebak menjadi arena pertarungan opini publik yang memecah belah pasar wisatanya sendiri.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸