Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Koloni Penguin Terbesar di Dunia Anjlok Dua Pertiga Akibat Krisis Iklim

TeknologiReza AdityaReza AdityaSumber: CNN Teknologi
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Koloni Penguin Terbesar di Dunia Anjlok Dua Pertiga Akibat Krisis Iklim
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Kehidupan koloni penguin terbesar di dunia di Pulau Zavodovski kini berada di ambang kehancuran.
  • Populasi penguin chinstrap di pulau terpencil tersebut menyusut drastis sekitar dua pertiga sejak tahun 2011, sebuah fenomena yang diduga kuat dipicu oleh krisis iklim global.
  • Penelitian mutakhir yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada Rabu (7/10) mengungkap kecepatan penyusutan ini jauh melampaui perkiraan awal.

Kehidupan koloni penguin terbesar di dunia di Pulau Zavodovski kini berada di ambang kehancuran. Populasi penguin chinstrap di pulau terpencil tersebut menyusut drastis sekitar dua pertiga sejak tahun 2011, sebuah fenomena yang diduga kuat dipicu oleh krisis iklim global.

Penelitian mutakhir yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada Rabu (7/10) mengungkap kecepatan penyusutan ini jauh melampaui perkiraan awal. Para ilmuwan memperingatkan bahwa hilangnya sebagian besar populasi burung laut ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahaya bagi stabilitas ekosistem Antarktika secara keseluruhan.

Norman Ratcliffe, pemimpin riset sekaligus ahli ekologi penguin dari British Antarctic Survey, menggambarkan skala kerugian tersebut dengan lugas. "Ini merupakan penurunan populasi yang sangat besar, setara dengan hilangnya setengah juta individu yang berkembang biak dari pulau tersebut," katanya, sebagaimana dikutip dari The Guardian. Pada penghitungan tahun 2011, Zavodovski masih dihuni sekitar 600.000 ekor penguin chinstrap dan 90.000 ekor penguin makaroni.

Dampak demografis ini berpotensi meruntuhkan hierarki geografis satwa liar di kawasan kutub selatan. Dengan kondisi terkini hingga 2025, Zavodovski kemungkinan kehilangan statusnya sebagai rumah bagi koloni penguin terbesar di dunia. Gelar tersebut diperkirakan akan beralih ke Cape Adare di Laut Ross, menandai pergeseran pusat gravitasi kehidupan penguin akibat tekanan lingkungan.

Akar masalahnya terletak pada ketidakmampuan spesies ini beradaptasi dengan perubahan suhu laut yang ekstrem. Pemanasan akibat aktivitas manusia telah menaikkan suhu musim dingin di Semenanjung Antarktika hingga lima derajat Celsius di atas tingkat praindustri. Data pelacakan menunjukkan penguin chinstrap sangat bergantung pada krill Antarktika di perairan dingin sebelah barat laut Zavodovski, namun mangsa utama mereka kini bergeser ke selatan menuju Laut Weddell seiring naiknya temperatur air.

Fakta lapangan semakin memperkuat tesis dampak pemanasan global. Pada 6 Juni 2026, pangkalan Esperanza milik Argentina di Semenanjung Trinity mencatat rekor suhu musim dingin terpanas sebesar 15,4 derajat Celsius—angka yang mengejutkan karena mencapai sekitar 20 derajat Celsius di atas normal untuk periode tersebut. Sementara itu, meskipun populasi penguin makaroni meningkat 30 persen berkat variasi makanan yang lebih luas, pertumbuhan ini tidak mampu menutupi lubang besar ditinggalkan oleh kepunahan lokal penguin chinstrap.

Analisis Redaksi

Ratcliffe menggunakan analogi permainan Jenga raksasa untuk menjelaskan urgensi situasi ini: setiap komponen ekosistem yang hilang meningkatkan risiko keruntuhan total. Hilangnya setengah juta pasangan penguin chinstrap bukan hanya soal angka, tetapi tentang putusnya rantai makanan vital. Peneliti telah menyingkirkan faktor lain seperti kompetisi antar-spesies atau letusan gunung berapi pada 2016; data menunjukkan penurunan terjadi secara bertahap dan konsisten, mengarahkan tuduhan tunggal kepada perubahan iklim antropogenik.

Publik perlu waspada terhadap efek domino ini. Jika tren saat ini berlanjut, seluruh spesies penguin di kawasan tersebut akan menghadapi kelangkaan ruang hidup dan sumber daya. Kasus Zavodovski menjadi cermin nyata betapa rapuhnya keseimbangan alam kutub ketika dihadapkan pada laju pemanasan yang tak terkendali, menuntut respons kebijakan global yang lebih agresif daripada sekadar peringatan ilmiah.

Meow! Tanya Nesi!
😸