Review Film 'Empat Musim Pertiwi': Trauma, Surealisme, dan Perjuangan Putri Marino
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Kamila Andini kembali menyapa layar lebar dengan Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java), sebuah karya yang tidak sekadar menawarkan narasi dramatis biasa. Film ini mengajak penonton menyelami kedalaman emosi manusia, trauma, hingga dimensi spiritual yang berpadu dengan elemen fiksi ilmiah. Berangkat dari premis sederhana tentang pengalaman pulang kampung yang bagi sebagian orang justru menjadi sumber ketidaknyamanan, Kamila berhasil meracik cerita yang kompleks namun tetap membumi.
Pertiwi, diperankan oleh Putri Marino, menghadapi realita pahit saat mudik ke kawasan Bromo-Tengger. Suasana di sana digambarkan sedingin jelang subuh, jauh dari citra hangat penyambutan keluarga atau kenangan manis masa lalu. Naskah tulisan Kamila Andini menampilkan dilematika ini dengan presisi tinggi, sementara Batara Goempar menyajikan balutan gambar sinematik yang memperkuat nuansa dingin dan isolasi psikologis tokoh utama. Penonton diajak merasakan langsung betapa traumatisnya lokasi tersebut bagi sang protagonis.
Riset mendalam Kamila bersama para penyintas kekerasan seksual diterjemahkan melalui adegan-adegan metaforis yang membawa penonton melintasi batas antara surealis dan fantasi. Tim produksi di bawah arahan Dita Gambiro, beserta divisi editing, tata suara, dan efek visual, bekerja keras menerjemahkan imajinasi liar sutradara ke dalam bentuk audiovisual. Kerja kolektif ini layak mendapat apresiasi khusus mengingat sulitnya menggambarkan kompleksitas pikiran penyintas ke dalam visual yang mungkin asing bagi masyarakat umum.
Film ini memilih pendekatan slow-burn selama 2 jam 17 menit durasinya. Dua pertiga bagian awal digunakan untuk menyusun kepingan memori Pertiwi secara bertahap, ditemani lautan pasir berbisik Bromo dan sorot kamera yang menelanjangi kehampaan jiwa sang tokoh. Sebagian penonton mungkin merasa kesulitan mempertahankan fokus di paruh pertama ini karena alur yang lambat dan repetitif, seolah mencerminkan rasa tak berujung yang dialami Pertiwi sebagai penyintas yang mendambakan keadilan tanpa kepastian.
Namun, ketika puncak cerita tiba, lapisan makna mulai terurai. Aksi balas dendam yang tampak barbarik di permukaan ternyata menyimpan pesan lebih mendalam tentang pemulihan. Kamila sengaja membuka ruang tafsir bagi aspek-aspek di luar nalar, tetap bersumber pada kepekaan pribadi yang menyentuh titik sensitif individu maupun kolektif. Performa Putri Marino menjadi tulang punggung film ini; ia menghadirkan beragam emosi dengan konsistensi yang menakjubkan, seolah benar-benar pernah menjalani penderitaan karakternya.
Analisis Redaksi
Terdapat perdebatan wajar mengenai efisiensi narasi di dua pertiga awal film. Durasi panjang yang dipilih Kamila Andini bisa jadi merupakan keputusan artistik untuk mereplikasi sensasi waktu yang terasa membeku bagi korban trauma. Namun, dari sudut pandang komersial dan aksesibilitas audiens luas, beberapa momen repetitif berpotensi menguji kesabaran penonton rata-rata. Ini adalah risiko yang diambil demi integritas emosional cerita, meskipun tidak semua penonton akan mampu menikmati proses "menyusun kepingan" tersebut tanpa bantuan konteks eksternal.
Secara tematik, Empat Musim Pertiwi menegaskan posisi Indonesia dalam diskursus global tentang kekerasan berbasis gender. Terlepas dari status resminya sebagai wakil Academy Awards ke-99 yang masih dapat diperdebatkan, film ini sukses menggambarkan perjuangan perempuan menjaga kewarasan di tengah dunia patriarki toksik. Kombinasi keindahan alam Indonesia dengan horor psikologis personal menciptakan kontras tajam yang mengingatkan kita bahwa trauma sering kali bersembunyi di balik lanskap yang tampak tenang dan indah.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA
