Demo 250 Ribu Orang di Prancis Dipicu Sekolah Lama yang Bocor dan Penuh Tikus

Lebih dari 250.000 orang dari siswa, guru, orang tua, hingga aktivis turun ke jalanan Prancis pada akhir September untuk memprotes kondisi infrastruktur pendidikan yang memprihatinkan. Aksi unjuk rasa besar-besaran ini dipicu oleh keluhan konkret mengenai sekolah-sekolah di pinggiran kota yang rusak parah, mulai dari atap jebol, ventilasi buruk, hingga hama tikus yang berkeliaran di ruang kelas.
Keluhan tersebut bukan sekadar retorika; seorang demonstran yang diwawancarai CBS News menggambarkan bagaimana sebuah SMA di Saint-Denis, tepat di luar Paris, mengalami kerusakan langit-langit, rembesan air ke dinding, dan keberadaan tikus. Video yang diabadikan oleh siswa dan guru menunjukkan air menetes ke dalam ember dan tikus berjalan bebas di area sekolah. Banyak institusi juga tidak memiliki penyejuk ruangan meskipun cuaca panas ekstrem sedang melanda Prancis.
Issam Makhloufi, 15, siswa di Rosa Parks High School di St.-Denis, mengungkapkan kesulitan belajar kepada New York Times. "Ruang kelas tidak berventilasi, dan kami hampir tidak bisa membuka jendela," ujarnya. Situasi ini diperburuk oleh kepadatan ruang kelas yang berlebihan dan jadwal pelajaran yang padat. Namun, paradoksnya, sumber daya guru dan staf sangat minim, sehingga kualitas pendidikan terdampak signifikan karena murid tidak mendapatkan ilmu secara maksimal di tengah kondisi fisik yang tidak mendukung.
Kendala ini secara historis terkonsentrasi di sekolah-sekolah pinggiran kota yang dibangun antara era 1950-an hingga 1970-an. Karena sekolah di Prancis dikelola oleh pemimpin daerah, para pemimpin setempat menyatakan mereka kekurangan anggaran dan membutuhkan intervensi langsung dari pemerintah pusat untuk melakukan renovasi. Sophie Vénétitay, pemimpin serikat guru yang ikut serta dalam demonstrasi, menilai keras kinerja pemerintah. "Sistem pendidikan publik berada dalam kondisi yang sangat buruk setelah 10 tahun pemerintahan Emmanuel Macron. Sistem ini kekurangan segalanya," tegasnya.
Reaksi aparat kepolisian yang represif semakin memanaskan situasi. Tindakan keras tersebut dilaporkan menyebabkan cedera serius, termasuk satu siswa kehilangan tangan akibat ledakan granat polisi dan siswa lain patah tulang rahang akibat hantaman granat di kepala. Beberapa unjuk rasa berujung pada kerusuhan yang memaksa ratusan sekolah ditutup sementara dan beralih ke pembelajaran daring. Gelombang protes ini terjadi di saat yang krusial bagi Prancis, yang tengah menjadi sorotan pasar keuangan Eropa karena lonjakan biaya pinjaman pemerintah akibat kekhawatiran investor atas kemampuan negara mengurangi beban utang terkait pengeluaran kesejahteraan dan pensiun.
Analisis Redaksi
Protes pendidikan di Prancis kali ini berbeda dari gelombang sebelumnya karena menyatukan kritik struktural terhadap infrastruktur dengan kekecewaan mendalam atas represi negara. Fakta bahwa demonstran terdiri dari spektrum luas, mulai dari siswa hingga akademisi, menunjukkan bahwa isu kualitas pendidikan publik bukan lagi sekadar keluhan lokal, melainkan krisis legitimasi kebijakan sosial pemerintah Macron. Pernyataan Sophie Vénétitay yang menyebut sistem ini "kekurangan segalanya" setelah dekade pertama pemerintahan Macron mengindikasikan kegagalan nyata dalam alokasi anggaran pembangunan yang berkeadilan.
Dimensi keamanan menjadi perhatian utama bagi pengambil kebijakan. Trauma fisik yang dialami siswa, seperti kehilangan anggota tubuh dan patah tulang, mengubah narasi protes dari demonstrasi sipil menjadi isu hak asasi manusia yang sulit diabaikan. Hal ini memperbesar tekanan politik pada Paris. Di sisi lain, korelasi dengan krisis fiskal, di mana pasar obligasi resah akibat beban utang, menciptakan dilema kompleks: pemerintah harus membiayai renovasi sekolah yang sudah usang sementara investor menuntut disiplin fiskal ketat. Tanpa kompromi antara perbaikan infrastruktur sosial dan stabilitas keuangan, risiko fragmentasi sosial di Prancis akan terus meningkat.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Momen Canggung Raja Charles di Antigua: Kehujanan dan Mencari Payung di Parade Kemerdekaan

Senator AS Chris Murphy Kena Stroke di Pertandingan Hoki, Dokter Optimistis

Haley Stevens Dikecualikan Demokrat Michigan Usai Dukung Kandidat Republik
