Enam C-Drama Intrik Istana Mirip The Rise of Phoenixes untuk Pemulihan Hati
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Penggemar The Rise of Phoenixes yang merasakan kekosongan pasca menuntaskan drama garapan Chen Kundan kini punya pelipur. Kapanlagi.com merangkum enam judul drama China yang menawarkan nuansa serupa, mulai dari perebutan takhta hingga konspirasi istana, lengkap dengan fakta produksi dan jadwal tayangnya. Daftar ini menjawab keresahan penonton yang kesulitan move on dari intrik kelam dan romansa menyesakkan di serial tersebut.
Salah satu rekomendasi paling kuat adalah Nirvana in Fire, yang sering dianggap paling mirip secara DNA. Serial yang tayang perdana pada 19 September 2015 di Dragon TV, Beijing TV, iQiyi, dan Youku ini bercerita tentang Lin Shu, penyintas pembantaian pasukan Chiyan yang difitnah sebagai pengkhianat. Dua belas tahun kemudian, ia kembali ke ibu kota dengan identitas baru sebagai Mei Changsu, ahli strategi yang menuntut keadilan lewat kecerdasan dan permainan catur politik, bukan pedang. Pada 2025, drama ini genap berusia satu dekade dan dinobatkan sebagai salah satu C-drama terbaik, berkat skor 9,0 dari mydramalist.com serta penghargaan Best Actor Hu Ge di Magnolia Awards dan Golden Eagle Awards.
Untuk penggemar yang mencari intrik politik dengan bumbu komedi, Joy of Life menjadi pilihan yang segar. Tayang pertama kali pada 26 November 2019 di Tencent Video dan iQiyi, drama ini mengisahkan Fan Xian, putra tidak sah Menteri Keuangan yang memiliki ingatan manusia abad ke-21. Ia mempelajari bela diri dan ilmu racun untuk mengungkap kebenaran soal ibunya. Musim keduanya menyusul pada 2024 dan langsung menjadi perbincangan. Menariknya, sang aktor Zhang Ruoyun dan Tian Yu membaca novel asli sebelum syuting, sementara lagu penutupnya dinyanyikan oleh Xiao Zhan.
Sisi intrik keluarga bangsawan tergambar kuat di The Story of Ming Lan yang tayang perdana 25 Desember 2018 di Hunan TV. Drama yang disutradarai Zhang Kai Zhou ini memotret perjuangan Sheng Ming Lan, yang hidup dalam mimpi buruk pasca kepergian ibunya. Ia menyamar dengan menyembunyikan kecemerlangannya untuk menegakkan keadilan hingga menikahi Gu Tingye. Fakta uniknya, pemeran utama Zhao Liying dan Feng Shaofeng ternyata benar-benar menikah di kehidupan nyata setelah beradu peran dalam drama ini. Produksi ini juga digarap oleh tim yang sama di balik Nirvana in Fire.
Untuk nuansa yang lebih megah dengan transformasi karakter, The Rebel Princess yang tayang 9 Januari 2021 di Youku layak ditonton. Wang Xuan, putri bangsawan yang awalnya jatuh cinta pada pangeran ketiga, dinikahkan dengan Xiao Qi, panglima dari keluarga sederhana. Dari pernikahan dingin, keduanya belajar melindungi tanah air di tengah perebutan kekuasaan antarklan. Ini adalah proyek serial utama pertama bagi Zhang Ziyi, yang proses syutinya berlangsung hampir sembilan bulan dari Februari hingga November 2018, menghasilkan visual dan kostum yang sangat memukau.
Genre wuxia dengan aksi ringan hadir lewat Who Rules the World (tayang 18 April–17 Mei 2022) dan Ever Night (streaming sejak 31 Oktober 2018 di Tencent Video). Who Rules the World mengisahkan dua pendekar, Hei Feng Xi dan Bai Feng Xi, yang menyembunyikan identitas di tengah perebutan tahta tujuh kerajaan. Drama ini adaptasi dari novel legendaris 2007 dan dirilis serentak di WeTV serta Netflix. Sementara itu, Ever Night menghadirkan nuansa fantasi gelap dengan balutan dendam dan ramalan kuno, di mana Ning Que, penyintas pembantaian, mengungkap bahwa pelayannya Sang Sang adalah reinkarnasi Yong Ye. Kedua judul ini melengkapi daftar referensi bagi penonton yang menginginkan kombinasi aksi, fantasi, dan konspirasi politik.
Analisis Redaksi
Angka-angka dan nama di atas menunjukkan konsistensi kualitas industri C-drama dalam menyasar niche penonton yang spesifik. Fakta bahwa Nirvana in Fire masih memegang skor 9,0 setelah satu dekade, serta kemenangan Hu Ge di penghargaan prestisius, membuktikan bahwa kompleksitas plot dan akting tetap jadi penentu utama daya tarik, melampaui efek visual semata. Pola ini menegaskan bahwa penonton tidak sekadar mencari 'gorehan', melainkan substansi strategi dan karakterisasi yang kuat.
Adanya proyek besar seperti The Rebel Princess dengan durasi syuting sembilan bulan menandakan komitmen industri terhadap kualitas produksi untuk serial layar kaca, terutama bagi bintang film seperti Zhang Ziyi. Ini sebuah sinyal penting bahwa batas antara sinema dan serial mulai kabur, dengan investasi waktu yang setara. Bagi penonton, ini berimplikasi pada standar visual yang lebih tinggi dan narasi yang lebih terstruktur.
Ke depan, tren adaptasi novel populer seperti Who Rules the World dan distribusi serentak platform global (Netflix, iQiyi, Youku) akan terus mendominasi. Strategi ini memastikan C-drama tidak hanya menjadi hiburan regional, tapi juga komoditas global yang bersaing dengan produksi barat dan korea. Bagi editor dan kreator konten, memahami lapisan 'rasa' spesifik—baik itu intrik istana, wuxia, atau romansa sejarah—jadi kunci dalam menyajikan rekomendasi yang relevan bagi audiens yang sudah memiliki preferensi jelas.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA
