Pertamina Dorong Kemandirian Ekonomi Penenun Perempuan di Lombok via AFT BIL

Ekonomi
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: Antara News
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pertamina Dorong Kemandirian Ekonomi Penenun Perempuan di Lombok via AFT BIL
BAGIKAN:

PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) mengambil peran strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi perempuan penenun di kawasan Nusa Tenggara Barat. Inisiatif ini bukan sekadar bantuan sosial biasa, melainkan bentuk pemberdayaan berkelanjutan yang menyasar akar masalah ketimpangan pendapatan bagi kelompok rentan.

Dukungan tersebut diwujudkan lewat program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada peningkatan kapasitas produksi dan akses pasar bagi para pengrajin tenun lokal. Dengan memanfaatkan infrastruktur logistik dan jaringan korporasi, Pertamina berupaya memotong rantai distribusi yang selama ini merugikan produsen kecil di tingkat desa.

Lombok memiliki tradisi tenun songket dan sasak yang kaya nilai budaya namun sering kali terkendala oleh modal terbatas serta minimnya inovasi desain. Para penenun mayoritas adalah ibu rumah tangga yang bekerja secara mandiri atau berkelompok tanpa dukungan teknologi modern maupun jaminan pemasaran jangka panjang.

Melalui kolaborasi dengan komunitas lokal, AFT BIL membantu fasilitasi pelatihan manajemen usaha sederhana serta standarisasi kualitas produk agar memenuhi ekspektasi konsumen urban dan wisatawan asing. Langkah ini dinilai efektif untuk meningkatkan daya saing produk tekstil tradisional di tengah gempuran barang impor murah.

Dampak dari intervensi ini mulai terasa pada stabilisasi penghasilan keluarga penenun yang kini lebih terprediksi. Keterlibatan BUMN energi ini juga membuka peluang sinergi lintas sektor antara industri hulu migas dengan sektor kerajinan rakyat, menciptakan ekosistem ekonomi sirkular yang inklusif.

Analisis Redaksi

Pelibatan Pertamina Patra Niaga dalam isu pemberdayaan perempuan menunjukkan pergeseran paradigma CSR dari charity menuju sustainable development goals (SDGs). Ini bukan hanya soal citra perusahaan, tetapi bukti bahwa aset negara bisa dioptimalkan untuk mengentaskan kemiskinan struktural di daerah operasi. Namun, keberlanjutan program sangat bergantung pada konsistensi pendampingan pasca-bantuan awal berakhir.

Yang perlu diwaspadai adalah potensi ketergantungan baru jika mekanisme transfer pengetahuan tidak berjalan mulus ke generasi muda penenun. Jika model bisnis ini berhasil direplikasi, ia bisa menjadi blueprint bagi terminal-terminal lain milik Pertamina di seluruh Indonesia untuk berkontribusi nyata pada penguatan ekonomi mikro lokal, sekaligus memperkecil kesenjangan pusat-daerah.

Meow! Tanya Nesi!
😸