Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Indah Permatasari Tumbang di 16 Besar Judo +78 Kg Putri Usai Kalah Waza-Ari dari Thailand

OlahragaMaya SariMaya SariSumber: Antara News
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Indah Permatasari Tumbang di 16 Besar Judo +78 Kg Putri Usai Kalah Waza-Ari dari Thailand
BAGIKAN:

Langkah judoka Indonesia Indah Permatasari terhenti pada babak 16 besar nomor +78 kilogram putri setelah takluk di tangan wakil Thailand, Thonthan Satjadet. Kekalahan ini terjadi melalui poin waza-ari yang dicetak lawannya dalam pertarungan ketat di atas matras.

Thonthan Satjadet tampil lebih menekan sejak awal laga. Ia berhasil mencetak waza-ari untuk mengunci keunggulan atas Indah Permatasari. Poin tersebut menjadi pembeda utama hingga wasit mengakhiri pertandingan dan memastikan kemenangan atlet asal Thailand itu.

Nomor +78 kg putri merupakan salah satu kelas paling berat dalam cabang olahraga judo. Para atlet yang turun di kelas ini harus memiliki kombinasi kekuatan fisik luar biasa serta teknik bantingan yang presisi untuk bisa menjatuhkan lawan-lawan bertubuh besar.

Kekalahan lewat skor waza-ari menunjukkan pertarungan berjalan sangat seimbang. Dalam aturan judo internasional, waza-ari adalah nilai setengah poin yang diberikan wasit ketika sebuah teknik bantingan nyaris sempurna namun belum memenuhi kriteria ippon penuh.

Gagalnya Indah menembus perempat final tentu memengaruhi peluang kontingen Indonesia meraih medali dari sektor ini. Hasil tersebut sekaligus menegaskan bahwa persaingan di level Asia maupun dunia untuk kelas berat putri masih didominasi negara-negara dengan tradisi judo kuat seperti Jepang, Korea Selatan, dan Thailand.

Beban kini berpindah ke pundak atlet-atlet Indonesia lainnya yang masih tersisa di nomor berbeda. Mereka dituntut tampil lebih agresif agar kegagalan serupa tidak terulang pada hari-hari pertandingan berikutnya.

Analisis Redaksi

Kekalahan tipis melalui waza-ari membuktikan bahwa jarak kualitas antara judoka Indonesia dan rival-rivalnya di kawasan Asia sudah semakin menyempit. Indah Permatasari tidak dibantai habis-habisan oleh Thonthan Satjadet. Ia kalah oleh satu momen kelengahan teknis yang langsung dieksekusi sempurna oleh lawannya. Ini sinyal positif sekaligus peringatan keras bagi tim pelatih.

Yang perlu diwaspadai ke depan adalah kesiapan mental atlet saat menghadapi tekanan di menit-menit kritis. Kelas +78 kg menuntut daya tahan ekstra karena setiap kesalahan kecil langsung berbuah poin fatal. Federasi terkait mesti mengevaluasi ulang program sparring partner atlet pelatnas agar simulasi latihan benar-benar menyerupai intensitas pertandingan sesungguhnya.

Secara logis, langkah selanjutnya bagi tim judo Indonesia adalah membedah rekaman pertandingan ini secara detail bersama staf kepelatihan. Analisis biomekanik terhadap posisi tubuh Indah saat menerima bantingan waza-ari tersebut akan menjadi bahan krusial untuk memperbaiki pertahanan dasar sebelum turnamen internasional berikutnya digelar.

Meow! Tanya Nesi!
😸