Benyamin S Award 2026: Juri Tinjau Langsung 27 Kelurahan, Fokus pada Inovasi dan Potensi Wilayah
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Tim juri turun langsung ke 27 kelurahan terseleksi di lima wilayah kota administrasi dan Kepulauan Seribu untuk menilai potensi lokal dalam ajang Benyamin S Award 2026. Penjurian lapangan ini menjadi penentu setelah fase verifikasi daring, dengan fokus pada realisasi program yang berdampak nyata bagi warga. Juru memilih berdasarkan standar empat pilar: Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera.
Proses penilaian tidak sekadar memverifikasi dokumen. Para juri yang terdiri dari staf ahli gubernur dan ahli dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melakukan observasi fisik. Mereka memeriksa kesiapan infrastruktur, tata kelola lingkungan, dan daya tarik potensi wilayah. Di beberapa titik, tim juri disambut pertunjukan musik tradisional dan kesenian Betawi, sebuah upaya kelurahan untuk menampilkan identitas lokal yang kuat.
Nirwono Joga, salah satu juri, menekankan bahwa kriteria utama adalah kemampuan kelurahan mengentaskan persoalan dasar. "Yang pertama, potensi dari masing-masing kelurahan dalam hal memenuhi atau mewujudkan kelurahan yang bersih, artinya bebas sampah. Kedua, adalah kelurahan yang nyaman bagaimana upaya dari setiap kelurahan untuk membebaskan kelurahannya dari kawasan kumuh maupun juga BABS," ujar Nirwono. Penilaian juga mencakup pengembangan ruang terbuka hijau dan potensi ekonomi kreatif seperti kuliner dan seni budaya yang bisa menjadi destinasi wisata.
Di tingkat kelurahan, persiapan ini menuntut sinergi antara birokrasi dan warga. Henny Mahrojah, Lurah Kebon Sirih, mengakui proses penyamaan persepsi menjadi tantangan terbesar. "Untuk persiapan kami kelurahan Kebon Sirih dalam mengikuti Benyamin S Award ini menurut saya tidak mudah ya, karena memang kita harus menyamakan persepsi antara pemerintah dan juga warga," kata Henny. Ia bersyukur koordinasi tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan dukungan penuh dari masyarakat untuk kegiatan Benyamin S Award ini.
Inovasi spesifik mulai terlihat di berbagai wilayah. Yuyun Wahyudi, Lurah Lagoa, mengunggulkan program pengelolaan sampah di RW 6 melalui sistem bank sampah dan pemilahan rutin. "Menjagokan dua kategori, yaitu bersih dan nyaman. Bersihnya di wilayah RW 6. RW 6 ini ada bank sampah dan ada kegiatan rutin pemilahan sampah di wilayah warganya. Sehingga kalau di RW 6 ini sampah itu jadi rejeki, jadi berkah," papar Yuyun. Hal serupa dilakukan di Utan Kayu Selatan, di mana Lurah Ria Handayani mengandalkan kolaborasi antara RT, RW, dan Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) untuk memastikan kesiapan penuh. "Insyaallah kita optimis karena ini semua berkat kerja sama kita semua. Baik Pak RT, Pak RW, LMK, semua seni budaya kita semua bekerja sama untuk mempersiapkan pelaksanaan perlombaan BSA di tahun 2026 ini," ujar Ria.
Pengumuman pemenang akan ditetapkan pada akhir Oktober 2026. Faisal, Kabag Kerja Sama Pihak Ketiga Biro KSD Setda Provinsi DKI, menjelaskan bahwa data lapangan masih perlu dikurasi. "Data tentu kami masih kurasi, tentu kami akan recap dan hari ini sore biasanya kami dari tim pejuri tingkat provinsi. Kita akan melakukan penilaian untuk memilih beberapa kelurahan yang akan mewakili Jakarta Barat untuk masuk ke 10 besar dari tingkat kota untuk mewakili sampai dengan tingkat provinsi," kata Faisal. Kelurahan yang lolos ke final akan menjalani verifikasi lanjutan dan presentasi tatap muka sebelum ditetapkan sebagai terbaik pada masing-masing kategori.
Analisis Redaksi
Ajang Benyamin S Award berfungsi sebagai instrumen tata kelola pemerintahan yang mendorong desentralisasi inovasi. Dengan melibatkan juri lintas disiplin, penilaian tidak hanya berorientasi pada hasil fisik, tetapi juga proses sosial di baliknya. Fokus pada pengurangan BABS (Bui Air Limbah Setempat) dan penanganan kumuh menunjukkan pergeseran prioritas dari pembangunan infrastruktur besar menuju peningkatan kualitas hidup mikro di permukiman padat.
Partisipasi warga menjadi variabel kunci keberhasilan. Kutipan dari para lurah mengindikasikan bahwa keberhasilan program bergantung pada konsensus sosial, bukan sekadar mandat atasan. Kolaborasi antara RT, RW, dan LMK menunjukkan penguatan kapasitas jejaring sosial di tingkat akar rumput yang sering kali menjadi blind spot dalam perencanaan kota top-down.
Secara struktural, mekanisme kurasi hingga 10 besar akhir memberikan ruang koreksi bagi panitia untuk menyaring klaim yang belum tervalidasi. Pengumuman pada akhir Oktober 2026 memberi waktu cukup bagi perbaikan dan peningkatan data, memastikan bahwa gelar kelurahan terbaik diberikan berdasarkan kinerja yang terukur dan berkelanjutan, bukan sekadar seremonial.
