Kapolri Lepas 7 Pati Jadi Komjen, Ganti Jabatan Strategis di Inti Polri

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kapolri Lepas 7 Pati Jadi Komjen, Ganti Jabatan Strategis di Inti Polri
BAGIKAN:

Tujuh perwira tinggi (Pati) Polri resmi naik pangkat menjadi Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) dalam korps raport yang dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Upacara ini berlangsung di Rupattama Mabes Polri, Jakarta, pada Sabtu malam (3/10). Nama-nama yang mendapat promosi ini antara lain Sandi Nugroho, Dadang Hartanto, Dedy Kusuma Bakti, Asep Safrudin, Hery Herjawan, Andik Setiyono, dan Rudi Darmoko. Lonjakan jabatan ini terjadi di tengah perubahan struktur kepemimpinan tertinggi kepolisian yang kini berpusat pada Suyudi Ario Seto.

Penyematan pangkat ini bukan berdiri sendiri. Sebanyak 14 Pati lain menyusul naik pangkat menjadi Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol.), sementara dua lainnya melompat ke Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol.). Nama-nama seperti Agus Dwi Hermawan, Putu Putera Sadana, Hendra Kurniawan, dan Tubagus Ami Prindani termasuk dalam daftar kenaikan ke Irjen. Anwar Haidar dan M. Darwis Debby Hermawan adalah dua nama yang kini resmi menyandang gelar Brigjen. Total 23 Pati mendapat sentuhan kenaikan pangkat dalam satu periode ini.

Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Johnny Eddizon Isir, menegaskan bahwa gerakan ini murni soal dinamika organisasi. "Mutasi dan rotasi jabatan merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri. Hal ini dilakukan sesuai kebutuhan organisasi sekaligus sebagai bagian dari pembinaan karier dan penyegaran dalam pelaksanaan tugas kepolisian," ujar Johnny. Pernyataan ini menjadi justifikasi resmi atas perombakan besar-besaran yang menggoyang kursi-kursi strategis di Mabes.

Perubahan ini berakar dari Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, yang memuat mutasi 88 Pati dan perwira menengah (Pamen). Dari angka besar tersebut, 70 personel berhasil menduduki jabatan baru. Pergantian terjadi di jantung Mabes Polri; Komjen Asep Edi Suheri kini mengemban tugas sebagai Irwasum Polri, sementara Irjen Dedy Kusuma Bakti menjabat Kabaintelkam. Posisi panas Kabareskrim kini diisi Irjen Asep Safrudin, menggantikan peta kekuatan lama di sektor penegakan hukum.

Geser posisi juga merambat hingga ke 19 jabatan Kapolda di seluruh Indonesia. Irjen Dadang kini memimpin Kapolda Metro Jaya, sementara Irjen Suwondo Nainggoan dan Irjen Suhendri masing-masing menggantikan posisi di Maluku dan Kepri. Di sisi lain, Irjen Mahmud Nazly Harahap memegang kendali Divpropam, dan Irjen Roberto G. M. Pasaribu bertugas di Div TIK. Struktur baru ini menunjukkan perombakan menyeluruh dari level strategis pusat hingga lini depan penanganan kejahatan di daerah.

Analisis Redaksi

Langkah Suyudi Ario Seto ini lebih dari sekadar ritual tahunan penyegaran karier. Menempatkan Asep Safrudin di kursi Kabareskrim, sementara Dedy Kusuma Bakti mengisi Kabaintelkam, menandakan konsolidasi loyalitas di dua pilar paling krusial: pengawasan internal dan intelijen. Kedua perwira ini kini memegang kendali atas arah penegakan hukum dan analisis ancaman keamanan negara, sebuah sinyal kuat bahwa pola kerja Polri ke depan akan lebih terintegrasi secara vertikal.

Yang perlu diwaspadai publik adalah kecepatan transisi kepemimpinan di 19 Polda sekaligus. Penggantian Kapolda secara masif, termasuk di wilayah sensitif seperti Metro Jaya, selalu membawa risiko disorientasi sementara dalam respons penindakan. Namun, dari sisi tata kelola, ini membuka ruang bagi gaya kepemimpinan baru yang mungkin lebih adaptif. Kita akan mengamati apakah rotasi ini akan menghasilkan penegakan hukum yang lebih presisi atau justru menimbulkan friksi internal karena perubahan peta komando yang begitu cepat. Waktu akan membuktikan efektivitas struktur baru ini di lapangan.

Meow! Tanya Nesi!
😸