90% Microdrama China Digerakkan AI, Standar Baru Munculkan Krisis Konten

Selebriti
Rio DewantoRio Dewanto
Sumber: CNN Selebriti
Rio Dewanto
Rio Dewanto
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

90% Microdrama China Digerakkan AI, Standar Baru Munculkan Krisis Konten
BAGIKAN:

Industri hiburan China sedang mengalami disrupsi mendadak. Lebih dari 90 persen dari 430 ribu microdrama atau drama mikro yang diluncurkan secara daring dalam delapan bulan pertama tahun ini dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), data dari National Radio and Television Administration menunjukkan lonjakan produksi yang tak terbendung. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahwa lanskap penyiaran di Tiongkok telah berubah total dalam hitungan bulan. Bagi produsen, keberhasilan teknologi ini kini membawa beban berat: bagaimana mempertahankan penonton di tengah lautan konten serupa yang membanjiri platform.

Aplikasi nyata teknologi ini terlihat jelas lewat kolaborasi NetEase dengan aktris legendaris Joey Wong. Musim panas lalu, perusahaan tersebut merilis video dua menit yang menghidupkan kembali karakter ikonik Wong dari era 80-an dan 90-an. Setelah dua dekade absen, Wong muncul lagi melalui rekonstruksi AI, menampilkan sosok hantu cantik dalam A Chinese Ghost Story dan siluman ular dalam Green Snake. Langkah ini menandai pergeseran fundamental, di mana memori kolektif penonton bisa diaktifkan tanpa perlu pengambilan gambar ulang yang mahal.

Dinamika ekonomi produksi juga bergeser drastis. Produsen kini bisa mengadaptasi cerita yang sebelumnya mustahil diwujudkan secara visual. "Banyak novel daring dibangun berdasarkan aksi, ketegangan, atau dunia imajinatif yang membutuhkan set mahal dan efek visual jika dibuat dalam format live action," jelas Bai Jianyue, produser di platform distribusi drama komik AI berbasis di Shenzhen. Dikutip South China Morning Post, AI membuat produksi cerita-cerita kompleks tersebut menjadi jauh lebih memungkinkan dan efisien.

Namun, euforia ini langsung ditantang oleh keluhan publik dan regulasi ketat. Penonton mulai jenuh karena pola cerita yang repetitif. "Begitu satu drama menjadi hit, serangkaian pengganti akan muncul, dengan mengubah dinasti atau jenis kelaminnya dan menyebutnya sebagai cerita baru," kritik Liulang de Mao, pengguna RedNote. Di sisi lain, regulator memperketat aturan. Aturan baru mewajibkan label AI pada setiap episode dan meminta persetujuan penggunaan wajah atau suara seseorang. Enam platform besar, termasuk milik ByteDance dan Kuaishou, sepakat mengalokasikan 6 miliar yuan untuk mendukung konten live action berkualitas, sebagai penyeimbang dominasi AI.

Dampaknya terlihat pada strategi industri. Kompetisi kini bukan lagi soal kemampuan generating video, melainkan kualitas naskah dan konsistensi naratif. "Mampu menghasilkan video tidak sama dengan mampu secara konsisten menghadirkan seluruh serial," tandas Robin Luo dari Synintell Pictures. Produsen lain seperti Zhou Xiangxiang dari Moli OPC mulai berinvestasi pada lisensi karakter digital dari staf sendiri untuk menghindari penundaan rilis akibat masalah hak serupa orang nyata. Industri tidak lagi berlari liar, mereka mulai memasang rem dan standar.

Analisis Redaksi

Lonjakan 90 persen penggunaan AI dalam produksi microdrama mengindikasikan pergeseran paradigma biaya produksi yang sangat tajam. Jika live action adalah barang mewah, AI menjadi utilitas dasar. Namun, homogenisasi konten yang dikeluhkan penonton adalah dampak sekunder yang belum tentu bisa diatasi hanya dengan label regulasi. Pengulangan formula sukses secara massal melalui AI justru mempercepat kelelahan audiens. Tanpa inovasi skriptural, volume tinggi tidak akan sama dengan retensi tinggi.

Langkah regulator untuk mendorong live action melalui subsidi 6 miliar yuan dari enam platform besar adalah manuver strategis yang cerdas. Ini bukan sekadar nostalgia, tetapi upaya menciptakan lapisan premium di pasar yang sudah jenuh konten instan. Dengan memisahkan pasar 'massal AI' dan 'premium live action', industri berpotensi membentuk ekosistem dua kecepatan. Jika hanya mengandalkan AI, risiko devaluasi nilai hiburan akan terjadi, membuat penonton enggan membayar lagi.

Proses validasi izin penggunaan wajah dan suara adalah pintu masuk baru untuk ekonomi data personal. Produsen seperti Zhou Xiangxiang yang memilih lisensi internal staf menunjukkan kesadaran bahwa risiko hukum adalah penghalang distribusi, bukan hanya biaya. Ke depan, standar etika penggunaan biometrik akan menjadi komponen biaya produksi yang sama pentingnya dengan sewa set. Siapa yang menguasai lisensi ini, mereka yang akan tetap relevan.

Meow! Tanya Nesi!
😸