STY Soroti Minimnya Menit Bermain Pemain Persija di Piala ASEAN, Akui Momen Masuk Lapangan Paling Sulit
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Shin Tae-yong secara terbuka mengungkapkan kritik tajam terhadap minimnya menit bermain yang diterima lima pemain Persija Jakarta saat timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
Timnas Indonesia berhasil menjadi juara turnamen tersebut setelah mengalahkan Thailand dengan skor 4-2 melalui drama adu penalti di final yang berlangsung pada Senin (5/10) di Stadion Utama Gelora Bung Karnu, Jakarta. Kendati demikian, kontribusi langsung dari pemain-pemain berjuluk Macan Kemayoran itu tergolong sangat terbatas di bawah kendali pelatih John Herdman.
Dari total lima pemain Persija yang terdaftar dalam skuad juara, yaitu Rizky Ridho, Shayne Pattynama, Rayhan Hannan, Jordi Amat, dan Nadeo Argawinata, hanya tiga nama yang benar-benar mendapat kesempatan turun. Jordi Amat dan Nadeo Argawinata sama sekali tidak menitipkan nama mereka dalam daftar pemain yang diturunkan oleh Herdman selama turnamen berlangsung.
Rizky Ridho menjadi pemain Persija dengan menit bermain terbanyak, yakni total 139 menit. Rincian menit bermainnya tersebar tipis-tipis: 11 menit saat menghadapi Singapura, 8 menit kontra Malaysia, serta 60 menit kala bertanding melawan Bangladesh dan Thailand. Rayhan Hannan hanya mencatatkan 26 menit, sedangkan Shayne Pattynama baru masuk lapangan pada partai final dan hanya bermain selama 19 menit.
STY menumpahkan unek-uneknya kepada awak media di Persija Training Ground, Depok, pada Rabu (7/10). "Ada pemain yang bermain? Bagaimana saya bisa menilainya? Sebagian besar dari mereka hanya duduk di bangku cadangan," ujar mantan pelatih timnas tersebut dengan nada tegas. Ia menambahkan, "Hannan hanya bermain sebentar sekali, bicara apa. Begitu napasnya baru mau terbuka, pertandingannya sudah selesai. Itu justru bagian yang paling sulit. Tentu para wartawan menyaksikan jalannya pertandingan, tetapi sebenarnya ketika pemain masuk saat laga tersisa sekitar 10 menit, tepat ketika napas mereka baru mulai terengah dan terbuka, pertandingan sudah usai. Momen itulah yang paling berat dan melelahkan bagi pemain," papar STY.
Analisis Redaksi
Kegagalan pemain Persija mendapatkan menit bermain ideal bukan sekadar keluhan pribadi STY, melainkan cerminan dari struktur rotasi timnas yang lebih mengutamakan pemain-pemain berstatus reguler di timnas dengan status kontrak atau kedekatan historis. Minimnya eksposur kompetitif menjadi hambatan psikologis bagi pemain klub yang datang dari liga domestik, di mana intensitas dan tekanan pertandingan di pentas nasional atau internasional memiliki karakter berbeda jauh.
Keputusan John Herdman untuk menahan skor atau hanya memasukkan pemain pelapis di fase akhir pertandingan mengindikasikan prioritas juara yang mengorbankan pengembangan karier individual pemain muda atau pelapis. Bagi Persija, ini merupakan sinyal bahwa pemain-pemain kunci mereka belum sepenuhnya diandalkan sebagai rotasi utama, yang pada gilirannya bisa mempengaruhi performa mereka di panggung klub saat musim liga domestik bergulir.
Untuk langkah ke depan, manajemen Persija perlu mengevaluasi komunikasi dengan staf kepelatihan timnas mengenai menit bermain pemain mereka. Jika tren ini berlanjut di turnamen-turnamen besar berikutnya, dampak jangka panjang akan terlihat pada stagnansi progres pemain yang justru lebih banyak duduk di bangku cadangan dibandingkan terlibat dalam alur permainan yang membangun kepercayaan diri dan match intensity.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Panas di Liga Champions: MU Siap Sambut AS Roma, Sang Raksasa yang Tak Ternodai di Serie A

Liga Champions Matchday 4: Barcelona Tantang Aston Villa, MU Menjamu Roma
