HPP Telur Anjlok ke Rp17.100/kg, Peternak Blitar Merugi Berbulan-bulan dan Jagung Bulog Tersendat
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Kerugian struktural kini merasuki kantong peternak ayam petelur nasional seiring harga jual di tingkat peternak yang rata-rata hanya Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) Rp26.500/kg yang diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 6 Tahun 2024. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi IV DPR RI pada Rabu (7/10), Pengurus Pinsar Petelur Nasional (PPN), Suwardi, mengungkapkan bahwa kondisi ini memaksa sebagian besar kandang menjadi kosong karena peternak tidak lagi mampu membeli pakan.
Suwardi menjelaskan bahwa tekanan ekonomi ini sudah berlangsung enam bulan terakhir, dengan harga sempat menyentuh titik nadir Rp17.100 per kg pada Juni. Ia memperkirakan setiap peternak menanggung kerugian bersih sebesar Rp5.000 hingga Rp7.000 per kg setiap hari berdasarkan jumlah produksi. Angka ini semakin menyakitkan ketika diperhadapkan dengan fakta bahwa biaya jagung, bahan baku utama pakan, justru mengalami kenaikan signifikan dan semakin sulit diperoleh dengan harga terjangkau.
Krisis likuiditas ini memicu langkah darurat yang drastis di lapangan. Suwardi melaporkan bahwa beberapa rekan sesama peternak terpaksa menjual ayam buruan dengan harga semurah-murahnya, yakni Rp20.000 per ekor, untuk sekadar menutupi utang pakan atau buntung total. "Sudah ada sebagian teman-teman kami yang kandangnya sudah melompong kosong. Sudah tidak sanggup lagi untuk mengasih pakan ayam itu," ujar Suwardi, menggambarkan betapa dalamnya jurang kerugian yang kini mengintai industri unggas domestik.
Di wilayah Blitar, seorang peternak perempuan bahkan menangis di hadapan Komisi IV DPR RI seraya mengungkapkan keputusasaan mereka. Ia menuturkan bahwa pasokan jagung dari Perum Bulog yang seharusnya menjadi penyangga justru tersendat. "Kami seharusnya mati kemarin masih hidup saat ini. Tapi enggak tahu sampai kapan kami akan hidup, dikarenakan juga jagung dari Bulog juga tersendat," katanya dengan suara bergetar. Ia menegaskan bahwa usaha ayam petelur adalah satu-satunya sumber penghasilan bagi banyak petani rakyat yang memiliki lahan terbatas.
Masalah tidak berhenti di sisi produksi; sisi distribusi juga mengalami macet. Suwardi mengungkapkan bahwa kelimpahan produksi justru berujung pada pembuangan barang karena pasar menolak menyerap telur dengan harga rendah. "Telur-telur kami menumpuk. Saya piara ayam di Kalimantan, telurnya sampai kita buang, karena apa? Enggak ada yang beli, harganya murah," paparnya. Peternak kini mendesak pemerintah memasukkan telur ke dalam program bantuan pangan agar kelebihan pasokan ini bisa terserap, bukan dibuang sia-sia.
Analisis Redaksi
Akibat disfungsi mekanisme pasar ini bukan sekadar masalah musiman, melainkan indikasi gagal fungsi subsidi pangan nasional dalam melindungi hulu produksi. Ketika HAP sebesar Rp26.500/kg tidak mampu menghidupi produsen di tengah lonjakan biaya pakan, maka rantai pasok ketahanan pangan mulai tergerus dari akar. Ketergantungan pada jagung Bulog yang tersendat menunjukkan lemahnya logistik negara dalam menghadapi cuaca ekstrem seperti El Nino yang memperparah kebutuhan jagung sebesar 223 ribu ton dalam lima bulan ke depan.
Jika tren kerugian Rp7.000/kg per hari ini dibiarkan tanpa intervensi kebijakan yang masif, kita akan melihat gelombang bankirus massal di kalangan peternak rakyat kecil. Dampaknya akan bersifat sistemik: populasi ayam petelur akan menyusut drastis, yang pada akhirnya akan menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga telur konsumsi secara ekstrem di hilir. Peternak yang kini menangis di parlemen adalah sinyal peringatan dini bahwa fondasi swasembada telur Indonesia sedang retak. Pemerintah tidak bisa lagi hanya bergantung pada mekanisme pasar bebas, karena kapasitas beli pasar ritel saat ini jauh di bawah biaya pokok produksi peternak.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

BEI Catat 23 UKM Siap IPO di 2027 Setelah Ikuti Program Pendampingan

Rapat Koordinasi Kemenko Perekonomian Bahas Percepatan Implementasi Kredit Perempuan Prasejahtera dan Penurunan Bunga Pinjaman

BEI Resmi Keluarkan Saham HSC dari IHSG, Pasar Diprediksi Stabil Tanpa Gejolak
