Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pelatih Kebugaran Irlandia Tuding Diludahi Pemain Israel di Serbia, UEFA Diam

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Pelatih Kebugaran Irlandia Tuding Diludahi Pemain Israel di Serbia, UEFA Diam
BAGIKAN:

Damien Doyle, pelatih kebugaran timnas Irlandia, mengungkap tuduhan berat berupa aksi meludah dari pemain Israel saat jeda pertandingan UEFA Nations League di Stadion TSC Arena, Serbia, Senin (5/10) dini hari WIB. Insiden tersebut terjadi saat kedua tim sedang bertanding dalam matchday keempat Grup 3UEFA Nations League B. Tuduhan ini menambah daftar panjang kontroversi yang menaungi duel dua negara tersebut di kompetisi Eropa kali ini.

Laga yang seharusnya menjadi kandang bagi Irlandia ini dipindahkan ke Serbia karena pertimbangan keamanan. Penolakan dari kelompok demonstran pro-Palestina membuat Federasi Sepak Bola Irlandia memutuskan untuk tidak menggelar laga di Dublin. Keputusan ini memastikan pertandingan tetap berlangsung di negara ketiga, yang secara tidak langsung mengubah dinamika pertandingan menjadi lebih ketegangan tinggi di luar lapangan hijau.

Ketegangan ini bukan hal baru. Pertemuan pertama kedua tim di Hungaria beberapa waktu lalu juga diwarnai kontroversi serupa. Saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan, para pemain Irlandia memilih menundukkan kepala sebagai bentuk protes diam. Tidak hanya itu, Caoimhin Kelleher, kapten timnas Irlandia, secara terbuka menolak bersalaman dengan Dor Peretz, kapten timnas Israel, usai tos kois oleh wasit. Sikap ini menjadi simbol perlawanan yang sudah dimulai sejak peluit awal.

Puncak drama terjadi saat turun minum. Doyle mengklaim salah satu anggota tim Israel meludahinya saat hendak melintasi lorong menuju ruang ganti. Insiden ini memicu keributan di sisi pinggir lapangan. Wasit Juan Martinez Munera, yang ternyata tidak menyaksikan langsung aksi meludah tersebut, segera turun tangan mencegah kedua tim terlibat perkelahian fisik yang lebih besar. Keberhasilan wasit menenangkan suasana menjadi momen krusial agar pertandingan tidak terhenti total akibat kerusuhan.

Hingga berita ini diturunkan, Federasi Sepak Bola Irlandia maupun Israel belum memberikan komentar resmi terkait tuduhan tersebut. UEFA juga menahan diri karena belum menerima laporan resmi dari pihak terkait. Sementara itu, pelatih Irlandia Heimir Hallgrimsson membenarkan tuduhan Doyle. "Ada banyak 'kecelakaan' tersebut dan kami cukup pintar untuk menghindarinya sebelum menjadi terlalu jauh," ujar Hallgrimsson. Ia menambahkan, "Saya merasa mereka berniat mengintimidasi kami dan membuat kami melakukan sesuatu yang bodoh. Saya memberikan penghargaan besar pada cara para pemain menangani emosi mereka."

Peristiwa ini merupakan bagian dari serangkaian insiden tidak menyenangkan yang tercatat selama UEFA Nations League kali ini. Sebelumnya, Asosiasi Sepak Bola Irlandia mencatat bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan internal terkait dugaan penganiayaan terhadap penyerang Adam Idah oleh sekelompok kecil penggemar Israel saat bermain di Hungaria. Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa atmosfer politik di luar stadion memiliki dampak nyata terhadap jalannya kompetisi olahraga di Eropa.

Analisis Redaksi

Aksi meludah yang dituduhkan bukan sekadar kelakuan buruk individual, melainkan refleksi dari polarisasi geopolitik yang semakin dalam merambah ke arena olahraga. Tuduhan ini mengindikasikan bahwa profesionalisme atlet di kedua sisi terancam oleh tekanan eksternal yang kuat. UEFA kini dihadapkan pada dilema: menindak tegas pelaku jika dilaporkan, atau tetap netral tanpa bukti formal? Sikap "diam" Federasi Sepak Bola kedua negara membuat UEFA menjadi pihak yang paling dimintai tanggung jawab untuk menjaga integritas kompetisi.

Yang perlu diwaspadai adalah potensi efek domino pada laga-laga mendatang. Jika sanksi tidak tegas, insiden serupa bisa mengulang diri, bahkan eskalasinya bisa meningkat dari verbal menjadi fisik yang membahayakan. Keberhasilan Heimir Hallgrimsson mengendalikan pemainnya menjadi tolok ukur betapa rawuhnya situasi ini. UEFA harus memastikan bahwa laporan resmi masuk dan diproses sesuai protokol disiplin, terlepas dari ketegangan politik yang melatarbelakangi laga, agar kompetisi tidak ternodasi oleh tindakan intoleransi yang merusak cita-cita olahraga.

Meow! Tanya Nesi!
😸