Polisi Penyelam Temukan Fragmen Keramik Romawi 2.000 Tahun di Dasar Laut Sardinia
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Dalam operasi rutin pengecekan keamanan perairan di sekitar Porto Rotondo, Sardinia, Italia, tim penyelam polisi menemukan rangkaian artefak Romawi yang diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun. Penemuan ini diumumkan secara resmi oleh Kantor Pusat Kepolisian Sassari pada akhir Agustus lalu, mengubah patroli biasa menjadi momen bersejarah bagi arkeologi bawah laut Eropa.
Insiden bermula ketika para petugas yang bertugas di Olgia mengawasi dasar laut dan melihat pecahan terakota yang tersebar. Curiga akan adanya objek bernilai budaya, tim tidak ragu untuk kembali menyelam di lokasi yang sama. Di penyelaman kedua, mereka berhasil mengidentifikasi sejumlah wadah kuno yang sebagian besar masih dalam kondisi utuh, memicu pencarian terperinci lebih lanjut di sekitar area tersebut.
"Tindakan pengerukan yang cermat memungkinkan identifikasi dan kemudian pemulihan tiga artefak terakota yang utuh, khususnya sebuah baskom pengangkut, bersama dengan barang-barang kecil lainnya," ungkap pejabat setempat seperti dilansir Fox News pada Sabtu (4/10). Proses dokumentasi dilakukan segera, dan seluruh temuan tersebut telah diserahkan kepada otoritas arkeologi yang berwenang untuk penanganan lebih lanjut.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan momen para penyelam memeriksa penemuan di dasar laut. Salah satu gambar menampilkan sebuah amfora atau guci kuno dengan dua pegangan vertikal dan leher sempit, tergeletak di antara rumput laut. Gambar lainnya menunjukkan wadah besar yang permukaannya sudah tertutup endapan laut. Dalam sejarah Romawi, amfora memang berfungsi utama sebagai wadah pengangkut komoditas vital seperti anggur, minyak zaitun, dan biji-bijian.
Analisis awal mengindikasikan bahwa benda-benda tersebut berasal dari rentang waktu antara paruh kedua abad pertama sebelum Masehi hingga abad pertama Masehi. Asal pembuatannya diduga kuat terkait dengan wilayah Lazio, Campania, atau Semenanjung Iberia. Ahli kini tengah meneliti wadah-wadah itu untuk menentukan usia dan asal-usulnya secara presisi, serta mengkaji apakah lokasi ini merupakan bagian dari situs arkeologi yang lebih luas yang masih menyimpan artefak lain di sekitarnya.
Analisis Redaksi
Penemuan ini menegaskan peran krusial aparat keamanan dalam preservasi sejarah maritim. Sering kali, objek arkeologis berharga tenggelam dalam ketidaktahuan selama berabad-abad sampai dipergoki oleh inspeksi rutin, seperti yang terjadi di Sardinia. Kolaborasi antara kepolisian dan otoritas arkeologi menjadi kunci; tanpa kewaspadaan petugas di lapangan, potensi situs penting ini mungkin akan tetap tersembunyi atau rusak oleh aktivitas perikanan komersial.
Secara kontekstual, temuan di Porto Rotondo bukan kasus tunggal. Sebelumnya, pada Juni 2025, otoritas Italia juga mengumumkan penemuan bangkai kapal dagang Romawi di Laut Ionia yang masih membawa muatan amfora. Kapal tersebut ditemukan di lepas pantai Apulia saat patroli maritim. Pola ini menunjukkan bahwa jalur perdagangan Romawi kuno masih menyisakan jejak fisik yang signifikan di perairan Italia, mengundang perlunya eksplorasi sistematis di zona perairan yang intensitas lalu lintasnya tinggi.
Kemungkinan langkah selanjutnya adalah percepatan kajian geofisika di sekitar titik penemuan untuk memetakan sisa struktur bawah air. Jika terbukti ada situs lebih luas, ini akan membuka jendela baru tentang distribusi barang di Mediterania Barat pada era awal Kekaisaran Romawi, dengan dampak langsung pada pemahaman sejarah ekonomi kuno di kawasan tersebut.


