Rosan: Danantara Akan Optimalkan Aset BUMN untuk Naikkan Efisiensi di 2027

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Sumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Rosan: Danantara Akan Optimalkan Aset BUMN untuk Naikkan Efisiensi di 2027
BAGIKAN:

CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa langkah strategis untuk memperdalam perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan dimulai pada awal 2027. Fokus utamanya bukan sekadar mengurangi jumlah entitas, melainkan mengoptimalkan aset yang besar namun belum sepenuhnya menghasilkan cash flow sebanding.

"Tadi (dengan Pak Presiden Prabowo Subianto) bicara bagaimana kita meningkatkan, kan kita program streamlining kita di BUMN ini kan berjalan. Bagaimana kita sekarang next step-nya itu di 2027, 2027 awal itu meningkatkan, ya sekarang kita juga sedang melakukan optimalisasi aset-aset BUMN, kemudian juga meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi, termasuk juga kita membuka untuk kerja sama yang lebih luas kepada private sector, kepada dunia usaha," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/10).

Dalam paparannya, Rosan menjelaskan bahwa konsolidasi bukan berarti BUMN mengambil alih seluruh aktivitas. Justru, ruang bagi sektor swasta diperluas untuk mengerjakan bagian yang dinilai bisa dieksekusi lebih baik oleh pelaku usaha. "Kalau memang yang sudah bagus, sudah bisa dikerjakan oleh private sector, ya silakan, kita dukup," katanya. Pendekatan ini dirancang agar perusahaan negara tidak terjebak dalam inefisiensi akibat beban struktur yang rumit.

Berdasarkan data yang diungkap, Danantara telah berhasil mengonsolidasikan 258 BUMN dari sekitar 1.077 entitas, dengan target konsolidasi lanjutan ke angka sekitar 300 entitas. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menargetkan pemangkasan jumlah BUMN hingga tersisa sekitar 250 perusahaan pada tahun ini. "Dari 1.000 lebih BUMN, sekarang kita sudah tutup lebih dari 200," kata Prabowo, sambil menyoroti besarnya biaya overhead dari struktur direksi dan komisaris yang perlu memangkas.

Rosan menambahkan bahwa hingga saat ini, Danantara belum menetapkan sektor spesifik sebagai titik awal optimalisasi. Seluruh aset, mulai dari jalan tol, bandara, hingga migas dan pelabuhan, akan dianalisis terlebih dahulu. "Kita lihat, kita akan analisa semua, apakah itu baik di jalan tol, di airport, kemudian di oil and gas, bandara, airport, pelabuhan, nanti kita analisa semua," ujarnya. Sebagai sovereign wealth fund, lembaga ini akan memprioritaskan perencanaan yang terukur dan terstruktur untuk memaksimalkan yield dari pengelolaan aset tersebut.

Analisis Redaksi

Pergeseran strategi dari "pengurangan jumlah" menjadi "optimalisasi aset" menandakan fase baru dalam pengelolaan BUMN. Data yang disajikan Rosan menegaskan sebuah paradoks struktural: BUMN Indonesia memiliki neraca aset raksasa, tetapi kemampuan mengonversikan aset tersebut menjadi arus kas masih tertinggal jauh. Ini bukan lagi soal berapa banyak BUMN yang ada, melainkan berapa efisien aset tersebut bekerja. Jika 258 entitas berhasil digabung, tantangan berikutnya adalah tata kelola, bukan sekadar akuntansi.

Pelibatan sektor swasta yang ditekankan Rosan adalah kunci mitigasi risiko. Dengan mengakui bahwa "private sector" mungkin lebih efisien untuk sebagian operasional, Danantara sedang membuka jalan bagi kemitraan strategis. Namun, ini menuntut transparansi tinggi agar kemitraan tidak berubah menjadi transfer keuntungan swasta. Publik harus waspada terhadap proses analisis aset tersebut. Tanpa metodologi yang terbuka dan terukur, optimalisasi aset berisiko menjadi ruang gelap di mana nilai negara tidak maksimal tertambang.

Meow! Tanya Nesi!
😸