Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Herdman Perintahkan Timnas Lepas Ego dan Sifat Ngartis Demi Misi Piala Dunia

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Herdman Perintahkan Timnas Lepas Ego dan Sifat Ngartis Demi Misi Piala Dunia
BAGIKAN:

John Herdman mendesak skuad Timnas Indonesia untuk mengikis ego dan sifat demi fokus penuh pada prestasi, sebuah teguran keras yang diungkapkan langsung kepada para pemain di hadapan kamera. Pelatih asal Kanada itu secara eksplisit meminta penghapusan status bintang dan perhatian pada pengikut media sosial sebagai bagian dari proses pembersihan mental tim. Pernyataan ini bukan sekadar nasihat rutin, melainkan fondasi budaya baru yang ingin dibangun sebelum menghadapi turnamen level tinggi.

"Kami sudah mulai menghapus ego pribadi. Kami juga sudah mulai menghapus suara berisik serta mengikis status bintang dan jumlah pengikut media sosial," kata John Herdman kepada CNNIndonesia TV pada Kamis (8/10). Herdman menilai bahwa ego individual dapat mengaburkan misi besar Timnas Indonesia yang bertahap menuju puncak prestasi. Oleh karena itu, sifat egois tidak boleh lagi menjadi penghambat di ruang ganti skuad Garuda. Penekanan pada kolektivitas ini tampaknya menjadi prioritas utama kurikulum latihan saat ini.

Menurut Herdman, pendekatan taktikal seringkali menjadi sorotan utama, tetapi ia berargumen bahwa tim besar harus mengedepankan semangat terlebih dahulu sebelum menerapkan strategi lapangan. "Ini hal penting, benar-benar penting. Menurut saya banyak orang terpaku pada taktik, tapi tim besar adalah yang mengedepankan semangat lebih dulu kemudian pendekatan taktikal," ujarnya. Herdman menambahkan bahwa tanpa semangat tim yang kuat, taktik tidak akan berfungsi optimal dan ego akan merasuki performa para pemain. Logika ini menempatkan mentalitas di atas metode teknis dalam hierarki prioritas tim nasional.

Niat untuk membersihkan mentalitas para pemain ini berujung pada target jangka panjang, yaitu mengolaborasikan performa maksimal di berbagai , terutama Piala Dunia. Herdman menegaskan bahwa misi akhirnya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara sepak bola yang sesungguhnya, dikenal, dan dihormati di kancah internasional. "Tujuan pemahaman ini adalah demi melesatkan negara ini sebagai negeri sepak bola sesungguhnya, dikenal, dan dihormati menuju lolos ke Piala Dunia," ucapnya. Dalam konteks ini, kemenangan di level regional seperti FIFA ASEAN Cup dianggap sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir.

"Itulah misi kami, dan juara FIFA ASEAN Cup adalah satu langkah kecil menuju misi yang lebih besar," tegas Herdman. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa evaluasi prestasi tim tidak lagi terikat pada gelar kontinental saja, melainkan pada progress menuju kualifikasi Piala Dunia. Dengan menegaskan kembali visi besar tersebut, Herdman berharap seluruh elemen tim dapat menyelaraskan ekspektasi mereka. Transisi dari tim nasional yang sekadar tampil di Asia ke tim yang kompetitif di panggung dunia adalah tantangan nyata yang membutuhkan revolusi karakter di luar lapangan.

Analisis Redaksi

Pernyataan John Herdman menandai pergeseran paradigma manajemen tim nasional dari pendekatan teknis-pure menjadi pendekatan budaya dan mentalitas. Dalam sepak bola modern, koherensi tim sering kali kalah oleh dinamika internal yang disfungsional, terutama ketika pemain individu merasa lebih penting daripada kolektif. Herdman secara cerdas mengidentifikasi "suara berisik" media sosial sebagai variabel pengganggu yang harus dieliminasi. Ini bukan hanya tentang disiplin teknis, melainkan tentang kontrol narasi di mana keberhasilan tim tidak boleh dibanjiri oleh klaim individual atau popularitas digital yang tidak relevan dengan performa lapangan.

Secara strategis, penetapan Piala Dunia sebagai "misi besar" memberikan konteks waktu yang jelas bagi evaluasi prestasi. Dengan memandang FIFA ASEAN Cup hanya sebagai "langkah kecil", Herdman mengelola ekspektasi publik dan pemain secara simultan. Jika tim gagal di tingkat Asia, itu boleh diterima sebagai proses; namun jika gagal di jalur kualifikasi Dunia, itu merupakan kegagalan misi. Ini menciptakan tekanan psikologis yang terstruktur, di mana setiap kemenangan regional harus dievaluasi terhadap standar final: apakah ini membangun fondasi untuk lolos ke Piala Dunia? Pendekatan ini mengurangi godaan untuk merayakan kemenangan sempit yang tidak berkontribusi pada peta jalan jangka panjang.

Kemungkinan langkah selanjutnya adalah peningkatan intensitas kontrol terhadap perilaku pemain di luar jam latihan. Jika "menghapus suara berisik" adalah tujuan, dapat diprediksi bahwa tim akan memiliki protokol ketat terkait media sosial dan interaksi dengan media. Pemain akan dinilai bukan hanya dari statistik gol atau assist, tetapi dari kontribusinya terhadap atmosfer ruang ganti. Keberhasilan model ini akan terlihat saat skuad menghadapi tekanan maksimal di pertandingan krusial; apakah mereka akan tetap mengedepankan semangat kolektif ketika hasil tidak sesuai harapan? Herdman sedang membangun tim yang tahan banting secara psikologis, yang merupakan prasyarat mutlak untuk bersaing dengan kekuatan-kekuatan besar di Asia dan dunia.

BERITA TERKAIT (Olahraga)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ