Victor Laiyan, Arsitek Perunggu SEA Games 2009-2011 dan Asisten Pelatih Timnas Voli, Wafat
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Victor Laiyan, mantan atlet dan pelatih yang tercatat membawa Timnas Voli Putri Indonesia meraih medali perunggu di SEA Games 2009 dan 2011, telah menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (4/10) pukul 17.15 WIB. Wafatnya figur sentral dalam pengembangan voli nasional ini menambah daftar panjang pahlawan olahraga yang berpulang dalam beberapa tahun terakhir, meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di lapangan.
Proses pemakaman belum dimulai hingga Minggu malam, karena jenazah Victor masih berada di Ruang ICU Rumah Sakit Primaya Karawang. Keluarga dan kerabat dekat tengah mengurus prosedur terakhir sebelum kepulangan jenasah. Penurunan kondisi kesehatan yang dialami Victor diketahui sudah berlangsung lebih kurang setahun belakangan.
Akibat dari stroke yang dideritanya, Victor harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Dini hari tadi menjadi momen penghabisan bagi pria yang semasa muda dikenal sebagai gelandang tangguh. Sebelum wafat, riwayat medisnya menunjukkan fluktuasi kondisi yang menguras tenaga dan waktu, menghambat aktivitasnya yang memang mulai semakin jarang terlihat di layar kaca maupun lapangan voli.
Karier Victor sebagai pemain dimulai dari era 1980-an, tempat ia membaur dengan legenda seperti Iman Agus Faizal dan Dennis Taroreh di Timnas Voli Putra. Setelah pensiun sebagai atlet, ia memulai karier di luar lapangan dengan bergabung ke tim junior Persib, sebelum akhirnya mengabdikan diri sebagai pegawai PLN berkat rekam jejak prestasinya di bidang olahraga. Transformasi dari atlet menjadi birokrat olahraga ini menjadi modal kuat bagi peralihannya ke dunia kepelatihan pada era 2000-an.
Sebagai pelatih, reputasi Victor semakin menguat di kancah klub dan nasional. Ia sukses memboyong gelar juara Livoli 2009 dan Proliga 2010 bersama klub Jakarta Electric PLN, serta pernah menangani tim Gresik Petrokimia. Puncak kebanggaan kariernya adalah memimpin tim putri menuju podium SEA Games dua edisi beruntun. Tidak berhenti di situ, pada 2024 Victor kembali mendapat kepercayaan untuk menangani tim DKI Jakarta pada PON, sekaligus mengisi kursi asisten pelatih Timnas Voli Putra, menunjukkan loyalitasnya yang panjang terhadap federasi.
Analisis Redaksi
Kehilangan Victor Laiyan bukan sekadar hilangnya satu individu, melainkan hilangnya jembatan antar-generasi dalam dunia voli Indonesia. Kemampuannya merangkul pemain dari era 80-an hingga menjadi mentor bagi pemain modern menjadikan ia figur kunci dalam transisi teknik dan mentalitas bertanding. Wafatnya Victor pada 2024, setahun setelah ia masih aktif sebagai asisten pelatih, menandai akhir dari satu era kepelatihan yang mengedepankan ketekunan dan pengabdian tanpa pamrih.
Dari perspektif strategis, pensiun dini atau hilangnya figur-figur seperti Victor di usia tua sering kali membuat pengetahuan tak tertulis (implicit knowledge) tentang manajemen tim nasional lenyap. Asosiasi harus memastikan bahwa sistem pengembangan kepelatihan lebih terstruktur dan tidak bergantung pada personalitas individu semata, agar warisan taktikal dari era emas 2009-2011 tetap hidup. Penghargaan terakhir yang diberikan kepada Victor sebagai aset senior di timnas 2024 seharusnya menjadi preseden bahwa pengalaman lokal tetap dihargai di tengah dominasi pelatih asing.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Janice Tjen Diproyeksi Ulangi Kejayaan sebagai Unggulan Pertama Chennai Open 2026

Jokowi dan Shin Tae Yong Saksi Ijab Bahagia Pernikahan Asnawi & Yuriska

Toraja Academy Turunkan 100 Atlet untuk Tembus Prestasi di CNN Indonesia Taekwondo Championship
