Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Eliawati Tegaskan Benyamin S Award Hadirkan Kolaborasi Gotong Royong di 27 Kelurahan

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Eliawati Tegaskan Benyamin S Award Hadirkan Kolaborasi Gotong Royong di 27 Kelurahan
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Bagi mantan birokrat senior ini, lahirnya BSA berangkat dari kesadaran mendasar bahwa Pemprov DKI tidak bisa berjalan sendiri.
  • Ia menegaskan, "Kami menginginkan bahwa BSA ini tidak hanya milik program Pemprov DKI Jakarta, tapi ini adalah program kita semuanya.
  • Kita paham bahwa pemerintah tidak bisa jalan sendiri, tapi kita memang harus berkolaborasi." Kunjungan ke lapangan tersebut menjadi momen krusial bagi Pemprov untuk memetakan kebutuhan warga secara nyata.

Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menekankan bahwa Benyamin S Award (BSA) bukan sekadar formalitas program pemerintah daerah, melainkan ruang kolaborasi yang mengikutsertakan masyarakat secara langsung. Penegasan ini ia sampaikan saat berkunjung ke Kelurahan Sukabumi Utara pada Kamis (8/10), sekaligus memberikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah melampaui ekspektasi dalam penyelenggaraan ajang penghargaan tersebut.

"Sekali lagi saya ucapkan selamat untuk seluruh peserta, tadi Pak Lurah menyampaikan BSA itu kan hanya sekadar program, tapi bagaimana kita mengikutsertakan masyarakat, bagi saya adalah sangat keren sekali," ujar Eliawati. Bagi mantan birokrat senior ini, lahirnya BSA berangkat dari kesadaran mendasar bahwa Pemprov DKI tidak bisa berjalan sendiri. Ia menegaskan, "Kami menginginkan bahwa BSA ini tidak hanya milik program Pemprov DKI Jakarta, tapi ini adalah program kita semuanya. Kita paham bahwa pemerintah tidak bisa jalan sendiri, tapi kita memang harus berkolaborasi."

Kunjungan ke lapangan tersebut menjadi momen krusial bagi Pemprov untuk memetakan kebutuhan warga secara nyata. Eliawati mencatat antusiasme warga dalam program pilah sampah yang ia anggap sebagai lompatan berpikir ke arah ekonomi sirkular (circular economy). "Program-program pilah sampah ini kan sesuatu hal yang bagus. Seluruh masyarakat ternyata bisa loh menyelenggarakan loh, bahkan sampai kemudian berpikirnya itu jauh ke depan, sampah-sampah bisa kemudian dijadikan circular economy, dan ini bagi saya adalah sangat-sangat keren sekali," paparnya. Ia menilai pemberdayaan ibu-ibu di tingkat akar rumput yang berdampak kembali pada kesejahteraan mental warga adalah bukti nyata kemapanan sosial, bukan hanya finansial.

Secara faktual, BSA diselenggarakan oleh Biro Kerja Sama Daerah, Sekretariat Daerah (Setda) DKI Jakarta. Ajang ini bertujuan memberikan penghormatan kepada kelurahan yang berkomitmen mewujudkan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Dari total 52 kelurahan pendaftar, seleksi ketat memfilter peserta menjadi 27 kelurahan. Saat ini, 10 kelurahan finalis telah ditentukan untuk mengikuti penjurian akhir. Puncak acara sekaligus pemberian penghargaan dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Menutup kunjungannya, Eliawati menginstruksikan agar keberhasilan di kelurahan-kelurahan finalis dapat disebarluaskan sebagai praktik baik. "Yuk kita syiarkan kebaikan-kebaikan ini, contoh-contoh baik ini, kalau kemudian ada yang perlu disempurnakan ini adalah hal yang wajar. Kita punya wali kota, bupati, camat, lurah, dan perangkatnya adalah RT, RW, kita senantiasa melibatkan," pungkasnya. Ia berharap rantai komando dan partisipasi ini terus terjalin tanpa putus, menjadikan BSA sebagai etalase kemandirian warga ibu kota.

Analisis Redaksi

Penekanan Suharini Eliawati mengenai kolaborasi menunjukkan pergeseran paradigma birokrasi DKI dari pendekatan top-down menuju bottom-up yang masif. Dengan mengerucutkan 52 pendaftar menjadi 27 peserta dan menjaring 10 finalis, Pemprov sebenarnya sedang menyaring kualitas implementasi kebijakan, bukan sekadar kuantitas pelaporan. Jika klaim 'circular economy' dan pemberdayaan mental warga yang disebutkan benar-benar terukur di lapangan, maka BSA berpotensi menjadi instrumen strategis mengurangi beban APBD untuk pengelolaan sampah melalui inisiatif swadaya warga.

Yang perlu diwaspadai adalah jeda waktu antar fase. Tanggal kunjungan 8 Oktober (kemungkinan 2025 atau 2024) berjarak cukup jauh dengan puncak acara 30 Oktober 2026. Ini menyiratkan bahwa BSA adalah agenda jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Jika tidak ada supervisi berkala, 'kekuatan' di awal bisa tergerus oleh rutinitas birokrasi. Kunci keberhasilan ada pada kelanjutan setelah acara puncak, apakah sistem RT-RW yang diklaim Eliawati ini akan bertahan atau hanya menjadi aktivitas sesaat demi predikat juara.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ