Debut Ilya Sigma, Film Horor Hasut Pakai HT Tanpa Hantu, Tulis Skenario 15 Tahun
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Karya debut penyutradaraan Ilya Sigma, film horor-misteri berjudul HASUT, siap tayang pada 8 Oktober mendatang dengan mematahkan konvensi genre melalui konsep ketiadaan sosok hantu. Berbeda dengan film hantu konvensional yang mengandalkan efek visual atau jumpscare, film ini bertumpu pada kekuatan imajinasi audiens. Nuansa ketakutan dibangun murni dari elemen suara dan ketegangan psikologis yang menguji batas mental penonton.
Dalam konferensi pers pada Rabu (23/9/2026), Ilya Sigma yang akrab disapa Anggie, menjelaskan alasan di balik pemilihan medium unik ini. Ia secara personal merasa lebih takut pada hal-hal yang dibayangkan di dalam kepala daripada objek visual yang nyata. Pandangan ini membuat penggunaan Handy Talky (HT) menjadi pilihan strategis karena menciptakan ruang kosong bagi pikiran manusia untuk mengisi bentuk dan asal ketakutannya sendiri.
Media HT menjadi tulang punggung tegangan dramatis film ini. Ilya menuturkan bahwa HT menghadirkan noise, statik, dan frekuensi putus-putus yang memunculkan suara napas misterius. Fenomena ini membuat penonton dan karakter film saling mempertanyakan identitas pihak yang berbicara serta siapa yang sebenarnya bisa dipercaya. Ketidakjelasan ini menciptakan rasa gerah dan curiga yang terus meningkat seiring alur cerita.Proses penulisan naskah film ini ternyata berlangsung sangat panjang, yakni 15 tahun. Naskah karya Priesnanda Dwisatria dan Ilya Sigma terinspirasi dari pengalaman pribadi Priesnanda saat mendaki gunung semasa kuliah menggunakan HT. Awalnya, cerita tersebut dirancang sebagai film horor biasa yang mengandalkan jumpscare. Namun, seiring waktu, naskah diubah agar memiliki kedalaman karakter dan relevansi dengan situasi masa kini, bukan sekadar alat untuk membuat penonton kaget sesaat.
Aktor utama Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova masing-masing mewakili empat sifat dasar manusia: amarah, rasa tidak aman, keegoisan, dan ketakutan. Sifat-sifat ini diramu menjadi formula untuk saling menghasut dalam konflik cerita. Produser Putrama Tuta menambahkan bahwa film ini tidak hanya sekadar menakuti lewat desain suara, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat untuk melakukan refleksi diri terhadap dampak kata-kata kita terhadap orang lain.
Analisis Redaksi
Transformasi naskah selama 15 tahun mencerminkan kedewasaan industri perfilman Indonesia yang mulai meninggalkan ketergantungan pada efek visual murahan. Penggunaan HT sebagai medium horor adalah langkah cerdas yang memanfaatkan kecemasan teknologi modern. Penonton kini lebih terbiasa dengan suara digital yang buram, sehingga noise komunikasi menjadi pemicu horor yang sangat relevan dengan realitas sehari-hari, di mana sinyal putus-putus sering kali menjadi sumber ketidakpastian.
Struktur empat sifat dasar manusia yang diwakili para pemeran menunjukkan bahwa film ini memiliki lapisan filosofis di balik seramnya cerita. Ini bukan sekadar film 'jumpscare', melainkan karya yang mengkritik sisi gelap karakter manusia. Ke depan, keberanian debutan untuk mengeksplorasi horor abstrak tanpa hantu fisik bisa menjadi standar baru bagi sineas muda yang ingin menyegarkan genre yang kian jenuh di pasar film nasional.


