Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Empat Musim Pertiwi: Trauma, Ostrakisme, dan Suara Perempuan dalam Film Kamila Andini

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Empat Musim Pertiwi: Trauma, Ostrakisme, dan Suara Perempuan dalam Film Kamila Andini
BAGIKAN:

Film Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) resmi menghiasi layar lebar Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Karya sutradara Kamila Andini ini tidak sekadar menyajikan drama keluarga, melainkan membedah luka batin seorang perempuan penyintas kekerasan seksual yang kembali ke kampung halamannya setelah dua dekade menghilang. Dibintangi oleh Putri Marino dan Arya Saloka, film ini sekaligus mengemban misi penting sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di ajang Academy Awards atau Oscar 2027.

Pertiwi, tokoh utama yang diperankan Putri Marino, pulang ke desa dengan beban psikologis yang berat. Ia meninggalkan rumah tempat ia lahir dan besar saat berusia 16 tahun, sebuah keputusan impulsif akibat trauma masa lalu. Kini, ketika ia mencoba menata ulang hidupnya, interaksi dengan orang tua terasa canggung namun tetap disambut hangat. Namun, dinamika sosial di luar lingkaran keluarganya jauh lebih kompleks. Kabar kepulangannya menyebar cepat, menarik perhatian Bisma, mantan kekasihnya yang kini telah berkeluarga. Bagi Bisma, pertemuan itu membangkitkan nostalgia cinta lama yang belum tuntas, mendorongnya untuk mendekati Pertiwi lagi. Sebaliknya, Pertiwi memilih menolak pendekatan tersebut demi menjaga jarak emosional dari masa lalunya yang kelam.

Narasi film ini kemudian bergeser pada pengamatan kritis Pertiwi terhadap realitas sosial desanya. Ia menyusuri sudut-sudut kampung yang berubah drastis selama 20 tahun terakhir, mencari sosok-sosok yang pernah menjadi sandaran hatinya. Di sinilah ironi kehidupan masyarakat terungkap jelas. Kuntet, tetangga lamanya yang memiliki kebutuhan khusus, justru dipasung karena dianggap gila oleh warga. Sementara itu, Mak Ira, seorang mantan pekerja seks komersial, terpaksa tidur di warungnya di tengah padang pasir Pegunungan Tengger karena ditolak tinggal di pemukiman penduduk. Kondisi ini memicu refleksi mendalam bagi Pertiwi mengenai kemunafikan moral yang berakar kuat di komunitas tersebut.

Kritik sosial dalam Empat Musim Pertiwi menyentuh aspek hipokrisi struktural. Pertiwi mengamati bahwa rumah bordil dihancurkan atas nama agama atau norma, tetapi praktik minuman keras dan judi dibiarkan beroperasi bebas di bawah radar pejabat lokal. Koruptor dilindungi status quo, sementara individu yang dianggap "berbeda" atau menyimpang dari norma mayoritas dikucilkan tanpa ampun. Merasa gerah dengan ketidakadilan sistematis ini, Pertiwi mengambil inisiatif membangun rumah aman. Tempat perlindungan ini ditujukan bagi dirinya sendiri serta teman-teman sesama korban ostrakisme sosial, menciptakan ruang alternatif di mana mereka bisa pulih tanpa stigma.

Proses produksi film ini melibatkan kolaborasi internasional yang luas, mencakup mitra dari Singapura, Belanda, Norwegia, Jerman, Prancis, Polandia, dan Thailand. Diproduseri oleh Ifa Isfansyah, karya ini melanjutkan jejak sukses Kamila Andini sebelumnya melalui Yuni (2021) dan Before, Now & Then (Nana) (2022). Secara akting, deretan pemain pendukung seperti Christine Hakim, Hana Malasan, Nagra Kautsar, Dwika Pradnyana, dan Hanna Aretha memperkuat kedalaman emosi cerita. Sebelum rilis domestik, film ini telah mendapat apresiasi global lewat penayangan perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 dalam program Centerpiece, serta tampil di Busan International Film Festival 2026 pada segmen A Window on Asian Cinema.

Analisis Redaksi

Pemilihan Empat Musim Pertiwi sebagai perwakilan Indonesia di Oscars 2027 bukan tanpa alasan strategis. Film ini berhasil menjembatani isu lokal yang sangat spesifik—seperti pasung bagi ODGJ dan diskriminasi gender—dengan tema universal tentang trauma, memori kolektif, dan proses pemulihan. Pernyataan Kamila Andini menegaskan bahwa akar cerita berada di konteks Indonesia, namun pertanyaannya relevan bagi penonton global. Ini menunjukkan kedewasaan sineas muda Indonesia dalam mengangkat materi sensitif tanpa terjebak dalam melodrama murahan, melainkan menawarkan observasi sosiologis yang tajam dan empatik.

Bagi publik Indonesia, tayangnya film ini seharusnya menjadi momentum untuk mendiskusikan ulang kebijakan kesehatan mental dan hak-hak kelompok marginal di tingkat desa. Fakta bahwa karakter utama harus membangun "rumah aman" secara mandiri mengkritisi absennya negara dalam melindungi warganya yang rentan. Analisis redaksi mencatat bahwa keberhasilan film ini di festival internasional juga membuka peluang investasi perfilman yang lebih serius terhadap isu-isu kemanusiaan, bukan hanya hiburan semata. Penonton dewasa 17+ diharapkan mampu mencerna lapisan-lapisan kritik sosial ini sebagai cermin bagi realitas bangsa kita hari ini.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸