Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Penumpang MRT, LRT, dan Transjakarta Naik Tahunan, tapi Turun Bulanan pada Agustus 2026

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Penumpang MRT, LRT, dan Transjakarta Naik Tahunan, tapi Turun Bulanan pada Agustus 2026
BAGIKAN:

Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta merilis data yang memperlihatkan anomali pergerakan warga ibu kota: secara tahunan jumlah penumpang angkutan umum meningkat hingga Agustus 2026, tetapi secara bulanan dua dari tiga moda utama justru mengalami penurunan penumpang. Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto membeberkan rincian tersebut pada Kamis (1/10), mengutip data BPS yang menunjukkan kenaikan tahunan MRT Jakarta sebesar 1,80 persen, LRT Jakarta 9,94 persen, dan Transjakarta 7,19 persen.

Kenaikan tahunan itu tidak berbanding lurus dengan tren bulanan. Kadarmanto menegaskan bahwa operasional armada MRT dan Transjakarta yang turun pada Agustus lalu langsung berdampak pada jumlah penumpang. "Pada Agustus 2026, jumlah penumpang MRT Jakarta dan Transjakarta mengalami penurunan secara bulanan, masing-masing sebesar 12,56 persen dan 5,82 persen," kata dia di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.

LRT Jakarta menjadi satu-satunya moda yang melawan arus. Sepanjang Agustus 2026, kereta ringan ini justru mencatat peningkatan penumpang sebesar 6,31 persen secara bulanan. Angka ini konsisten dengan tren tahunannya yang melonjak paling tinggi dibandingkan dua moda lainnya.

Data operasional memperkuat penjelasan tersebut. MRT Jakarta hanya mencatat 8.081 perjalanan pada Agustus 2026, turun 2,74 persen secara bulanan meski meningkat tipis 0,01 persen secara tahunan. LRT Jakarta menjalankan 6.324 perjalanan, relatif tidak berubah dari bulan sebelumnya dan naik 0,03 persen secara tahunan. Sementara itu, armada Transjakarta yang beroperasi sekitar 4.741 unit, naik 0,8 persen secara bulanan namun anjlok 6,17 persen secara tahunan.

Bagi jutaan warga Jakarta yang bergantung pada angkutan massal setiap hari, fluktuasi ini bukan sekadar angka statistik. Penurunan 12,56 persen penumpang MRT secara bulanan berarti ada pergeseran pola mobilitas yang signifikan. Warga kemungkinan beralih ke kendaraan pribadi atau moda lain saat frekuensi kereta berkurang. Di sisi lain, lonjakan penumpang LRT menandakan rute ini makin diandalkan masyarakat untuk memangkas waktu tempuh perjalanan harian mereka.

Analisis Redaksi

Angka-angka yang dirilis Kadarmanto ini menyuguhkan potret transportasi Jakarta yang belum sepenuhnya stabil. Kenaikan tahunan ketiga moda membuktikan bahwa minat warga terhadap angkutan umum terus tumbuh. Namun, penurunan bulanan MRT dan Transjakarta yang berbarengan dengan penyusutan operasional armada adalah sinyal bahaya. Manajemen tidak boleh membiarkan pengurangan jadwal perjalanan menjadi kebiasaan, karena dampaknya langsung menghantam kepercayaan publik yang sudah susah payah dibangun selama bertahun-tahun.

Lonjakan penumpang LRT Jakarta patut dibedah lebih dalam oleh pengelola. Kenaikan 9,94 persen secara tahunan dan 6,31 persen secara bulanan terjadi di tengah jumlah perjalanan yang nyaris stagnan. Ini bisa berarti okupansi per perjalanan membengkak. Jika kapasitas kereta tidak segera ditambah, kenyamanan penumpang akan tergerus dan potensi migrasi kembali ke kendaraan pribadi sangat terbuka lebar.

Langkah logis selanjutnya bagi Pemprov DKI Jakarta dan para operator adalah menyinkronkan ulang perencanaan armada dengan proyeksi permintaan riil di lapangan. Penurunan operasional Transjakarta hingga 6,17 persen secara tahunan menuntut evaluasi menyeluruh, apakah disebabkan oleh kerusakan armada yang tak kunjung diganti atau efisiensi rute yang keliru perhitungan. Data BPS ini harus menjadi cermin, bukan sekadar laporan rutin yang mengendap di laci meja birokrat.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸