Isaac Slade Tampil di Konser Ed Sheeran, Bicara Titik Temu di Tengah Kontroversi Macklemore
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Isaac Slade akhirnya mengisi slot musisi tamu pertama dalam tur konser Ed Sheeran setelah vakum selama tiga pekan penuh kontroversi. Mantan vokalis The Fray ini tampil di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, pada Sabtu (3/10), sebuah kemunculan yang memecah kebisingan setelah sejumlah artis besar menarik diri dari panggung tersebut.
Slade, yang kini berusia 45 tahun, membuka konser dengan membawakan sejumlah lagu hits The Fray, seperti "How to Save a Life" dan "You Found Me". Penampilannya ini menjadi penanda kembalinya elemen musisi tamu setelah tiga konser terakhir Sheeran berlangsung sepi tanpa pembuka. Sebelumnya, Slade sempat tampil bersama Sheeran di Toronto pada Agustus, tepat sebelum polemik Macklemore mencuat dan mengganggu dinamis tur tersebut.
Kehadiran Slade bukan sekadar pengisi waktu kosong. Di atas panggung Atlanta, ia menyampaikan pandangan tegas mengenai perang di Gaza. "Apa yang terjadi di sana [Gaza] adalah salah. Namun, jika kita ingin melewatinya, kita perlu melangkah ke ruang tengah itu, ke titik temu," ujar Slade, sebagaimana dilaporkan The Independent pada Minggu (4/10). Ia menegaskan bahwa perdamaian menuntut kemampuan memahami berbagai sisi, serta menampung keindahan, tragedi, dan kehidupan.
Situasi ini terjadi di tengah badai yang mengguncang tur tersebut. Macklemore dikeluarkan dari rangkaian tur bulan lalu setelah menyampaikan dukungan kepada Palestina pada konser di New Jersey. Keputusan itu memicu solidaritas artis lain; Finneas dan Lukas Graham, misalnya, menarik diri dari tur sebagai bentuk dukungan kepada Macklemore. Sheeran sendiri yang selama ini menjaga citra non-politik, menyatakan di media sosial bahwa dirinya "tidak terlibat" dan tidak ingin terseret dalam perdebatan publik. Ia bahkan menyebut keputusan mengeluarkan Macklemore merupakan keputusan promotor, setelah menerima telepon dari Robert Kraft, pemilik Gillette Stadium.
Kontroversi ini meluas menjadi gerakan di industri musik AS. Pada Jumat (2/10) malam, musisi country Zach Bryan mengenakan kaus bertuliskan "Free Palestine" selama konsernya di Stadion Kraft di Massachusetts. Gitarisnya, Noah Le Gros, mengikuti jejak serupa dengan mengenakan jersey sepak bola Palestina di atas panggung dan membagikan foto dirinya berdiri di depan papan nama Kraft Sports and Entertainment. Sementara itu, Macklemore merespons dengan mengumumkan tur "Free Palestine" yang akan disumbangkan keadilan untuk organisasi pendukung Palestina di Paris, London, dan Dublin.
Analisis Redaksi
Kembalinya musisi tamu di Atlanta menunjukkan Sheeran sedang melakukan manuver strategis untuk menormalkan tur yang sudah terganggu reputasinya. Dengan memilih Slade, yang vokal soal isu kemanusiaan namun tetap profesional dalam seni, Sheeran mencoba menjembatani kritik publik tanpa harus mengambil posisi politik yang lebih dalam. Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa panggung masih hidup, meski bayang-bayang pembatalan konser dan protes masih membayangi.
Akan tetapi, langkah ini rentan terhadap persepsi ganda. Bagi pendukung pro-Palestina, penampilan Slade yang menyerukan "titik temu" bisa dianggap sebagai upaya memediasi yang tidak cukup tegas untuk menghentikan kemarahan. Bagi penentang, ia tetap tampil di acara yang dituduh diskriminatif terhadap Macklemore. Kuartet ini menjadi ujian nyata bagi Sheeran: apakah ia benar-benar ingin menjaga jarak, ataukah ia sedang bersembunyi di balik netralitas yang sebenarnya bermuatan politik?
Secara jangka pendek, industri musik sedang mengalami polarisasi akibat tekanan politik transnasional. Pergerakan artis dari Zach Bryan hingga Macklemore menunjukkan bahwa panggung konser kini bukan lagi ruang steril dari gebrakan geopolitik. Jika Sheeran ingin menyelamatkan sisa tur-nya, ia harus siap menghadapi bahwa setiap pasang mata kini menajam, menilai apakah "keputusannya" benar-benar a-politik atau sekadar kalkulasi bisnis yang terlambat.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA

Ashanty Bangga Arsy Ikut MUN 2026, Warisi Bakat Diplomasi Mendiang Kakek
