Gempa Magnitudo 4.6 Guncang Mataram, Ahli Soroti Aktivitas Sesar Lembang dan Potensi Gempa Susulan

Bencana
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa Magnitudo 4.6 Guncang Mataram, Ahli Soroti Aktivitas Sesar Lembang dan Potensi Gempa Susulan
BAGIKAN:

Pusat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 dilaporkan berpusat di darat pada kedalaman dangkal, tepatnya 14 kilometer ke arah timur laut Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan data dari BMKG yang tercatat pada Selasa, 6 Oktober 2026, pukul 23:15:28 WIB, guncangan tersebut dirasakan oleh sejumlah warga di sekitar episenter dengan intensitas cukup signifikan. Meskipun lokasi hiposenter berada di zona aktif tektonik, data awal menunjukkan bahwa energi yang dilepas belum menunjukkan pola anomali yang mengindikasikan bahaya struktural masif bagi bangunan bertingkat di pusat kota.

Respons terhadap kejadian ini langsung diinisiasi oleh tim tanggap darurat daerah untuk melakukan survei kerusakan awal, terutama pada struktur bangunan di sektor timur laut Mataram yang berada dalam radius dampak guncangan tertinggi. Hingga saat ini, laporan resmi belum mencatat adanya korban jiwa atau kerusakan infrastruktur kritikal berskala luas, mengingat magnitudo yang tergolong moderat dan kedalaman hiposenter yang relatif dangkal sehingga fokus utama penanganan difokuskan pada evakuasi dan stabilisasi sosial masyarakat. Aparat keamanan dan dinas terkait telah mengaktifkan protokol monitoring seismik berkelanjutan guna mendeteksi aktivitas seismik residu dalam 24 jam ke depan.

Analisis Pakar Geofisika

Dari sudut pandang geofisika, aktivitas kegempaan di wilayah Mataram dan sekitarnya didominasi oleh segmen selatan Sesar Lembang yang merupakan bagian dari sistem sesar besar di Pulau Jawa, yang diketahui memiliki potensi menghasilkan gempa bumi hingga magnitudo 7,0 hingga 8,0 setiap beberapa abad. Gempa bermagnitudo 4,6 pada Selasa malam ini merupakan manifestasi dari proses akumulasi dan pelepasan tegangan mikroseismik di sepanjang zona sesar tersebut, di mana mekanisme slip-nya didominasi oleh pergerakan geser (strike-slip) dengan komponen minor normal. Terkait potensi tsunami, gempa dangkal di darat dengan magnitudo di bawah 5,0 tidak memiliki mekanisme vertikal yang cukup untuk mendisplasikan volume air laut secara signifikan, sehingga secara ilmiah dipastikan tidak akan memicu gelombang tsunami, meskipun warga pesisir tetap diimbau untuk tetap waspada terhadap anomali pasang surut biasa. Namun demikian, adanya aktivitas patahan yang aktif seperti ini menandakan adanya potensi gempa susulan dengan magnitudo yang lebih kecil (umumnya di bawah 4,0) dalam 1 hingga 3 hari mendatang sebagai mekanisme pemulihan distribusi tegangan di sekitar zona patahan, sehingga protokol kesiapsiagaan berbasis komunitas tetap menjadi prioritas utama untuk meminimalkan risiko psikologis dan struktural pada masyarakat sekitar.”

Meow! Tanya Nesi!
😸