⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hanung Bramantyo Dikritik: Detail Seragam dan Diksi Modern Rusak Keseriusan Film 'Lobang Buaya'

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Hanung Bramantyo Dikritik: Detail Seragam dan Diksi Modern Rusak Keseriusan Film 'Lobang Buaya'
BAGIKAN:

Film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo gagal menyuguhkan pengalaman sinematik yang memuaskan, di mana perpaduan elemen fiksi, sejarah, dan horor dinilai tumpang tindih serta tidak saling mendukung dalam durasi 113 menit. Keputusan produser dan sutradara untuk mengarang drama misteri berbal thriller demi menempel pada tragedi Gerakan 30 September justru menghasilkan karya yang terasa ugal-ugalan dan kehilangan fokus naratifnya.

Penonton disuguhi keganjilan sejak dari latar waktu cerita yang diset di tahun 1964, satu tahun sebelum tragedi berdarah itu terjadi. Penggunaan dialek dan diksi modern dalam percakapan karakter membuat suasana zaman terasa janggal, bahkan jika mengacu pada gaya komunikasi generasi TikTok hari ini. Selain itu, efek visual dan komputerisasi pada adegan-adegan bernuansa horor dinilai masih mentah, memperlihatkan bahwa standar teknis Hanung belum mengalami perkembangan berarti sejak film Tuhan Izinkan Aku Berdosa (2023). Meskipun tata rias dan prostetik berhasil dibuat natural sesuai era, visualisasi digital yang aneh tetap mengganggu imersi penonton terhadap alur cerita.

Kritik tajam juga mengarah pada riset kostum yang ditangani oleh Hagai Pakan. Meskipun ia dikenal lihai memilih kostum, eksekusinya untuk karakter angkatan bersenjata dalam film ini meleset jauh dari akurasi historis. Mulai dari warna hijau, model kancing, tanda pangkat, hingga jenis nametag, semua detail itu jauh dari citra aparat angkatan bersenjata tahun 1960-an, bahkan tidak menyamai gambaran dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984). Ketidakseriusan ini terlihat nyata, mengindikasikan kemungkinan adanya kendala perizinan atau kurangnya riset mendalam dari tim Hiburan terkait replikasi seragam tentara dan polisi era Orde Lama.

Performa Baskara Mahendra sebagai Letnan Kolonel Soegeng juga dipertanyakan dari sisi estetika militer. Karakternya tampak dengan rambut yang panjang menyentuh kuping, padahal model rambut cepak (military hair look) adalah standar sejak Perang Dunia II. Tanpa latihan fisik yang mendukung, Baskara gagal menampilkan aura tempaan militer yang seharusnya dimiliki oleh seseorang dengan pangkat tinggi tersebut. Kontrasnya, Khiva Iskak tampil apik sebagai antagonis Suradi, berhasil menyajikan pengembangan karakter yang ekstrem hingga ke sisi psikopat, sementara sinematografi Suadi Utama dan desain produksi yang mengoptimalkan set lokasi tetap memberikan apresiasi tersendiri di balik segala kekurangan tersebut.

Obsesi Hanung untuk menggarap ulang semangat Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI versi modern memang terlihat jelas, namun eksekusi logisnya terganggu oleh keputusan kreatif yang tidak konsisten. Meskipun tujuan mulia agar anak muda tidak melupakan sejarah, cara penyampaiannya yang memaksakan elemen horor dan konspirasi membuat film ini terasa tidak padu. Hasil akhirnya menunjukkan bahwa tanpa fondasi riset yang solid dan pemilihan elemen cerita yang fokus, ambisi besar justru berubah menjadi karya yang cacat secara teknis dan naratif.

Analisis Redaksi

Kegagalan teknis pada detail kostum dan tata rias prajurit dalam Lobang Buaya bukan sekadar kelalaian produksi, melainkan cerminan minimnya literasi historis dalam ekosistem sinema Indonesia. Ketika elemen visual seperti seragam tentara direplikasi secara asal-asalan, kredibilitas film yang mengaku berpijak pada sejarah langsung runtuh. Pengabaian detail seperti jenis kancing dan warna hijau pada era 1960-an menegaskan bahwa akurasi sejarah sering kali dikorbankan demi kemudahan produksi atau keterbatasan akses data, yang pada gilirannya menyakiti penonton yang melek sejarah.

Sisi naratif memperlihatkan dilema klasik dalam adaptasi sejarah kontemporer: sulitnya menerjemahkan trauma masa lalu ke dalam bahasa generasi milenial dan Gen Z tanpa kehilangan substansinya. Penggunaan diksi modern yang dipaksakan di tahun 1964 menciptakan disonansi kognitif yang memaksa penonton keluar dari cerita. Jika sutradara ingin menjangkau audiens muda, pendekatan yang lebih halus diperlukan, bukan dengan mengadopsi gaya bicara internet secara harfiah ke dalam karakter period. Elemen horor yang dipaksakan juga mengaburkan fokus pada tragedi G30S, menjadikan film ini lebih sebagai hiburan Hiburan ringan ketimbang pengingat sejarah yang serius.

Secara prospektif, kasus ini harus menjadi pelajaran penting bagi produser besar di Indonesia. Ambisi mengulang karya klasik seperti film tahun 1984 membutuhkan riset arsip yang rigor dan konsistensi genre. Tanpa integritas pada detail period, setiap upaya untuk mendiskusi atau mengulas ulang peristiwa sejarah berisiko tinggi dianggap tidak peka, bahkan merendahkan memori kolektif bangsa. Ke depan, sinema Indonesia perlu lebih disiplin dalam memisahkan antara fiksi spekulatif dan drama sejarah agar tidak jatuh ke dalam kebingungan genre yang merusak pesan moral yang ingin disampaikan.

Meow! Tanya Nesi!
😸