Salinan Ijazah Bung Hatta Dipajang Permanen di Kampus Ternama Belanda
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Salinan ijazah Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta kini dipajang secara abadi di Erasmus University Rotterdam (EUR), sebuah kampus ternama di Belanda, sebagai penghormatan atas dedikasi sang tokoh pendiri bangsa.
Di aula sebuah bangunan yang kini bernama Hatta Building, dokumen kelulusan Hatta tersebut dipamerkan. Penamaan gedung ini bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghargaan langsung terhadap perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia. Bangunan ini menjadi saksi bisu bahwa jejak akademiknya tidak pernah terputus dari institusi tempat ia menuntut ilmu.
Perjalanan Hatta ke Eropa dimulai pada 1921, setelah ia lulus dari Prins Hendrik School di Batavia pada Mei 1921. Sekolah setingkat SMA ini, yang kini dikenal sebagai SMAN 1 Budi Utomo, menjadi fondasi awal sebelum ia melanjutkan studi di Belanda dengan dana beasiswa Van Deventer-Stichting. Di Belanda, ia mengenyam pendidikan di Nederland Handelshogeschool, yang kini dikenal dengan nama EUR.
Selepas tamat dari jenjang menengah di tanah air, Hatta tidak hanya fokus pada studi ekonomi, tetapi juga aktif dalam gerakan politik. Ia bergabung dengan organisasi Perhimpunan Indonesia dan berhasil terpilih sebagai ketua pada periode 1926-1930. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut bertransformasi menjadi badan politik yang tegas mengumandangkan asas non-kooperasi demi kemerdekaan, menandai pergeseran strategis dalam pergerakan nasional.
Puncak dari pengabdiannya di ranah akademik tercapai pada Juni 1932, ketika ia lulus sebagai doktor bidang ekonomi bagian pertama, disusul bagian kedua sebulan kemudian. Dalam memoarnya, Hatta mengungkapkan kegembiraannya atas kelulusan ini, meski tidak dengan predikat cum laude. Ia menyadari bahwa durasi studinya yang hampir 11 tahun jauh lebih lama dari standar lima tahun, namun ia menilai itu sebagai proses yang wajar.
Analisis Redaksi
Penghormatan berupa penamaan gedung dan pajangan ijazah di EUR menunjukkan rekonsiliasi historis yang kuat antara Indonesia dan Belanda. Bukan hanya mengakui peran Hatta sebagai aktor kunci kemerdekaan, institusi Eropa ini mengakui bahwa identitas nasional Indonesia dibangun di atas fondasi akademis dan politik yang dirintis di tanah mereka. Ini adalah validasi internasional terhadap narasi perjuangan nasional yang sering kali hanya didominasi oleh catatan dalam negeri.
Dua hal penting perlu dicermati dari fakta ini. Pertama, transformasi peran mahasiswa dari organisasi sosial menjadi agen politik non-kooperasi di bawah Hatta menunjukkan betapa cepatnya adaptasi intelektual muda terhadap tekanan kolonial. Kedua, durasi studi yang panjang namun berkualitas tinggi (doktoral) menandakan adanya kedalaman intelektual yang mendasari keputusan politiknya. Pengakuan akademis global ini seharusnya menjadi landasan bagi diplomasi budaya Indonesia untuk lebih aktif menautkan kembali narasi sejarah bersama dengan mitra internasional.
Ke depan, langkah logis dari institusi pendidikan Indonesia adalah memanfaatkan fakta ini untuk memperkuat pertukaran pelajar dan penelitian bersama dengan EUR. Bukan hanya sebagai tamu, melainkan sebagai mitra sejarah. Penghormatan fisik terhadap Hatta di Eropa membuka celah bagi negosiasi diplomatik dan kultural yang lebih substantif, menjauhkan diri dari sekat-sekat memori kolektif yang biasanya memisahkan kedua negara.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Momen Canggung Raja Charles di Antigua: Kehujanan dan Mencari Payung di Parade Kemerdekaan

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik
