YouTube Raih 140 Juta Pengguna di RI, Kontribusi Ekonomi Tembus Rp8,4 Triliun per Tahun
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

- Google Indonesia mencatat jumlah pengguna YouTube di dalam negeri telah menembus lebih dari 140 juta orang setiap bulan, angka yang setara dengan 89 persen populasi online di Indonesia.
- Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, menjelaskan bahwa pola konsumsi konten mengalami pergeseran signifikan.
- Pengguna tidak lagi terpaku pada layar gawai atau komputer, melainkan melirik ke televisi terhubung atau connected TV.
Google Indonesia mencatat jumlah pengguna YouTube di dalam negeri telah menembus lebih dari 140 juta orang setiap bulan, angka yang setara dengan 89 persen populasi online di Indonesia. Data tersebut dirilis dalam press briefing YouTube Festival 2026, menandai betapa masifnya adopsi platform video raksasa ini sebagai kanal utama konsumsi hiburan dan informasi bagi masyarakat di seluruh penjuru nusantara.
Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, menjelaskan bahwa pola konsumsi konten mengalami pergeseran signifikan. Pengguna tidak lagi terpaku pada layar gawai atau komputer, melainkan melirik ke televisi terhubung atau connected TV. "Tahun ini sendiri kita melihat ada pertumbuhan 30 persen dari tahun ke tahun untuk watch time di connected TV," ujar Veronica dalam konferensi pers tersebut yang dikutip Detik pada Rabu (7/10). Tren ini mengindikasikan bahwa YouTube kini menjadi bagian integral dari rutinitas keluarga, bukan sekadar aktivitas individual.
Transformasi ini mengubah persepsi YouTube dari sekadar arena doom scrolling menjadi ruang pengikat sosial. Saat konten ditonton di layar besar, interaksi menjadi lebih dalam dan fokus meningkat. "Ketika orang menonton di layar besar di rumah, itu kan berarti mereka benar-benar memperhatikan, mereka engage," ungkap Veronica. Contoh nyatanya terlihat saat final FIFA ASEAN Cup 2026, di mana channel RANS Entertainment mencetak rekor penonton langsung atau concurrent viewers sebanyak 4,5 juta orang, membuktikan peran YouTube sebagai medium komunal untuk menyaksikan peristiwa besar secara serempak.
Di ranah budaya dan ekonomi, platform ini menjadi jembatan bagi talenta lokal menembas pasar global. Veronica menyoroti kasus Isyana Sarasvati yang merilis album Eklektiko, di mana lebih dari 41 persen penontonnya berasal dari luar negeri. "Isyana Sarasvati kemarin dia merilis album Eklektiko dan kalau kita lihat penonton internasionalnya saja di channel-nya Isyana itu lebih dari 41 persen, hampir setengah dari penontonnya itu justru berasal dari luar negeri," jelasnya. Keberhasilan ini sejalan dengan peran YouTube dalam mendistribusi karya musisi dan kreator lain seperti No Na, menjadikannya pusat persebaran budaya yang efektif.
Dampak ekonomi dari ekosistem ini kian terasa. Seluruh rantai nilai YouTube menyumbang Rp8,4 triliun bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025, sekaligus menopang lebih dari 190 ribu lapangan kerja. Nilai kontribusi untuk 2026 masih dalam studi namun diperkirakan akan dipublikasikan segera. Untuk memperkuat perannya dalam ekonomi digital, YouTube kini memposisikan dirinya sebagai platform ramah belanja atau shoppable, memanfaatkan fitur Commerce Media Network, program affiliate YouTube Shopping, dan product tagging untuk memudahkan transaksi berbasis kepercayaan pengguna terhadap kreator.
Analisis Redaksi
Data penetrasi 89 persen populasi online ini mengindikasikan bahwa YouTube telah melewati fase 'platform alternatif' menjadi 'infrastruktur utama' media di Indonesia. Pergeseran kebiasaan menonton ke connected TV bukan hanya statistik, melainkan perubahan pola sosiologis: media mulai menjadi aktivitas bersama yang terukur dampaknya pada engagement, bukan sekadar konsumsi pasif individual. Ini adalah sinyal kuat bagi pengiklan dan kreator bahwa layar televisi kini merupakan medan pertempuran attention ekonomi yang sama pentingnya dengan layar ponsel.
Secara ekonomi, kontribusi Rp8,4 triliun PDB dan 190 ribu lapangan kerja menunjukkan bahwa ekonomi kreator dan perdagangan digital berbasis video sudah masuk dalam arus utama nasional. Integrasi fitur shoppable dan trust-based commerce adalah langkah strategis yang tepat, memanfaatkan modal kepercayaan penonton terhadap kreator untuk mengubah pandangan ke (view) menjadi pendapatan. Namun, regulasi terkait perlindungan data dan transparansi iklan harus berjalan paralel seiring kompleksitas ekosistem yang terus meluas ini.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Anthropic Rilis FlashProve: Bukti Kriptografi untuk Memastikan Identitas Model AI

Data Center AI Beralih ke Mesin Jet Bekas Demi Kecepatan Listrik
