Api Karhutla Geledak Area Kampus Uniska, 28 Hotspot Tercatat di Barito Kuala
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang berkobar sejak Rabu (7/10) siang mengubah lanskap di sekitar Jalan Berangas Timur, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menjadi zona bahaya. Api tidak hanya menghanguskan lahan kosong, tetapi juga mengepung hampir seluruh kawasan kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) dan menghanguskan dua rumah warga di Semangat Bakti. Kejadian ini memicu kepanikan besar, dengan asap pekat berwarna kuning yang menyelimuti area kampus hingga malam hari, mengganggu proses belajar mengajar dan mengancam keselamatan fisik serta psikologis penghuni kawasan tersebut.
Aktivitas kampus lumpuh total di siang hari. Ahmad, salah satu mahasiswa Uniska, mengisahkan bagaimana api muncul dengan skala besar disertai asap yang sangat pekat. "Asapnya sangat pekat berwarna kuning. Ini terjadi baru hari ini, apinya juga sudah mengepung area kampus," kenang Ahmad, dikutip dari detikKalimantan. Ia menambahkan bahwa meski api mulai mereda pada sore hari, kekhawatiran tidak hilang. Bara api yang masih tersisa di sisa lahan terbakar menciptakan potensi laten untuk kobaran baru. "Ini sangat mengganggu aktivitas mahasiswa juga, bahkan warga sekitar juga," tuturnya. Ancaman kabut asap tidak sebatas di dalam gerbang kampus, tetapi telah merambah ke permukiman penduduk di sekitarnya.
Di sisi permukiman, kerusakan nyata terdata. Suparlin Jijan, relawan pemadam kebakaran, memastikan bahwa dua unit rumah warga di Semangat Bakti hangus dalam peristiwa tersebut. "Di Semangat Bakti tadi sudah kena dua rumah warga," ungkapnya. Tekanan untuk memadamkan api berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Hingga Rabu malam, ratusan petugas dari berbagai Pos Pemadaman Kebakaran (PMK) Swasta bergantian melakukan pembasahan lahan. Koordinasi ini menjadi krusial mengingat titik api telah berada di depan wilayah kampus, berbatasan langsung dengan asset pendidikan dan perumahan. Suparlin juga melayangkan peringatan keras kepada masyarakat untuk tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan, sebuah perilaku sepele yang justru bisa memicu api yang sangat sulit dikendalikan dalam kondisi lahan kering.
Angka statistik memperkuat kecemasan. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Hotspot (Sipongi) milik Kementerian Kehutanan, terdapat 28 hotspot di Barito Kuala dalam 24 jam terakhir, berdasarkan pengamatan satelit NASA NOAA20. Angka ini bukan sekadar data mentah, melainkan indikator langsung bahwa kebakaran masih aktif dan masif. Hotspot adalah sinyal dini terjadinya karhutla; sebanyak 28 titik menyala dalam waktu bersamaan menunjukkan bahwa sumber api bukan lagi satu-dua lokasi, melainkan sebuah pola kebakaran yang menyebar. Keberadaan satelit membuktikan bahwa pantauan teknologi ada, namun respons di lapangan yang menentukan dampaknya. Jarak antara hotspot dan area kampus menjadi variabel utama yang membuat situasi ini krusial.
Dampak peristiwa ini berlapis. Bagi mahasiswa, risiko kehilangan hari efektif perkuliahan dan gangguan kesehatan pernapasan akibat polusi asap menjadi realitas baru dalam hitungan jam. Bagi warga Semangat Bakti, kehilangan aset berupa rumah menimbulkan trauma dan biaya pemulihan yang tidak kecil. Bagi institusi pemerintah daerah, ini adalah kegagalan preventif yang memunculkan pertanyaan: mengapa api bisa mencapai batas kampus dan permukiman dengan begitu mudahnya? Imbauan Suparlin agar masyarakat dan pemerintah memperhatikan kondisi ini bukan hanya seruan moral, tetapi panggilan untuk mengevaluasi protokol kesiapsiagaan. Jika bara di depan kampus belum mati total, ancaman esok hari hanyalah menunggu waktu.
Analisis Redaksi
Peristiwa di Barito Kuala menyoroti celah nyata dalam mitigasi bencana di kantong perkotaan yang berdampingan dengan tutupan hutan atau lahan gambut. Fakta bahwa api berhasil mengepung kampus Uniska dan menghanguskan rumah warga menunjukkan bahwa "sekat hijau" atau jalur pemisahan kebakaran mungkin sudah tidak efektif atau tidak pernah dibuat secara serius. Analisis logis dari data 28 hotspot satelit NASA menunjukkan bahwa kebakaran bersifat episodik, namun frekuensinya tinggi di bulan Oktober yang masuk musim pancaroba atau transisi kemarau. Ini mengindikasikan bahwa manajemen risiko berbasis teknologi (satelit) belum diterjemahkan menjadi tindakan preventif preventif di lapangan yang sigap pada waktu yang tepat. Ketiadaan sekat api yang jelas antara kawasan pendidikan/permukiman dan lahan rawan kebakaran adalah variabel struktural yang paling perlu dievaluasi oleh otoritas lokal.
Langkah selanjutnya yang harus diwaspadai adalah potensi re-ignition (kobaran ulang). Pernyataan mahasiswa tentang sisa bara api di sore hari adalah peringatan dini. Jika pembasahan ratusan petugas PMK Swasta belum menyentuh seluruh lapisan tanah yang terbakar—terutama di kawasan gambut yang menyimpan air di kedalaman—api bisa meletus kembali dalam 24-48 jam berikutnya. Otoritas daerah harus menggeser fokus dari sekadar "memadamkan" menjadi "mencari api tersisa" (zero out). Selain itu, insiden ini menuntut transparansi penuh mengenai penyebab awal kebakaran. Jika terbukti ada unsur kesengajaan atau kelalaian dalam pembakaran lahan, penegakan hukum harus segera ditempuh sebagai efek jera. Kewaspadaan publik terhadap asap pekat berwarna kuning yang disebut Ahmad juga harus dibarengi dengan imbauan kesehatan, mengingat paparan partikulat dari kebakaran biomasa dan gambut memiliki efek toksik jangka panjang bagi komunitas kampus dan warga sekitar.

