Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

IMX 2026 Hadirkan Legenda JDM untuk Transfer Ilmu ke Generasi Muda

OtomotifSiska AmeliaSiska AmeliaSumber: CNN Otomotif
Siska Amelia
Siska Amelia
Rider & Reviewer

Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

IMX 2026 Hadirkan Legenda JDM untuk Transfer Ilmu ke Generasi Muda
BAGIKAN:

Indonesia Modification & Lifestyle Expo (IMX) 2026 resmi membuka pintunya hari ini, Jumat (9/10), di Hall 1-3 ICE BSD City, Tangerang. Pameran otomotif tahunan yang kini memasuki penyelenggaraan kesembilan ini menempatkan transfer pengetahuan dari para legenda modifikasi dunia kepada generasi muda sebagai agenda utama. Project Director IMX 2026, Andre Mulyadi, menegaskan bahwa fokus tahun ini adalah menjembatani celah pengalaman antara senior dan junior dalam ekosistem aftermarket nasional.

Panggung IMX 2026 tidak sekadar menjadi etalase kendaraan hasil rekayasa teknik. Ia hadir sebagai ruang kelas terbuka bagi ratusan ribu pengunjung. Kehadiran tiga ikon Japanese Domestic Market (JDM)—Keiichi Tsuchiya, Nobuteru Taniguchi, dan Max Orido—menjadi magnet kuat bagi komunitas. Mereka didampingi oleh deretan builder dan tuner internasional papan atas seperti Kei Miura, Hironao Yokomaku, Takahiro Ueno, Toshiya Ichiraku, Takahiro Kataoka, The Big Mike, serta Musa Musartwork. Tidak ketinggalan, pembalap dan drifter perempuan Maaya Orido dan Sara Choi turut meramaikan acara yang konsisten digelar sejak 2018 ini.

Andre Mulyadi menjelaskan strategi di balik pemilihan narasumber tersebut. "Tahun ini kami memang fokus untuk mentransferkan ilmu-ilmu dari para legenda yang kami hadirkan untuk bisa transfer ke teman-teman yang generasinya lebih muda, ke Gen Z, bahkan Gen Alpha," ujar Andre saat memberikan sambutan pembukaan pada Jumat (9/10). Pernyataan ini menggarisbawahi urgasi regenerasi dalam budaya modifikasi yang sering kali dianggap hobi semata, padahal memiliki nilai ekonomi kreatif yang tinggi.

Data internal menunjukkan relevansi target pasar ini. Demografi pengunjung IMX didominasi kelompok usia produktif muda. Rentang usia 15 hingga 35 tahun menguasai hampir seluruh lantai pameran, dengan porsi mencapai 80 persen dari total kunjungan. Angka ini bukan statistik biasa; ia menandakan pergeseran pusat gravitasi industri otomotif Indonesia dari kolektor tua menuju kreator muda yang haus inspirasi dan validasi karya.

Dukungan pemerintah terhadap tren ini terlihat jelas melalui kehadiran Setia Diarta, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian. Setia menekankan bahwa keberlanjutan industri aftermarket tanah air bergantung pada kreativitas generasi penerus. "Tema Next Gen Culture yang diangkat menegaskan satu hal, masa depan industri aftermarket otomotif ada di tangan generasi milenial dan generasi Gen Z. Regenerasi talenta, kreativitas, dan ide inovasi mereka adalah kunci untuk membawa industri ini naik ke atas," tutur Setia Diarta.

Trajectory pertumbuhan IMX sendiri membuktikan efektivitas pendekatan ini. Sejak debutnya pada 2018 dengan catatan sekitar 11.000 pengunjung, angka partisipasi melonjak drastis hingga mendekati 74.000 orang pada edisi 2025. Ekspansinya pun menembus batas geografis. Rangkaian Road to IMX 2026 telah menyasar lokasi strategis global dan lokal, mulai dari Osaka Automesse di Jepang, Candi Prambanan di Yogyakarta, Surabaya, hingga rencana lanjutan ke ajang IMX USA Series pada November 2026 mendatang.

Analisis Redaksi

Kehadiran nama-nama besar JDM di IMX 2026 bukan sekadar gimmick pemasaran. Ini adalah langkah taktis untuk memformalkan jalur mentorship informal yang selama ini berjalan di komunitas bawah tanah. Dengan mempertemukan legenda hidup dengan Gen Z dan Alpha, IMX menciptakan legitimasi sosial bagi hobi modifikasi. Bagi industri, ini berarti potensi peningkatan kualitas output karya anak bangsa karena standar teknis dan estetika dinaikkan langsung oleh sumbernya. Namun, tantangannya terletak pada penyerapan materi. Apakah transfer ilmu ini akan menghasilkan inovasi produk lokal yang kompetitif secara global, atau hanya berhenti pada apresiasi visual sesaat?

Perlu diwaspadai juga risiko komersialisasi berlebihan yang dapat menggerus esensi edukasi. Jika interaksi antara legenda dan pemula terlalu dikemas sebagai sesi foto berbayar tanpa substansi diskusi teknis mendalam, maka tujuan regenerasi talenta yang digaungkan Kemenperin bisa gagal tercapai. Langkah selanjutnya yang logis adalah integrasi kurikulum workshop praktis pasca-pameran, sehingga momentum pertemuan fisik ini berlanjut menjadi program pembinaan jangka panjang. Tanpa follow-up struktural, antusiasme 74.000 pengunjung hanyalah angka vanity metrics yang tidak berdampak nyata pada daya saing industri aftermarket nasional.

Meow! Tanya Nesi!
😸