Indonesia Juara ASEAN Cup 2026, Jennifer Coppen Akui Momen Ini Waktunya Petantang-petenteng

Selebriti
Ayu LestariAyu Lestari
Sumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Indonesia Juara ASEAN Cup 2026, Jennifer Coppen Akui Momen Ini Waktunya Petantang-petenteng
BAGIKAN:

Jennifer Coppen mengeklaim bahwa kemenangan Timnas Indonesia menjadi juara pertama FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand adalah "waktunya petantang-petenteng". Istri bek Justin Hubner tersebut meluapkan emosinya begitu laga final yang ditentukan lewat drama adu penalti ini berakhir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Baginya, gelar ini menjadi momen untuk membalas semua hinaan yang sempat ia terima di media sosial beberapa waktu terakhir.

"Wah, happy banget dong. Ini saya saatnya petantang-petenteng," kata ibu satu anak tersebut saat diwawancarai detikHot pada Selasa (6/10). Suaranya tegas dan penuh kebanggaan. Ia mengakui tensi pertandingan membuatnya merasa ingin menarik rambut sendiri saking tegangnya, namun hasil kemenangan membuat semua ketegangan itu terlewatkan. Bagi Jennifer, rasa bangga ini tidak hanya untuk timnas, tapi juga untuk suaminya yang sudah berlatih keras selama berbulan-bulan.

Laga final itu sendiri berlangsung sengit di SUGBK pada Senin (5/10). Indonesia yang menguasai penguasaan bola hingga 65 persen di babak pertama gagal membobol gawang Thailand, sehingga babak pertama berakhir dengan skor kacamata. Setelah turun minum, tensi pertahanan kedua tim meningkat. Duel jual beli serangan terjadi, hingga skor imbang 2-2 bertahan sampai waktu normal berakhir. Tak ada pilihan lain selain adu tendangan penalti untuk menentukan penguasa sepak bola Asia Tenggara ini.

Beruntung, Garuda tampil sempurna di tos-tosan. Empat eksekutor penalti Indonesia, Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama, menunaikan tugasnya tanpa cacat. Di sisi lain, keberuntungan berpihak pada Indonesia. Dua algojo Thailand, Yooyen Sarach dan Nattapong Sayriya, gagal mencetak gol setelah sepakannya membentur tiang gawang. Skor akhir adu penalti 4-2 memastikan Indonesia keluar sebagai juara.

Momen juara ini terasa lebih personal bagi Jennifer karena ia sebelumnya menjadi target kecaman netizen Malaysia. Ia sempat memposting komentar sarkasme terkait performa Timnas Malaysia di ajang yang sama, yang berujung pada hujatan luas. Bahkan, anak mereka, Kamari, ikut menjadi sasaran. "Gila, bangga banget ya. Sama suami saya, ya, karena dari kemarin saya kayaknya dihujat karena ngebanggain suami. Hari ini saya tambah bangga-banggain suami saya, ya. Tuh liat. Saya bangga punya suami kayak dia, ya," tegasnya. Bagi Jennifer, gelar ini adalah pembuktian sekaligus penghapus luka dari serangan digital tersebut.

Analisis Redaksi

Kemenangan ini bukan sekadar trofi, melainkan validasi bagi skuad Indonesia yang kini diperkuat banyak pemain diaspora seperti Kevin Diks dan Elkan Baggott. Fakta bahwa empat penendang utama sukses melaksanakan tugasnya menunjukkan kesiapan mental dan teknis pemain diaspora yang biasanya jarang mendapat menit bermain di liga Eropa. Keberhasilan ini seharusnya menjadi katalis untuk memperkuat basis sepak bola nasional agar tidak bergantung penuh pada pemain naturalisasi atau keturunan.

Isu di balik layar terkait serangan ke Jennifer Coppen menyoroti kerentanan publik figur di ranah digital. Hujatan yang meluas hingga ke anak-anak menunjukkan betapa tidak berjalannya netiket di beberapa komunitas sepak bola Asia Tenggara. Bagi redaksi, hal ini perlu diwaspadai. Atmosfer pertandingan yang panas di media sosial harus dibedakan dengan performa di lapangan. Institusi media dan penggemar diharapkan lebih bijak dalam mengkritik, agar kebanggaan terhadap prestasi olahraga tidak ternoda oleh kebencian digital yang destruktif.

Meow! Tanya Nesi!
😸