Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

BPS: Harga Beras Naik di Semua Level pada September 2026, El Nino Jadi Pemicu Utama

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

BPS: Harga Beras Naik di Semua Level pada September 2026, El Nino Jadi Pemicu Utama
BAGIKAN:

Harga beras di Indonesia merangkak naik secara serentak di tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran sepanjang September 2026 akibat tekanan pasokan yang dipicu fenomena El Nino. Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi tren kenaikan tersebut sejalan dengan penurunan potensi luas panen dan produksi padi nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono membeberkan rincian angka kenaikan itu dalam konferensi pers resmi di Jakarta, Kamis (1/10). Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada bulan lalu tercatat naik 0,81 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan melonjak 6,04 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

"Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan September tahun 2026 naik 0,81 persen secara month-to-month dan naik 6,04 persen secara year-on-yearnya," ujar Ateng. Berdasarkan kualitas, beras premium mengalami kenaikan 0,81 persen mtm atau 10,52 persen yoy. Sementara itu, beras medium tercatat naik 0,87 persen mtm dan 4,72 persen yoy.

Tekanan dari hulu langsung merembet ke hilir. Di tingkat grosir, BPS mencatat inflasi beras sebesar 0,61 persen mtm atau 4,93 persen yoy. Sedangkan di tingkat eceran yang langsung dihadapi masyarakat, inflasi harga beras mencapai 0,80 persen mtm atau 3,73 persen yoy. Kenaikan beruntun ini menunjukkan rantai distribusi sedang menanggung beban pasokan yang ketat.

Akar masalahnya ada di lahan. Hasil pengamatan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) pada Agustus 2026 menunjukkan proporsi luas lahan yang berada dalam fase standing crop atau pertanaman padi hanya 28,07 persen. Ateng menjelaskan angka tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan periode Agustus pada tahun-tahun normal sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh dampak El Nino yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027 sehingga memengaruhi siklus budidaya dan potensi produksi padi nasional untuk periode September hingga November 2026.

Beban ini ujung-ujungnya jatuh ke tangan konsumen. Rumah tangga dengan pendapatan menengah ke bawah bakal merasakan daya beli tergerus karena beras adalah komponen utama pengeluaran pangan harian. "Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan," ungkap Ateng.

Analisis Redaksi

Kenaikan harga beras hingga dua digit secara tahunan untuk kategori premium bukanlah anomali musiman biasa. Angka 10,52 persen yoy mencerminkan defisit pasokan struktural yang sudah mulai terasa sejak beberapa bulan lalu. Ketika fase standing crop anjlok ke level 28,07 persen pada Agustus, pasar sebenarnya sudah menerima sinyal kelangkaan. Pedagang bereaksi cepat, dan data BPS membuktikan transmisi harga dari penggilingan ke meja makan terjadi tanpa hambatan berarti.

Yang patut diwaspadai adalah proyeksi cuaca itu sendiri. El Nino yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027 berarti masa kritis produksi padi belum akan berakhir dalam waktu dekat. Periode September hingga November 2026 menjadi jendela rawan karena petani kesulitan menjalankan siklus tanam secara optimal. Jika pemerintah tidak segera menghitung ulang neraca stok beras nasional berdasarkan data KSA terbaru, lonjakan harga di tingkat eceran bisa menembus batas psikologis yang memicu kepanikan pasar.

Langkah logis selanjutnya menuntut intervensi presisi. Opsi impor darurat mungkin kembali mengemuka sebagai penyangga jangka pendek, namun kebijakan itu harus dieksekusi sebelum harga grosir menarik inflasi umum lebih tinggi. Tanpa langkah konkret, peringatan Ateng soal dampak terhadap komoditas pangan hanya akan menjadi catatan statistik yang dibayar mahal oleh rakyat kecil.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ