Asap Karhutla Palangka Raya Pegetik Tujuh Hari, 86 Hotspot Masih Ungguli Sumsel
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Asap kebakaran hutan dan lahan semakin mencekik wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hingga Jumat (9/10), dengan 86 titik panas berkepercayaan tinggi masih terpantau oleh sistem Kementerian Kehutanan.
Suteja, warga Kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya, mendeskripsikan kondisi udara setempat yang kian memburuk. "Pagi dan siang pekat. Pemandangan menguning, udaranya sangat kotor," ujar Suteja kepada CNNIndonesia.com, Jumat (9/10).
Suteja membagikan foto yang diambil di Jalan Tjilik Riwut pada pukul 09.55 WITA, memperlihatkan langit yang menguning hingga menutupi masjid dan pohon di seberang jalan. Menurut Suteja, langit menguning ini sudah berlangsung tujuh hari, namun kabut asap pekat telah memasuki bulan ketiga.
"Sempat ada hujan di beberapa daerah di Kota Palangka Raya sepertinya akibat dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetapi hujan itu hanya sebentar sekitar 30 menit atau kurang dari 1 jam, yang malah asap jadi semakin tebal," jelasnya. Gangguan ini menyebabkan anak sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh dan aktivitas bekerja terganggu.
Sebagai pekerja pemasaran di sebuah resort setempat, Suteja menunjukkan perbandingan foto lokasi kerja sebelum dan sesudah terdampak asap, yang kini tampak gersang dan gelap. Ia menyebut, rumah harus memiliki ruangan khusus yang ditutup rapat dengan plastik agar aman dari asap.
Menurut Suteja, karhutla serupa terjadi di 2015 dan 2019, dengan 2015 menjadi tahun terparah. Ia khawatir karhutla tahun 2026 dapat berubah menjadi separah tahun 2015. "Kemampuan pemerintah untuk menangani karhutla ini sumber tenaganya sudah habis, kita hanya berharap dengan hujan lebat semalaman," katanya.
Kebutuhan masker N95 atau KN95, vitamin C, obat-obatan, dan kacamata untuk tim relawan pemadam kebakaran masih terhambat karena penerbangan Bandara Tjilik Riwut sudah sekitar dua minggu ditutup. Bantuan logistik kini hanya bisa dikirim lewat jalur laut dan darat.
Kementerian Kehutanan kini memberikan perhatian lebih pada wilayah Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Data SiPongi per Kamis (8/10) menunjukkan keduanya merupakan provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas.
Analisis Redaksi
Meningkatnya titik panas di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menunjukkan tekanan ganda pada upaya penanganan kebakaran. Ketergantungan pada jalur laut dan darat untuk distribusi logistik mempercepat keterlambatan bantuan, sementara sumber daya pemadam di lapangan mulai terkuras.
Langkah logis berikutnya adalah mengaktifkan jalur distribusi darurat dan meningkatkan koordinasi lintas lembaga. Tanpa percepatan pasokan masker dan bahan kebutuhan pokok, dampak kesehatan dan ekonomi masyarakat akan terus menumpuk.